Kementerian Kesehatan RI melalui Balai Litbangkes bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Metro melalui Sub-subtansi P2PM mengadakan paparan hasil survei Respon cepat Penularan Penyakit Demam Dengue , bertempat di OR Dinas Kesehatan Kota Metro, Kamis,14/12/2023.

Kementerian Kesehatan RI melalui Balai Litbangkes Baturaja di wakili Lasbudi Pertama Ambarita, M.Sc menyampaikan bahwa Angka Bebas Jentik (ABJ) digunakan sebagai indikator potensi terjangkitnya demam berdarah disuatu wilayah. Perhitungan ABJ dilakukan oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dengan cara membagi jumlah rumah yang bebas jentik dengan total rumah yang diperiksa. Semakin tinggi ABJ, semakin kecil kemungkinan diwilayah tersebut terjangkit kasus DBD. Semakin tinggi ABJ, berarti sedikit jumlah jentik yang diketemukan.
Lasbudi Pertama Ambarita menambahkan namun bukan berarti ABJ tinggi tapi kenapa masih saja terjadi banyak kasus DBD? Berbagai spekulasi terjadi, analisapun dilakukan. Mulai dari kemungkinan tergigit nyamuk ditempat lain. Ini dikuatkan dengan umur penderita yang dalam usia produktif yaitu rentang umur 5-14 tahun, 15 – 24 tahun dan 25 – 44 tahun masing-masing 4 penderita. Usia yang merupakan usia sekolah dan pekerja dengan mobilitas tinggi. Kemungkinan berikutnya adalah adanya jentik yang tidak diketemukan oleh Jumantik. Nyamuk memang hanya memerlukan genangan air minimal 5 mililiter untuk dapat meletakkan telur dan membiarkannya menetas menjadi jentik kemudian menjadi nyamuk dewasa. Apabila hal ini yang terjadi, Jumantik diminta agar mengintensifkan pemeriksaan untuk menemukan jentik nyamuk. Kemungkinan lain adalah ada tempat-tempat diluar rumah yang menjadi sarang nyamuk baik air got yang tergenang, sampai pada adanya sampah di tempat-tempat umum.

Lasbudi Pertama Ambarita mengatakan Berdasarkan data dari Survei Penularan Demam dengue di Kota Metro oleh Tim Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja
Kementerian Kesehatan RI, dari dua Kelurahan Yosomulyo dan Karangrejo di dapat Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 88,2% belum mencapai target nasionai yaitu ≥95%.
Lasbudi Pertama Ambarita juga menyampaikan bahwa Penyebaran nyamuk Aedes spp dipengaruhi oleh kepadatan penduduk. Jarak antara rumah mempengaruhi penyebaran nyamuk Aedes spp dari satu rumah ke rumah yang lain. Semakin dekat jarak antar rumah warga maka akan semakin mudah nyamuk Aedes spp menyebar dari rumah ke rumah karena jarak terbang nyamuk Aedes spp yaitu 100-200 meter,Penanggulangan DBD yang dapat dilakukan adalah dengan mengendalikan vektornya dengan menekan populasi nyamuk Aedes spp. Kepadatan jentik dapat diturunkan dengan meningkatkan upaya pengendalian populasi Aedes spp. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

Selain kepadatan penduduk Morbilitas manusia juga memberikan pengaruh terhadap penyebaran DBD, dimana setiap hari manusia berpindah tempat, termasuk berpindah wilayah endemis DBD melalui gigitan nyamuk Aedes spp. Nyamuk Aedes spp dapat memindahkan virus dengue durasi singkat di wilayah paddat penduduk. Kemampuan nyamuk Aedes spp untuk terbang pada radius lebih dari 100 meter memudahkan virus dengue berpindah ke manusia tentu ini menjadi sinyal bahaya bagi sebuah lokasi yang telah terdapat kasus DBD sebelumnya.
Dalam Kesempatan yang sama Subkordinator P2PM Surtini S.ST, menyampaikan upaya pencegahan penyakit demam berdarah (DBD) dengan menggerakan masyarakat untuk melakukan PSN 3M plus melalui G1R1J (Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik). Selain itu upaya larvasidasi dan juga deteksi dini DBD dengan RDT DBD di fasyankes.
Yang Harus dilakukan masyarakat dalam mencegah DBD adalah dengan menjadi juru pemantau jentik di wilayah tempat tinggal masing-masing.
Gerakan juru pemantau jentik tidak hanya dirumah tapi juga tempat umum, sekolah, perkantoran dll. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sehingga yang perlu diberantas secara rutin seminggu sekali adalah jentik nyamuk aedes aegepti,” “ungkap Surtini”
Masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit demam berdarah dengan melakukan PSN 3M dan G1R1J.
“Mari cegah keluarga dan kerabat kita dari demam berdarah. Kota Metro sehat, Indonesia kuat,” tutupnya.
Turut hadir dalam kegiatan ini Subkordinator P2PM Surtini S.ST, Subkordinator Subkoordinator Surveilans & Imunisasi Y.Jatmiko,SKM.,MKes , dan Subtansi Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro
Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro