Dinas Kesehatan Kota Metro memperkuat edukasi, promosi kesehatan, dan kewaspadaan dini setelah kasus campak dengan komplikasi pneumonia menegaskan bahwa penyakit ini juga bisa mematikan pada orang dewasa. Metro, Kamis, 2 April 2026 — Kasus kematian akibat campak yang disertai komplikasi pneumonia menjadi alarm keras bagi masyarakat untuk tidak lagi menganggap campak sebagai penyakit ringan. Dinas Kesehatan Kota Metro pun mengimbau warga agar lebih waspada, mengenali gejala sejak awal, dan segera memeriksakan diri sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, dr. Fitri Agustina, M.K.M, menegaskan bahwa campak bukan hanya penyakit anak, melainkan juga ancaman serius bagi orang dewasa. Menurutnya, gejala campak pada orang dewasa dapat muncul dalam bentuk demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, tubuh lemas, hingga ruam yang menyebar, dan dalam kondisi tertentu berujung pada komplikasi berat seperti pneumonia, radang otak, dehidrasi berat, bahkan kematian. “Kasus kematian akibat campak harus menjadi alarm bagi kita semua bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap sepele. Campak bukan hanya menyerang anak-anak, tetapi juga bisa mengenai orang dewasa dengan gejala yang lebih berat dan risiko komplikasi yang serius,” ujar dr. Fitri Agustina, M.K.M. Ia mengingatkan, masyarakat harus segera waspada bila mengalami kombinasi gejala seperti demam tinggi, batuk atau pilek, mata merah, dan ruam. Menurut dia, langkah cepat untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan sangat menentukan, bukan hanya untuk mencegah kondisi memburuk, tetapi juga untuk memutus penularan kepada orang lain. Dinas Kesehatan Kota Metro mencatat bahwa salah satu tantangan dalam pengendalian campak adalah tingginya daya tular penyakit ini. Penularan bahkan bisa terjadi sebelum ruam muncul, sehingga banyak kasus terlambat dikenali karena gejala awal sering dianggap seperti flu biasa. Untuk menekan risiko tersebut, Dinas Kesehatan Kota Metro telah memperkuat sejumlah langkah pencegahan. Upaya yang dilakukan antara lain penyebaran informasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai gejala campak, cara penularan, bahaya komplikasi, serta pentingnya deteksi dini dan vaksinasi. Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan juga didorong untuk meningkatkan kewaspadaan dini melalui pemantauan gejala, edukasi pasien, dan penanganan cepat terhadap kasus yang dicurigai. Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk menjalankan langkah pencegahan sederhana namun penting, seperti beristirahat dan melakukan isolasi di rumah saat sakit, menghindari kontak dekat dengan orang lain, menggunakan masker bila mengalami batuk atau pilek, menjaga etika batuk dan kebersihan tangan, serta memastikan vaksinasi campak atau MMR lengkap. “Kami tidak hanya mengimbau masyarakat untuk waspada, tetapi juga terus memperkuat edukasi dan promosi kesehatan agar informasi tentang campak benar-benar dipahami. Pencegahan harus dilakukan bersama, mulai dari mengenali gejala, tidak memaksakan aktivitas saat sakit, hingga melengkapi vaksinasi,” tambah dr. Fitri. Menurutnya, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci penting agar kasus campak tidak berkembang menjadi lebih berat dan tidak meluas di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik. Melalui imbauan ini, Dinas Kesehatan Kota Metro menegaskan bahwa campak bukan penyakit yang bisa dipandang remeh. Pada orang dewasa, campak dapat berkembang cepat, menular luas, dan menimbulkan komplikasi serius. Karena itu, mengenali gejala sejak dini, segera memeriksakan diri, dan menjalankan langkah pencegahan menjadi cara paling penting untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Gerak Cepat Menjangkau Sasaran, Tim PTM Terintegrasi CKG Puskesmas Banjarsari Skrining Guru di SDN 01 Banjarsari
Metro, Kamis, 2 April 2026 — Gerak cepat UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari dalam menjangkau sasaran pelayanan kembali ditunjukkan melalui kegiatan Skrining Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Terintegrasi CKG di SDN 01 Banjarsari, Metro Utara, Kamis (2/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah aktif puskesmas untuk memastikan layanan deteksi dini kesehatan tidak berhenti di fasilitas pelayanan, tetapi hadir langsung di lingkungan sasaran. Melalui pendekatan jemput bola, Puskesmas Banjarsari terus memperluas jangkauan pelayanan kesehatan primer, khususnya bagi kelompok usia produktif di lingkungan sekolah. Upaya ini penting karena faktor risiko penyakit tidak menular sering berkembang tanpa disadari, sementara pemeriksaan berkala kerap terabaikan di tengah aktivitas kerja sehari-hari. Tim pelaksana kegiatan terdiri atas Yasma Noprida, Amd.Kep, Ida Nuryanti, Amd.KG, Vetty Ardina, SKM, Lia Ajeng Novita, SKM, Fitri Handayani, A.Md, Eci Lindasari, SKM, dan Septiya Arina Putri, SH. Mereka turun langsung melaksanakan skrining sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, lebih cepat, dan lebih menyentuh kebutuhan masyarakat. Berbeda dari pelayanan pasif yang menunggu masyarakat datang, pola kerja Tim PTM Terintegrasi CKG menempatkan puskesmas sebagai garda terdepan yang aktif menjangkau sasaran. Sekolah menjadi salah satu titik penting karena merupakan lingkungan produktif yang membutuhkan dukungan kesehatan berkelanjutan agar aktivitas pendidikan berjalan optimal. Yasma Noprida, Amd.Kep selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa skrining kesehatan di sekolah menjadi langkah nyata untuk memperluas cakupan layanan sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya deteksi dini. “Kami ingin memastikan seluruh sasaran bisa terjangkau pelayanan kesehatan. Karena itu, tim bergerak langsung ke lapangan agar faktor risiko dapat diketahui lebih awal dan tindak lanjut bisa segera dilakukan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari, dr. Balkis, menegaskan bahwa gerak cepat tim di lapangan merupakan bagian dari wajah pelayanan kesehatan primer yang terus diperkuat. “Puskesmas harus hadir lebih dekat dengan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memastikan upaya promotif dan preventif berjalan nyata, sehingga masyarakat tidak hanya datang saat sakit, tetapi juga semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini,” kata dr. Balkis. Ia menambahkan, perluasan jangkauan skrining ke lingkungan sekolah menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan saat ini harus dibangun dengan pendekatan yang aktif, responsif, dan berorientasi pada pencegahan. Dengan cara itu, puskesmas tidak hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tetapi juga menjadi penggerak budaya hidup sehat di tengah masyarakat. Melalui kegiatan di SDN 01 Banjarsari ini, UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari menegaskan komitmennya untuk terus menjangkau seluruh sasaran pelayanan secara bertahap. Gerak cepat Tim PTM Terintegrasi CKG diharapkan mampu memperkuat kehadiran puskesmas sebagai mitra kesehatan masyarakat yang aktif menjaga, memantau, dan melindungi kesehatan warga sejak dini. Kontributor Liputan : Promkes_Eci Lindasari,SKM
Puskesmas Banjarsari Perkuat Layanan Preventif melalui Skrining Kesehatan Guru di SDN 02 Banjarsari
Metro, Rabu, 1 April 2026 — Tim UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari melaksanakan kegiatan Skrining Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Terintegrasi CKG bagi para guru di SDN 02 Banjarsari, Metro Utara, Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pelayanan promotif dan preventif di wilayah kerja puskesmas, sekaligus upaya deteksi dini faktor risiko kesehatan pada kelompok usia produktif di lingkungan satuan pendidikan. Skrining kesehatan tersebut meliputi wawancara singkat riwayat kesehatan, pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, lingkar perut, skrining faktor risiko penyakit tidak menular, serta edukasi kesehatan sesuai kebutuhan pelayanan. Langkah ini dinilai penting untuk membantu mendeteksi lebih awal berbagai faktor risiko kesehatan yang dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup tenaga pendidik. Kegiatan dilaksanakan oleh tim skrining UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari yang terdiri atas Yasma Noprida, Amd.Kep, dr. Mirza Radiani Lusiananda, Ida Nuryanti, Amd.KG, Eci Lindasari, SKM, Lia Ajeng Novita, SKM, Devia Rahmawati Hidayah, A.Md.Kep, dan Fitri Handayani, A.Md. Yasma Noprida, Amd.Kep selaku penanggung jawab kegiatan mengungkapkan bahwa skrining kesehatan di sekolah merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan primer, khususnya bagi kelompok usia produktif yang sering kali belum menyadari adanya faktor risiko penyakit. “Melalui skrining ini, kami ingin membantu mendeteksi lebih awal kondisi kesehatan para guru, sehingga jika ditemukan faktor risiko, dapat segera dilakukan edukasi, pemantauan, dan tindak lanjut. Guru memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, sehingga kesehatannya juga perlu mendapat perhatian,” ujarnya. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari, dr. Balkis, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen puskesmas dalam memperkuat pelayanan kesehatan primer yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya pencegahan dan deteksi dini. Menurutnya, sekolah menjadi salah satu lokasi penting dalam pelaksanaan skrining kesehatan karena di lingkungan tersebut terdapat kelompok sasaran produktif yang membutuhkan perhatian kesehatan secara berkelanjutan. Ia menegaskan, pendekatan promotif dan preventif harus terus diperkuat agar masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. “Kami terus mendorong agar pelayanan kesehatan primer hadir lebih dekat dengan masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Skrining kesehatan seperti ini penting untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi kesehatan sejak dini, sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” kata dr. Balkis. Pelaksanaan skrining kesehatan di SDN 02 Banjarsari juga menunjukkan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan pendidikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. Melalui kegiatan ini, para guru tidak hanya memperoleh pemeriksaan dasar, tetapi juga pemahaman lebih baik tentang pentingnya menjaga kesehatan di tengah aktivitas dan beban kerja sehari-hari. UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai sekolah dan institusi lain di wilayah kerjanya, sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan yang lebih aktif, terjangkau, dan berorientasi pada pencegahan. Kontributor Liputan : Promkes_Eci Lindasari,SKM
Sekilas Terlihat Sehat, Tapi Angka Bisa Bicara. SDIDTK Puskesmas Banjarsari di TK Al Qodim
Petugas Puskesmas Banjarsari melaksanakan kunjungan lapangan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak pra sekolah melalui kegiatan SDIDTK di TK Al Qodim, Rabu 04 Februari 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan pertumbuhan anak sesuai usia, sekaligus mendeteksi dini potensi masalah perkembangan sejak usia pra sekolah. Dalam kegiatan tersebut, petugas melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan pada anak. Hasil pengukuran kemudian digunakan untuk perhitungan status gizi. Langkah ini membantu petugas mengidentifikasi anak dengan pertumbuhan normal maupun anak yang memerlukan pemantauan lebih lanjut. Selain pemeriksaan pertumbuhan, petugas juga melakukan skrining perkembangan anak. Skrining mencakup aspek motorik kasar, motorik halus, bahasa, serta sosial dan kemandirian. Pemeriksaan ini bertujuan menangkap tanda awal keterlambatan perkembangan agar stimulasi dan tindak lanjut dapat diberikan lebih cepat. Pada rangkaian yang sama, petugas memberikan vitamin A dan obat cacing sesuai sasaran. Pemberian dilakukan dengan pencatatan agar tepat sasaran dan mendukung pemantauan program. Kegiatan SDIDTK di sekolah dinilai efektif karena anak hadir dalam waktu yang sama sehingga pemeriksaan berjalan lebih terarah. Guru juga dapat ikut mengamati proses skrining, sementara orang tua memperoleh informasi berbasis hasil ukur yang jelas dan dapat ditindaklanjuti. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, mengungkapkan bahwa kegiatan SDIDTK di sekolah menjadi langkah penting untuk memastikan anak-anak mendapat pemantauan yang merata. Menurutnya, pemeriksaan langsung di sekolah membantu menemukan tanda risiko lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, baik melalui edukasi, pemantauan ulang, maupun rujukan jika diperlukan. Petugas Puskesmas Banjarsari yang melaksanakan kegiatan di TK Al Qodim yaitu Ns. Dwi Endarwati Ningsih, S.ST, Eci Lindasari, SKM, Shera Artina, S.Gz, dan Pradita Nugrahini, S.Tr.Keb. Tim bertugas pada pos pengukuran, pencatatan, skrining, serta edukasi singkat kepada pihak sekolah. Melalui kegiatan ini, Puskesmas Banjarsari mendorong deteksi dini sebagai langkah pencegahan. Anak dengan hasil normal tetap dipantau secara berkala, sementara anak yang teridentifikasi berisiko akan diarahkan untuk pendampingan dan pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan. Kontributor Liputan ; Promkes_ Eci Lindasari
Puskesmas Banjarsari Perluas Layanan, 198 Karyawan PT Sinar Jaya Jalani Skrining Kesehatan Langkah Deteksi Dini Hipertensi dan Diabetes, Pintu Masuk Utama Penyakit Kronis Mematikan
Puskesmas Banjarsari Masuk ke Lingkungan Kerja, 198 Karyawan PT Sinar Jaya Inti Mulya Jalankan Skrining Risiko Hipertensi dan Diabetes METRO. Puskesmas Banjarsari, Kota Metro, tidak menunggu warga datang saat sudah sakit. Tim layanan primer ini justru masuk ke lingkungan kerja untuk memotong keterlambatan deteksi penyakit tidak menular yang selama ini menjadi penyumbang beban layanan kesehatan. Selama dua hari pelaksanaan, Sabtu 10 Januari 2026 dan dilanjutkan Senin 12 Januari 2026, sebanyak 198 karyawan PT Sinar Jaya Inti Mulya di Kecamatan Metro Utara mengikuti skrining kesehatan yang difasilitasi Puskesmas Banjarsari. Paket pemeriksaan yang dibawa puskesmas tidak sekadar formalitas. Tim melakukan pengukuran tekanan darah, tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut untuk memetakan faktor risiko metabolik. Pemeriksaan labor sederhana juga dilakukan melalui cek kolesterol, asam urat, dan gula darah. Pada saat yang sama, layanan kesehatan mata dan gigi disediakan untuk menangkap keluhan yang sering diabaikan karena jam kerja padat. PJ Penyakit Tidak Menular Puskesmas Banjarsari, Yasma Noprida, Amd.Kep, menegaskan skrining di tempat kerja dirancang untuk memastikan kondisi kesehatan pekerja terpantau. Bukan hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas. “Tujuan skrining ini agar kesehatan karyawan benar-benar diketahui. Kalau karyawan sehat, produktivitas juga terjaga,” ujar Yasma. Pernyataan itu sejalan dengan fokus layanan primer yang saat ini menitikberatkan pencegahan dan pengendalian PTM. dr. Zenny Efnita selaku penanggung jawab PJ Kluster menyebut deteksi dini menjadi kunci karena hipertensi dan diabetes melitus kerap berjalan tanpa gejala awal, namun memicu komplikasi berat jika terlambat ditangani. “Hipertensi dan diabetes melitus sering tidak disadari. Ini bisa berujung komplikasi. Karena itu deteksi dini penting sebagai implementasi program pemerintah dalam pengendalian penyakit tidak menular,” kata dr. Zenny. Ia menambahkan hipertensi sering disebut silent killer karena tekanan darah bisa tinggi tanpa keluhan, sementara diabetes melitus juga kerap diketahui saat sudah muncul keluhan lanjutan. Di lapangan, hasil pemeriksaan tidak berhenti di angka. Tim puskesmas mencatat dan mengelompokkan temuan untuk menentukan tindak lanjut. Peserta dengan hasil di luar batas normal diarahkan untuk kontrol, pemeriksaan lanjutan, dan edukasi perubahan gaya hidup. Pendekatan ini menempatkan puskesmas bukan sebagai “tempat berobat”, tetapi sebagai penggerak pencegahan yang aktif membangun kepatuhan kontrol, pola makan sehat, dan aktivitas fisik pada kelompok usia produktif. Kepala Puskesmas Banjarsari Kota Metro, dr. Balkis, menyampaikan skrining di lokasi kerja adalah bentuk perluasan jangkauan layanan agar akses menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Puskesmas, kata dia, harus hadir di ruang yang paling dekat dengan aktivitas masyarakat. Dengan model jemput bola, pekerja tidak perlu menunggu waktu luang atau menunda pemeriksaan, sementara puskesmas dapat memetakan risiko lebih dini. Dari pihak perusahaan, Humas PT Sinar Jaya Inti Mulya, Pingkan Hendrawan, menyampaikan apresiasi atas fasilitasi pemeriksaan tersebut. “Sebanyak 198 karyawan mengikuti kegiatan ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Banjarsari yang telah memfasilitasi cek kesehatan. Ini membantu karyawan mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini,” ujar Pingkan. Kegiatan dua hari ini memperlihatkan arah layanan kesehatan primer yang semakin tegas. Puskesmas Banjarsari menempatkan skrining sebagai pintu masuk pengendalian PTM, bukan kegiatan seremonial. Ketika pemeriksaan rutin masuk ke tempat kerja, risiko hipertensi dan diabetes bisa ditemukan lebih cepat, tindak lanjut lebih terarah, dan beban komplikasi di kemudian hari bisa ditekan. Ini juga menguatkan pesan bahwa perlindungan kesehatan pekerja tidak hanya urusan perusahaan, tetapi bagian dari tugas layanan publik yang harus hadir sebelum sakit datang. Kontributor: Promkes_Eci Lindasari,SKM
BRI BO Metro dan YBM BRILiaN Salurkan Bantuan Pendidikan, Sembako, dan Apresiasi Kader di Metro Utara
METRO – Yayasan Baitul Maal BRILiaN Regional Office Bandar Lampung melaksanakan Exit Program Cegah Stunting Tahun 2025 di Gedung Aula Kelurahan Banjarasari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Rabu, 24 Desember 2025. Program ini mencatat penurunan kasus stunting dan perbaikan status gizi balita secara terukur. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST, M.Kes, berhalangan hadir dan diwakili Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kota Metro, Desy Eva Rohmawati, SKM, MM. Ia menegaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan intervensi berkelanjutan. Desy menyampaikan bahwa berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kota Metro tercatat 14,8 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan. Namun, percepatan tetap memerlukan penguatan deteksi dini, edukasi, dan intervensi gizi di tingkat masyarakat. “Upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu melalui posyandu, pendampingan ibu hamil dan balita, serta intervensi yang tepat sasaran,” ujarnya. Pemerintah Kecamatan Metro Utara menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Camat Metro Utara yang diwakili Sekretaris Camat Basuki Rahmat menegaskan bahwa stunting merupakan masalah nasional yang tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja. Menurut Basuki Rahmat, keberhasilan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Ia menilai keterlibatan YBM BRILiaN menjadi contoh nyata peran sektor non-pemerintah dalam mendukung program kesehatan. “Kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan agar target penurunan stunting dapat tercapai secara berkelanjutan,” katanya. Kegiatan ini juga dihadiri Pemimpin Cabang BRI BO Metro, Jamali, serta perwakilan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung, Amir. Pemimpin Cabang BRI BO Metro, Jamali, menegaskan bahwa BRI berkomitmen menyalurkan dana zakat dan infak pegawai melalui program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Melalui YBM BRILiaN, BRI menyalurkan bantuan pendidikan, sembako, serta apresiasi kepada kader. Kami ingin kehadiran BRI benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Jamali. Dalam kegiatan tersebut, YBM BRILiaN menyalurkan bantuan paket pendidikan kepada 20 anak SD Negeri 1 Metro Utara. Bantuan ini diharapkan dapat membantu kebutuhan sekolah anak sekaligus mendorong semangat belajar. Selain bantuan pendidikan, BRI melalui YBM BRILiaN juga memberikan bantuan sembako kepada masyarakat penerima manfaat serta apresiasi kepada para kader yang aktif mendampingi program di tingkat kelurahan. Lurah Banjarasari Nila Kusumawati, S.IP, M.Si, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kontribusi BRI serta YBM BRILiaN terhadap warganya. “Kami sangat berterima kasih kepada BRI dan YBM BRILiaN. Bantuan pendidikan, sembako, dan perhatian kepada kader sangat membantu masyarakat Banjarasari,” kata Nila Kusumawati. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Banjarasari, dr. Balkis, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada YBM BRILiaN atas dukungan yang diberikan melalui Program Cegah Stunting. “Program ini sangat membantu upaya puskesmas dalam meningkatkan status gizi balita. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya. Ia berharap kolaborasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan YBM BRILiaN dapat terus berlanjut agar upaya pencegahan stunting berjalan konsisten dan berkesinambungan. Perwakilan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung, Amir, menjelaskan bahwa seluruh bantuan tersebut bersumber dari zakat dan infak pegawai BRI yang dikelola secara amanah. “Program ini merupakan bagian dari lima pilar YBM BRILiaN. Total dana yang disalurkan mencapai Rp100 juta untuk wilayah Metro dan Bandar Lampung,” jelas Amir. Melalui kegiatan ini, BRI BO Metro dan YBM BRILiaN menegaskan peran sektor perbankan sebagai mitra pembangunan sosial yang hadir langsung dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kontributor Liputan:Eci Lindasari, SKM
Program Cegah Stunting YBM BRILiaN Berhasil, Puluhan Balita Metro Alami Perbaikan Gizi
METRO – Yayasan Baitul Maal BRILiaN Regional Office Bandar Lampung melaksanakan Exit Program Cegah Stunting Tahun 2025 di Gedung Aula Kelurahan Banjarasari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Rabu, 24 Desember 2025. Program ini mencatat penurunan kasus stunting dan perbaikan status gizi balita secara terukur. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST, M.Kes, berhalangan hadir dan diwakili Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kota Metro, Desy Eva Rohmawati, SKM, MM. Ia menegaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan intervensi berkelanjutan. Desy menyampaikan bahwa berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kota Metro tercatat 14,8 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan. Namun percepatan tetap memerlukan penguatan deteksi dini, edukasi, dan intervensi gizi di tingkat masyarakat. “Upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu melalui posyandu, pendampingan ibu hamil dan balita, serta intervensi yang tepat sasaran,” ujarnya. Pemerintah Kecamatan Metro Utara menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Camat Metro Utara yang diwakili Sekretaris Camat Basuki Rahmat menegaskan bahwa stunting merupakan masalah nasional yang tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja. Menurut Basuki Rahmat, keberhasilan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Ia menilai keterlibatan YBM BRILiaN menjadi contoh nyata peran sektor non-pemerintah dalam mendukung program kesehatan. “Kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan agar target penurunan stunting dapat tercapai secara berkelanjutan,” katanya. Fasilitator Kesehatan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung, Shera Artina, S.Gz, menjelaskan bahwa program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) menyasar 40 balita usia 6 hingga 59 bulan. Rinciannya, 25 balita berasal dari Kelurahan Banjarasari dan 15 balita dari Kelurahan Purwosari. Hasil pemantauan menunjukkan 34 balita mengalami kenaikan berat badan sesuai target, sementara 6 balita belum mencapai target. Data awal mencatat 29 balita dengan status gizi berat badan kurang. Setelah intervensi PMT selama 90 hari, jumlah tersebut turun menjadi 21 balita. Kasus stunting juga menurun dari 27 balita menjadi 20 balita. Sementara itu, jumlah balita dengan kondisi gizi kurang atau wasting berkurang dari 17 balita menjadi 12 balita. Shera menyebutkan bahwa intervensi gizi yang disertai pendampingan dan edukasi memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi balita. Selain intervensi kesehatan, YBM BRILiaN juga menyalurkan bantuan paket pendidikan kepada 20 siswa SD Negeri 1 Metro Utara sebagai bagian dari pendekatan holistik terhadap tumbuh kembang anak. Kegiatan ini turut dihadiri Lurah Banjarasari Nila Kusumawati, S.IP, M.Si, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Pimpinan Cabang BRI BO Metro Jamali menyampaikan komitmen BRI dalam mendukung program sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sementara perwakilan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung Amir menjelaskan bahwa program ini dibiayai dari pengelolaan zakat dan infak pegawai BRI melalui lima pilar program, yaitu pendidikan, ekonomi, kesehatan, dakwah, dan sosial kemanusiaan. Program Cegah Stunting YBM BRILiaN berfokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan melalui intervensi gizi, pemberian PMT, edukasi, serta pendampingan fasilitator kesehatan. Total penyaluran dana dalam program ini mencapai Rp100 juta, bersumber dari zakat dan infak pegawai BRI di wilayah Metro dan Bandar Lampung. Kepala UPTD Puskesmas Banjarasari, dr. Balkis, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada YBM BRILiaN atas dukungan yang diberikan melalui Program Cegah Stunting. “Program ini sangat membantu upaya puskesmas dalam meningkatkan status gizi balita. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya. Ia berharap kolaborasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan YBM BRILiaN dapat terus berlanjut agar upaya pencegahan stunting berjalan konsisten dan berkesinambungan. Kontributor Liputan : Eci Lindasari,SKM
Akhir 2025 Bukan Seremonial, Asesmen Kader Posyandu Menjadi Tolok Ukur Kesiapan 2026
Banjarsari, Rabu 17 Desember 2025Asesmen kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dilaksanakan Puskesmas Banjarsari pada Rabu (17/12/2025) menjadi penanda akhir rangkaian panjang pembinaan kader kesehatan sepanjang tahun 2025. Kegiatan ini menutup proses peningkatan kapasitas kader yang selama setahun terakhir difokuskan pada penguatan peran Posyandu sebagai simpul utama layanan kesehatan primer di tingkat komunitas. Berbeda dari asesmen yang bersifat awal, penilaian ini berfungsi sebagai evaluasi akhir untuk mengukur sejauh mana pembinaan, pelatihan, dan pendampingan yang telah dilakukan benar-benar membentuk kecakapan kader di lapangan. Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan 25 kompetensi dasar yang menjadi fondasi pelaksanaan Integrasi Layanan Primer. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr Balkis, menyampaikan bahwa asesmen ini menjadi cermin kinerja pembinaan kader selama satu tahun penuh.“Ini bukan sekadar menilai kader hari ini, tetapi membaca hasil proses panjang pembinaan sepanjang 2025. Dari sini kami bisa melihat apakah Posyandu sudah siap menjalankan peran layanan primer secara utuh,” ujar dr Balkis. Dalam asesmen tersebut, kader diuji melalui praktik langsung dan simulasi pelayanan yang mencerminkan situasi nyata di Posyandu. Penilaian dilakukan secara rinci menggunakan daftar tilik, mulai dari ketepatan pencatatan dan pelaporan, kemampuan komunikasi edukatif, hingga keterampilan teknis seperti pengukuran antropometri dan skrining awal faktor risiko penyakit tidak menular. Hasil asesmen selanjutnya digunakan untuk menetapkan strata kecakapan kader, yakni Purwa, Madya, dan Utama. Stratifikasi ini menjadi dasar penataan peran kader pada tahun berikutnya, sekaligus bahan perencanaan pembinaan lanjutan agar penguatan kapasitas lebih terarah dan berbasis kebutuhan nyata. Menurut dr Balkis, asesmen penutup tahun ini juga menjadi momentum konsolidasi peran kader dan tenaga kesehatan.“Integrasi layanan primer hanya bisa berjalan jika kader dan tenaga kesehatan bergerak dalam satu ritme. Asesmen ini memastikan standar pelayanan yang sama sebelum memasuki tahun berikutnya,” katanya. Dengan berakhirnya asesmen kader Posyandu ILP ini, Puskesmas Banjarsari menegaskan komitmennya untuk menjadikan Posyandu sebagai layanan kesehatan masyarakat yang aktif, responsif, dan berkesinambungan. Evaluasi akhir tahun ini diharapkan menjadi pijakan kuat untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat pada 2026 Kontributor Liputan : Eci Lindasari
Mengapa Banyak Warga Merasa Rezekinya Seret? Ini Temuan dari Pendampingan Emosional di Puskesmas
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat – Puskesmas Banjarsari, Rabu 26 November 2025 Puskesmas Banjarsari menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dihadiri puluhan ibu-ibu, kader kesehatan, dan warga lanjut usia. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Pada kesempatan ini, tim Puskesmas memberikan sosialisasi mengenai manajemen stres dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan hidup, termasuk keluhan warga tentang rezeki yang terasa “seret”, bertempat di salah satu rumah kader posyandu. Kegiatan ini menjadi bagian dari inovasi Puskesmas Banjarsari yaitu Konseling Curhat Sehat, sebuah program pendampingan emosional yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Pernyataan Kepala Puskesmas Banjarsari Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menyampaikan perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam pelayanan kesehatan primer. Menurut beliau: “Banyak warga yang datang dengan keluhan fisik, namun ketika digali, ternyata akarnya adalah kelelahan emosional. Pendampingan seperti ini penting agar masyarakat memiliki ruang aman untuk bercerita, memahami stresnya, dan belajar mengelola tekanan hidup secara lebih sehat. Pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya menyentuh tubuh, tetapi juga hati dan pikiran.” dr. Balkis menegaskan bahwa Puskesmas Banjarsari akan terus menghadirkan edukasi dan dukungan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan Emosional sebagai Pendekatan Baru Pendampingan emosional yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat untuk membantu individu mengenali emosi, memahami sumber stres, dan mengembangkan strategi sederhana dalam mengelola tekanan psikososial. Pendekatan ini bersifat non-terapeutik, edukatif, dan dilakukan dalam batas kompetensi tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas. Melalui pendekatan ini, warga memperoleh pemahaman dasar mengenai tekanan emosional yang sering kali tidak disadari, tetapi berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari. Temuan dari Lapangan: Stres dan Rezeki yang Terasa Terhambat Dalam dialog bersama peserta, terlihat pola serupa: banyak warga yang merasakan rezekinya “seret” bukan semata karena faktor ekonomi, tetapi dipengaruhi oleh beban mental yang tidak tertangani. Keluhan yang muncul meliputi: Sebagian besar warga mengaku memendam stres sendirian tanpa memiliki tempat aman untuk bercerita. Beban ini membuat pikiran mudah keruh, tubuh cepat lelah, dan semangat kerja menurun. Mengapa Stres Mempengaruhi Kelancaran Rezeki Dalam sesi Curhat Sehat dijelaskan bahwa stres dapat memengaruhi: Program Curhat Sehat menjadi sarana yang membantu warga memahami dirinya. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan empatik dan tidak menghakimi. Banyak peserta yang mengaku merasakan kelegaan setelah bercerita dan mendapatkan perspektif baru mengenai situasi hidup mereka. Ketika emosi tidak stabil, kualitas hidup ikut menurun. Hal ini memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, serta pola keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan ekonomi keluarga. Ruang Aman untuk Mengurai Beban Batin Beberapa warga bahkan menyampaikan bahwa setelah memahami emosinya, mereka mulai lebih tenang, lebih teratur, dan lebih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan pikiran jernih. Ketika Emosi Pulih, Hidup Ikut Lebih Terbuka Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kebutuhan aktual warga dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pendampingan emosional di Puskesmas Banjarsari menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada kondisi fisik, tetapi juga pada ketenangan batin dan keseimbangan emosi. Dengan menyediakan ruang aman melalui program Konseling Curhat Sehat, Puskesmas berupaya membantu masyarakat mengelola stres, memperbaiki kualitas hidup, dan mendukung kesejahteraan keluarga secara menyeluruh. Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kebutuhan aktual warga dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Konseling Curhat Sehat Jadi Ruang Baru Warga Kota Metro Mengelola Kecemasan dan Isu Sosial
Warga Semakin Rentan Terpengaruh Isu, Layanan Konseling Puskesmas Banjarsari Jadi Rujukan Metro, Lampung — Fenomena warga yang mudah terpengaruh isu, rumor, dan komentar sosial menjadi perhatian layanan Konseling Curhat Sehat di Puskesmas Banjarsari. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah warga yang datang dengan keluhan terkait kecemasan akibat “isu sosial” meningkat cukup signifikan. Konselor Curhat Sehat menyebut bahwa masalah yang muncul bukan hanya berkaitan dengan kurangnya informasi, tetapi berkaitan erat dengan pola psikologis masyarakat yang semakin sensitif terhadap tekanan sosial. “Kami mendapati banyak warga yang datang bukan karena masalah fisik, tetapi karena gelisah terhadap kabar atau perkataan orang. Mereka merasa takut, cemas, dan sering kali tidak punya tempat aman untuk memeriksa kebenaran informasi itu,” kata Konselor Curhat Sehat, Selasa, 25 November 2025 Menurutnya, kerentanan warga terhadap isu dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu lemahnya penyaringan informasi, ketidakstabilan emosi, dan minimnya kebiasaan berpikir kritis. Ketiganya muncul sebagai kombinasi yang membuat masyarakat mudah terseret arus rumor, terutama yang bernada negatif. “Sebagian warga memiliki filter sosial yang tipis sehingga apa pun yang didengar langsung diterima tanpa disaring. Sementara kemampuan regulasi emosinya juga belum stabil, sehingga informasi kecil bisa memicu kecemasan besar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus, warga yang mudah terseret isu bukanlah orang yang lemah atau tidak cerdas. Sebaliknya, mereka memiliki kepribadian sensitif, peduli, dan sangat memperhatikan lingkungan sosialnya. Namun tanpa pengelolaan emosi yang baik, kondisi itu membuat mereka semakin mudah terpengaruh. Fenomena mental ini juga dipengaruhi oleh tekanan sosial dari media digital yang terus berkembang. Arus informasi yang cepat membuat masyarakat tidak memiliki waktu cukup untuk memverifikasi kabar yang diterimanya. “Ketahanan psikologis perlu dibangun. Yang diperlukan bukan menutup telinga, tetapi menguatkan pikiran agar mampu memeriksa informasi dengan tenang,” tambahnya. Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, Puskesmas Banjarsari menghadirkan layanan Konseling Curhat Sehat sebagai ruang aman bagi warga untuk bercerita, memperoleh edukasi psikososial, dan mendapatkan pendampingan emosional. Layanan ini menggabungkan pendekatan psikologi spiritual, konseling emosional, dan teknik grounding yang membantu warga meredakan kecemasan. Keluhan yang paling sering muncul antara lain kecemasan akibat gosip lingkungan, rasa takut dinilai orang lain, tekanan keluarga, hingga dampak rumor yang tidak memiliki bukti jelas. “Satu per satu warga mulai memahami bahwa tidak semua informasi harus dipercaya, dan tidak semua bisikan harus ditanggapi. Kami membantu mereka menemukan kembali ketenangan serta kemampuan memilah informasi,” katanya. Puskesmas Banjarsari berharap layanan ini dapat memperkuat ketahanan mental masyarakat, mengurangi konflik sosial berbasis isu, serta membantu warga menjalani kehidupan yang lebih sehat baik secara fisik maupun emosional.

