Metro, Kamis, 2 April 2026 — Gerak cepat UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari dalam menjangkau sasaran pelayanan kembali ditunjukkan melalui kegiatan Skrining Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Terintegrasi CKG di SDN 01 Banjarsari, Metro Utara, Kamis (2/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah aktif puskesmas untuk memastikan layanan deteksi dini kesehatan tidak berhenti di fasilitas pelayanan, tetapi hadir langsung di lingkungan sasaran. Melalui pendekatan jemput bola, Puskesmas Banjarsari terus memperluas jangkauan pelayanan kesehatan primer, khususnya bagi kelompok usia produktif di lingkungan sekolah. Upaya ini penting karena faktor risiko penyakit tidak menular sering berkembang tanpa disadari, sementara pemeriksaan berkala kerap terabaikan di tengah aktivitas kerja sehari-hari. Tim pelaksana kegiatan terdiri atas Yasma Noprida, Amd.Kep, Ida Nuryanti, Amd.KG, Vetty Ardina, SKM, Lia Ajeng Novita, SKM, Fitri Handayani, A.Md, Eci Lindasari, SKM, dan Septiya Arina Putri, SH. Mereka turun langsung melaksanakan skrining sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, lebih cepat, dan lebih menyentuh kebutuhan masyarakat. Berbeda dari pelayanan pasif yang menunggu masyarakat datang, pola kerja Tim PTM Terintegrasi CKG menempatkan puskesmas sebagai garda terdepan yang aktif menjangkau sasaran. Sekolah menjadi salah satu titik penting karena merupakan lingkungan produktif yang membutuhkan dukungan kesehatan berkelanjutan agar aktivitas pendidikan berjalan optimal. Yasma Noprida, Amd.Kep selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa skrining kesehatan di sekolah menjadi langkah nyata untuk memperluas cakupan layanan sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya deteksi dini. “Kami ingin memastikan seluruh sasaran bisa terjangkau pelayanan kesehatan. Karena itu, tim bergerak langsung ke lapangan agar faktor risiko dapat diketahui lebih awal dan tindak lanjut bisa segera dilakukan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari, dr. Balkis, menegaskan bahwa gerak cepat tim di lapangan merupakan bagian dari wajah pelayanan kesehatan primer yang terus diperkuat. “Puskesmas harus hadir lebih dekat dengan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memastikan upaya promotif dan preventif berjalan nyata, sehingga masyarakat tidak hanya datang saat sakit, tetapi juga semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini,” kata dr. Balkis. Ia menambahkan, perluasan jangkauan skrining ke lingkungan sekolah menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan saat ini harus dibangun dengan pendekatan yang aktif, responsif, dan berorientasi pada pencegahan. Dengan cara itu, puskesmas tidak hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tetapi juga menjadi penggerak budaya hidup sehat di tengah masyarakat. Melalui kegiatan di SDN 01 Banjarsari ini, UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari menegaskan komitmennya untuk terus menjangkau seluruh sasaran pelayanan secara bertahap. Gerak cepat Tim PTM Terintegrasi CKG diharapkan mampu memperkuat kehadiran puskesmas sebagai mitra kesehatan masyarakat yang aktif menjaga, memantau, dan melindungi kesehatan warga sejak dini. Kontributor Liputan : Promkes_Eci Lindasari,SKM
Puskesmas Banjarsari Perkuat Layanan Preventif melalui Skrining Kesehatan Guru di SDN 02 Banjarsari
Metro, Rabu, 1 April 2026 — Tim UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari melaksanakan kegiatan Skrining Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Terintegrasi CKG bagi para guru di SDN 02 Banjarsari, Metro Utara, Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pelayanan promotif dan preventif di wilayah kerja puskesmas, sekaligus upaya deteksi dini faktor risiko kesehatan pada kelompok usia produktif di lingkungan satuan pendidikan. Skrining kesehatan tersebut meliputi wawancara singkat riwayat kesehatan, pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, lingkar perut, skrining faktor risiko penyakit tidak menular, serta edukasi kesehatan sesuai kebutuhan pelayanan. Langkah ini dinilai penting untuk membantu mendeteksi lebih awal berbagai faktor risiko kesehatan yang dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup tenaga pendidik. Kegiatan dilaksanakan oleh tim skrining UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari yang terdiri atas Yasma Noprida, Amd.Kep, dr. Mirza Radiani Lusiananda, Ida Nuryanti, Amd.KG, Eci Lindasari, SKM, Lia Ajeng Novita, SKM, Devia Rahmawati Hidayah, A.Md.Kep, dan Fitri Handayani, A.Md. Yasma Noprida, Amd.Kep selaku penanggung jawab kegiatan mengungkapkan bahwa skrining kesehatan di sekolah merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan primer, khususnya bagi kelompok usia produktif yang sering kali belum menyadari adanya faktor risiko penyakit. “Melalui skrining ini, kami ingin membantu mendeteksi lebih awal kondisi kesehatan para guru, sehingga jika ditemukan faktor risiko, dapat segera dilakukan edukasi, pemantauan, dan tindak lanjut. Guru memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, sehingga kesehatannya juga perlu mendapat perhatian,” ujarnya. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari, dr. Balkis, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen puskesmas dalam memperkuat pelayanan kesehatan primer yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya pencegahan dan deteksi dini. Menurutnya, sekolah menjadi salah satu lokasi penting dalam pelaksanaan skrining kesehatan karena di lingkungan tersebut terdapat kelompok sasaran produktif yang membutuhkan perhatian kesehatan secara berkelanjutan. Ia menegaskan, pendekatan promotif dan preventif harus terus diperkuat agar masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. “Kami terus mendorong agar pelayanan kesehatan primer hadir lebih dekat dengan masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Skrining kesehatan seperti ini penting untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi kesehatan sejak dini, sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” kata dr. Balkis. Pelaksanaan skrining kesehatan di SDN 02 Banjarsari juga menunjukkan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan pendidikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. Melalui kegiatan ini, para guru tidak hanya memperoleh pemeriksaan dasar, tetapi juga pemahaman lebih baik tentang pentingnya menjaga kesehatan di tengah aktivitas dan beban kerja sehari-hari. UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai sekolah dan institusi lain di wilayah kerjanya, sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan yang lebih aktif, terjangkau, dan berorientasi pada pencegahan. Kontributor Liputan : Promkes_Eci Lindasari,SKM
Puskesmas Banjarsari Perluas Layanan, 198 Karyawan PT Sinar Jaya Jalani Skrining Kesehatan Langkah Deteksi Dini Hipertensi dan Diabetes, Pintu Masuk Utama Penyakit Kronis Mematikan
Puskesmas Banjarsari Masuk ke Lingkungan Kerja, 198 Karyawan PT Sinar Jaya Inti Mulya Jalankan Skrining Risiko Hipertensi dan Diabetes METRO. Puskesmas Banjarsari, Kota Metro, tidak menunggu warga datang saat sudah sakit. Tim layanan primer ini justru masuk ke lingkungan kerja untuk memotong keterlambatan deteksi penyakit tidak menular yang selama ini menjadi penyumbang beban layanan kesehatan. Selama dua hari pelaksanaan, Sabtu 10 Januari 2026 dan dilanjutkan Senin 12 Januari 2026, sebanyak 198 karyawan PT Sinar Jaya Inti Mulya di Kecamatan Metro Utara mengikuti skrining kesehatan yang difasilitasi Puskesmas Banjarsari. Paket pemeriksaan yang dibawa puskesmas tidak sekadar formalitas. Tim melakukan pengukuran tekanan darah, tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut untuk memetakan faktor risiko metabolik. Pemeriksaan labor sederhana juga dilakukan melalui cek kolesterol, asam urat, dan gula darah. Pada saat yang sama, layanan kesehatan mata dan gigi disediakan untuk menangkap keluhan yang sering diabaikan karena jam kerja padat. PJ Penyakit Tidak Menular Puskesmas Banjarsari, Yasma Noprida, Amd.Kep, menegaskan skrining di tempat kerja dirancang untuk memastikan kondisi kesehatan pekerja terpantau. Bukan hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas. “Tujuan skrining ini agar kesehatan karyawan benar-benar diketahui. Kalau karyawan sehat, produktivitas juga terjaga,” ujar Yasma. Pernyataan itu sejalan dengan fokus layanan primer yang saat ini menitikberatkan pencegahan dan pengendalian PTM. dr. Zenny Efnita selaku penanggung jawab PJ Kluster menyebut deteksi dini menjadi kunci karena hipertensi dan diabetes melitus kerap berjalan tanpa gejala awal, namun memicu komplikasi berat jika terlambat ditangani. “Hipertensi dan diabetes melitus sering tidak disadari. Ini bisa berujung komplikasi. Karena itu deteksi dini penting sebagai implementasi program pemerintah dalam pengendalian penyakit tidak menular,” kata dr. Zenny. Ia menambahkan hipertensi sering disebut silent killer karena tekanan darah bisa tinggi tanpa keluhan, sementara diabetes melitus juga kerap diketahui saat sudah muncul keluhan lanjutan. Di lapangan, hasil pemeriksaan tidak berhenti di angka. Tim puskesmas mencatat dan mengelompokkan temuan untuk menentukan tindak lanjut. Peserta dengan hasil di luar batas normal diarahkan untuk kontrol, pemeriksaan lanjutan, dan edukasi perubahan gaya hidup. Pendekatan ini menempatkan puskesmas bukan sebagai “tempat berobat”, tetapi sebagai penggerak pencegahan yang aktif membangun kepatuhan kontrol, pola makan sehat, dan aktivitas fisik pada kelompok usia produktif. Kepala Puskesmas Banjarsari Kota Metro, dr. Balkis, menyampaikan skrining di lokasi kerja adalah bentuk perluasan jangkauan layanan agar akses menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Puskesmas, kata dia, harus hadir di ruang yang paling dekat dengan aktivitas masyarakat. Dengan model jemput bola, pekerja tidak perlu menunggu waktu luang atau menunda pemeriksaan, sementara puskesmas dapat memetakan risiko lebih dini. Dari pihak perusahaan, Humas PT Sinar Jaya Inti Mulya, Pingkan Hendrawan, menyampaikan apresiasi atas fasilitasi pemeriksaan tersebut. “Sebanyak 198 karyawan mengikuti kegiatan ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Banjarsari yang telah memfasilitasi cek kesehatan. Ini membantu karyawan mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini,” ujar Pingkan. Kegiatan dua hari ini memperlihatkan arah layanan kesehatan primer yang semakin tegas. Puskesmas Banjarsari menempatkan skrining sebagai pintu masuk pengendalian PTM, bukan kegiatan seremonial. Ketika pemeriksaan rutin masuk ke tempat kerja, risiko hipertensi dan diabetes bisa ditemukan lebih cepat, tindak lanjut lebih terarah, dan beban komplikasi di kemudian hari bisa ditekan. Ini juga menguatkan pesan bahwa perlindungan kesehatan pekerja tidak hanya urusan perusahaan, tetapi bagian dari tugas layanan publik yang harus hadir sebelum sakit datang. Kontributor: Promkes_Eci Lindasari,SKM
Akhir 2025 Bukan Seremonial, Asesmen Kader Posyandu Menjadi Tolok Ukur Kesiapan 2026
Banjarsari, Rabu 17 Desember 2025Asesmen kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dilaksanakan Puskesmas Banjarsari pada Rabu (17/12/2025) menjadi penanda akhir rangkaian panjang pembinaan kader kesehatan sepanjang tahun 2025. Kegiatan ini menutup proses peningkatan kapasitas kader yang selama setahun terakhir difokuskan pada penguatan peran Posyandu sebagai simpul utama layanan kesehatan primer di tingkat komunitas. Berbeda dari asesmen yang bersifat awal, penilaian ini berfungsi sebagai evaluasi akhir untuk mengukur sejauh mana pembinaan, pelatihan, dan pendampingan yang telah dilakukan benar-benar membentuk kecakapan kader di lapangan. Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan 25 kompetensi dasar yang menjadi fondasi pelaksanaan Integrasi Layanan Primer. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr Balkis, menyampaikan bahwa asesmen ini menjadi cermin kinerja pembinaan kader selama satu tahun penuh.“Ini bukan sekadar menilai kader hari ini, tetapi membaca hasil proses panjang pembinaan sepanjang 2025. Dari sini kami bisa melihat apakah Posyandu sudah siap menjalankan peran layanan primer secara utuh,” ujar dr Balkis. Dalam asesmen tersebut, kader diuji melalui praktik langsung dan simulasi pelayanan yang mencerminkan situasi nyata di Posyandu. Penilaian dilakukan secara rinci menggunakan daftar tilik, mulai dari ketepatan pencatatan dan pelaporan, kemampuan komunikasi edukatif, hingga keterampilan teknis seperti pengukuran antropometri dan skrining awal faktor risiko penyakit tidak menular. Hasil asesmen selanjutnya digunakan untuk menetapkan strata kecakapan kader, yakni Purwa, Madya, dan Utama. Stratifikasi ini menjadi dasar penataan peran kader pada tahun berikutnya, sekaligus bahan perencanaan pembinaan lanjutan agar penguatan kapasitas lebih terarah dan berbasis kebutuhan nyata. Menurut dr Balkis, asesmen penutup tahun ini juga menjadi momentum konsolidasi peran kader dan tenaga kesehatan.“Integrasi layanan primer hanya bisa berjalan jika kader dan tenaga kesehatan bergerak dalam satu ritme. Asesmen ini memastikan standar pelayanan yang sama sebelum memasuki tahun berikutnya,” katanya. Dengan berakhirnya asesmen kader Posyandu ILP ini, Puskesmas Banjarsari menegaskan komitmennya untuk menjadikan Posyandu sebagai layanan kesehatan masyarakat yang aktif, responsif, dan berkesinambungan. Evaluasi akhir tahun ini diharapkan menjadi pijakan kuat untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat pada 2026 Kontributor Liputan : Eci Lindasari
Mengapa Banyak Warga Merasa Rezekinya Seret? Ini Temuan dari Pendampingan Emosional di Puskesmas
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat – Puskesmas Banjarsari, Rabu 26 November 2025 Puskesmas Banjarsari menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dihadiri puluhan ibu-ibu, kader kesehatan, dan warga lanjut usia. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Pada kesempatan ini, tim Puskesmas memberikan sosialisasi mengenai manajemen stres dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan hidup, termasuk keluhan warga tentang rezeki yang terasa “seret”, bertempat di salah satu rumah kader posyandu. Kegiatan ini menjadi bagian dari inovasi Puskesmas Banjarsari yaitu Konseling Curhat Sehat, sebuah program pendampingan emosional yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Pernyataan Kepala Puskesmas Banjarsari Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menyampaikan perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam pelayanan kesehatan primer. Menurut beliau: “Banyak warga yang datang dengan keluhan fisik, namun ketika digali, ternyata akarnya adalah kelelahan emosional. Pendampingan seperti ini penting agar masyarakat memiliki ruang aman untuk bercerita, memahami stresnya, dan belajar mengelola tekanan hidup secara lebih sehat. Pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya menyentuh tubuh, tetapi juga hati dan pikiran.” dr. Balkis menegaskan bahwa Puskesmas Banjarsari akan terus menghadirkan edukasi dan dukungan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan Emosional sebagai Pendekatan Baru Pendampingan emosional yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat untuk membantu individu mengenali emosi, memahami sumber stres, dan mengembangkan strategi sederhana dalam mengelola tekanan psikososial. Pendekatan ini bersifat non-terapeutik, edukatif, dan dilakukan dalam batas kompetensi tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas. Melalui pendekatan ini, warga memperoleh pemahaman dasar mengenai tekanan emosional yang sering kali tidak disadari, tetapi berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari. Temuan dari Lapangan: Stres dan Rezeki yang Terasa Terhambat Dalam dialog bersama peserta, terlihat pola serupa: banyak warga yang merasakan rezekinya “seret” bukan semata karena faktor ekonomi, tetapi dipengaruhi oleh beban mental yang tidak tertangani. Keluhan yang muncul meliputi: Sebagian besar warga mengaku memendam stres sendirian tanpa memiliki tempat aman untuk bercerita. Beban ini membuat pikiran mudah keruh, tubuh cepat lelah, dan semangat kerja menurun. Mengapa Stres Mempengaruhi Kelancaran Rezeki Dalam sesi Curhat Sehat dijelaskan bahwa stres dapat memengaruhi: Program Curhat Sehat menjadi sarana yang membantu warga memahami dirinya. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan empatik dan tidak menghakimi. Banyak peserta yang mengaku merasakan kelegaan setelah bercerita dan mendapatkan perspektif baru mengenai situasi hidup mereka. Ketika emosi tidak stabil, kualitas hidup ikut menurun. Hal ini memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, serta pola keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan ekonomi keluarga. Ruang Aman untuk Mengurai Beban Batin Beberapa warga bahkan menyampaikan bahwa setelah memahami emosinya, mereka mulai lebih tenang, lebih teratur, dan lebih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan pikiran jernih. Ketika Emosi Pulih, Hidup Ikut Lebih Terbuka Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kebutuhan aktual warga dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pendampingan emosional di Puskesmas Banjarsari menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada kondisi fisik, tetapi juga pada ketenangan batin dan keseimbangan emosi. Dengan menyediakan ruang aman melalui program Konseling Curhat Sehat, Puskesmas berupaya membantu masyarakat mengelola stres, memperbaiki kualitas hidup, dan mendukung kesejahteraan keluarga secara menyeluruh. Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kebutuhan aktual warga dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Konseling Curhat Sehat Jadi Ruang Baru Warga Kota Metro Mengelola Kecemasan dan Isu Sosial
Warga Semakin Rentan Terpengaruh Isu, Layanan Konseling Puskesmas Banjarsari Jadi Rujukan Metro, Lampung — Fenomena warga yang mudah terpengaruh isu, rumor, dan komentar sosial menjadi perhatian layanan Konseling Curhat Sehat di Puskesmas Banjarsari. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah warga yang datang dengan keluhan terkait kecemasan akibat “isu sosial” meningkat cukup signifikan. Konselor Curhat Sehat menyebut bahwa masalah yang muncul bukan hanya berkaitan dengan kurangnya informasi, tetapi berkaitan erat dengan pola psikologis masyarakat yang semakin sensitif terhadap tekanan sosial. “Kami mendapati banyak warga yang datang bukan karena masalah fisik, tetapi karena gelisah terhadap kabar atau perkataan orang. Mereka merasa takut, cemas, dan sering kali tidak punya tempat aman untuk memeriksa kebenaran informasi itu,” kata Konselor Curhat Sehat, Selasa, 25 November 2025 Menurutnya, kerentanan warga terhadap isu dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu lemahnya penyaringan informasi, ketidakstabilan emosi, dan minimnya kebiasaan berpikir kritis. Ketiganya muncul sebagai kombinasi yang membuat masyarakat mudah terseret arus rumor, terutama yang bernada negatif. “Sebagian warga memiliki filter sosial yang tipis sehingga apa pun yang didengar langsung diterima tanpa disaring. Sementara kemampuan regulasi emosinya juga belum stabil, sehingga informasi kecil bisa memicu kecemasan besar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus, warga yang mudah terseret isu bukanlah orang yang lemah atau tidak cerdas. Sebaliknya, mereka memiliki kepribadian sensitif, peduli, dan sangat memperhatikan lingkungan sosialnya. Namun tanpa pengelolaan emosi yang baik, kondisi itu membuat mereka semakin mudah terpengaruh. Fenomena mental ini juga dipengaruhi oleh tekanan sosial dari media digital yang terus berkembang. Arus informasi yang cepat membuat masyarakat tidak memiliki waktu cukup untuk memverifikasi kabar yang diterimanya. “Ketahanan psikologis perlu dibangun. Yang diperlukan bukan menutup telinga, tetapi menguatkan pikiran agar mampu memeriksa informasi dengan tenang,” tambahnya. Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, Puskesmas Banjarsari menghadirkan layanan Konseling Curhat Sehat sebagai ruang aman bagi warga untuk bercerita, memperoleh edukasi psikososial, dan mendapatkan pendampingan emosional. Layanan ini menggabungkan pendekatan psikologi spiritual, konseling emosional, dan teknik grounding yang membantu warga meredakan kecemasan. Keluhan yang paling sering muncul antara lain kecemasan akibat gosip lingkungan, rasa takut dinilai orang lain, tekanan keluarga, hingga dampak rumor yang tidak memiliki bukti jelas. “Satu per satu warga mulai memahami bahwa tidak semua informasi harus dipercaya, dan tidak semua bisikan harus ditanggapi. Kami membantu mereka menemukan kembali ketenangan serta kemampuan memilah informasi,” katanya. Puskesmas Banjarsari berharap layanan ini dapat memperkuat ketahanan mental masyarakat, mengurangi konflik sosial berbasis isu, serta membantu warga menjalani kehidupan yang lebih sehat baik secara fisik maupun emosional.
Menjadi Kader Posyandu Bukan Sekadar Tugas, Tapi Cahaya di Lingkungan
Menjadi Kader Bukan Sekadar Tugas, Tapi Cahaya di Lingkungan Kadang, menjadi kader itu terasa sederhana datang ke posyandu, menimbang balita, mencatat buku KIA, mengingatkan ibu hamil agar periksa.Namun, di balik kesederhanaan itu, ada cahaya yang tak semua orang bisa lihat. Cahaya itu lahir dari hati yang tulus, dari langkah yang selalu hadir di tengah warga.Bukan karena disuruh, tapi karena peduli.Bukan karena ingin pujian, tapi karena ingin lingkungan sehat dan bahagia. Menjadi kader bukan soal seragam atau jadwal kegiatan.Ini tentang menjadi penjaga kehidupan kecil bayi yang tumbuh sehat, ibu yang kuat, keluarga yang sadar akan pentingnya kesehatan.Tentang menjadi sahabat di tengah masyarakat, yang selalu siap mendengar, menenangkan, dan menuntun. Kadang, kerja kader tak terdengar.Tak ada sorotan kamera, tak banyak ucapan terima kasih.Tapi percayalah setiap senyum balita, setiap warga yang sembuh, setiap ibu yang merasa didampingi…Semua itu adalah pahala yang abadi, tanda bahwa cahaya kecilmu menerangi banyak hati. Karena menjadi kader bukan sekadar tugas.Itu panggilan jiwa.Dan setiap panggilan yang dijawab dengan cinta akan selalu membawa terang bagi sekelilingnya. Karya: Eci Lindasari — “Menjadi Kader Bukan Sekadar Tugas, Tapi Cahaya di Lingkungan”
Dua Hari Gebrakan Puskesmas Banjarsari: Dari Musyawarah Warga hingga Launching PMT Cegah Stunting
“Puskesmas Banjarsari: Sahabat Sehat Keluarga, Pelopor Cegah Stunting di Metro Utara” Metro – Puskesmas Banjarsari kembali berkomitmen selalu memberikan layanan terbaik untuk masyarakat dan juga sebagai pelopor inovasi layanan kesehatan di Metro Utara. Dalam dua hari berturut-turut, puskesmas ini menggelar kegiatan besar yang menegaskan komitmennya melawan stunting. Rangkaian kegiatan dimulai dengan Musyawarah Masyarakat Kelurahan (MMK) pada Rabu, 1 Oktober 2025, di Posyandu Lestari RW 08 Kelurahan Banjarsari. Keesokan harinya, dilanjutkan dengan Launching Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Cegah Stunting pada Kamis, 2 Oktober 2025, di Kota Metro. Hari Pertama: Musyawarah Masyarakat Kelurahan Kegiatan MMK membahas kondisi gizi balita di Kelurahan Banjarsari sekaligus menyusun langkah bersama untuk mencegah stunting yang juga di hadiri Lurah Banjarsari Nila Kusumawati, S.IP., M.Si. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya forum diskusi, tetapi gerakan bersama masyarakat,“Melalui forum ini, kami ingin mengidentifikasi masalah kesehatan di tingkat kelurahan, khususnya kasus gizi pada balita, sekaligus menyusun solusi yang tepat agar angka stunting bisa ditekan. Puskesmas Banjarsari siap menjadi mitra keluarga dalam mewujudkan generasi sehat,” ungkap dr. Balkis. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan SIGIZIKESGA 2025 menunjukkan adanya 25 balita di Banjarsari yang mengalami masalah gizi. Mereka menjadi sasaran utama program PMT cegah stunting yang didukung oleh YBM Brilian. Ahli gizi Puskesmas, Shera Artina, S.Gz, turut memberikan pemaparan mengenai program PMT 90 hari berbasis Pos Gizi. “Menu olahan sederhana seperti ubi, pisang, ayam, dan ikan bisa menjadi sumber gizi seimbang bagi anak, tanpa harus mahal,” jelas Shera. Hari Kedua: Launching Program PMT Sehari setelah musyawarah, Puskesmas Banjarsari melaksanakan Launching Program PMT Cegah Stunting di Kota Metro. Kegiatan ini didukung penuh oleh YBM Brilian Bandar Lampung, yang diwakili oleh Pak Amir. Acara berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan edukasi gizi, demo masak makanan sehat, pengukuran berat badan dan tinggi badan anak, serta makan bersama. Dalam sambutannya, dr. Balkis menegaskan pentingnya program ini. “Kami ingin memastikan balita mendapatkan makanan tambahan bergizi yang sesuai kebutuhan mereka. Program ini adalah langkah nyata Puskesmas Banjarsari bersama YBM Brilian dalam melahirkan generasi sehat,” tegasnya. Sementara itu, Pak Amir dari YBM Brilian menyampaikan apresiasinya. “Perbaikan gizi anak adalah investasi masa depan bangsa. Kami mendukung penuh langkah Puskesmas Banjarsari yang inovatif ini,” ujarnya. Suasana kegiatan semakin hidup dengan partisipasi warga. Anak-anak tampak gembira mengikuti pengukuran berat badan dan tinggi badan, sementara para ibu antusias menyaksikan demo masak dan menikmati hasil olahan sehat bersama. Dua hari berturut-turut dengan agenda dan komitmen dari semua pihak hal ini menegaskan bahwa Puskesmas Banjarsari bukan hanya fasilitas kesehatan biasa, melainkan pusat inovasi dan penggerak perubahan sosial di Metro Utara, Dengan strategi berbasis masyarakat, pendekatan edukasi gizi yang sederhana namun efektif, serta kemitraan strategis bersama YBM Brilian, Puskesmas Banjarsari tampil sebagai contoh nyata puskesmas modern yang menginspirasi wilayah lain. “Visi kami jelas: menjadikan Banjarsari sebagai kelurahan sehat, dengan anak-anak yang tumbuh optimal, cerdas, dan bebas stunting. Puskesmas Banjarsari akan selalu hadir dengan inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas dr. Balkis. 🖊️ Liputan Kontributor Promkes :Eci Lindasari 📸 Dokumentasi: Puskesmas Banjarsari
Mini Lokakarya Stunting Digelar Serentak se-Kota Metro 2025, Metro Utara Dorong Inovasi “Kumbang Lestari”
Metro – Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (PPPAPPKB) menggelar Mini Lokakarya (Lokmin) Stunting tingkat kecamatan secara serentak di seluruh wilayah Kota Metro, Senin,30 September 2025 bertempat di Aula Kecamatan Metro Utara Kepala Dinas PPPAPPKB Kota Metro, Subehi, S.STP., M.M., menegaskan bahwa lokmin stunting menjadi forum penting bagi camat, puskesmas, dan lintas sektor untuk melakukan koordinasi, evaluasi, sekaligus merumuskan strategi percepatan penurunan stunting.“Masalah stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Faktor penyebabnya kompleks, mulai dari kondisi gizi ibu hamil, pola asuh, hingga lingkungan dan akses sanitasi. Karena itu, diperlukan sinergi semua unsur agar upaya penurunan stunting dapat lebih optimal,” ungkap Subehi. Salah satu perwakilan Kecamatan Metro Utara, Kepala Puskesmas Banjarsari dr. Balkis, menambahkan bahwa selain faktor gizi, terdapat pula penyerta lain yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak. “Kami menemukan kasus-kasus yang berhubungan dengan penyakit penyerta seperti infeksi berulang, anemia, hingga bayi lahir dengan berat rendah. Hal-hal ini menjadi tantangan di lapangan, sehingga pendampingan keluarga menjadi kunci penting,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Shera Artina, S.Gz., Penanggung Jawab Gizi Puskesmas Banjarsari, memaparkan inovasi yang tengah dijalankan di Metro Utara, yakni “Kumbang Lestari” (Kelompok Tumbuh Kembang Kelurahan Banjarsari). Program ini dibentuk untuk memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak melalui tim pelaksana yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. “Kumbang Lestari menjadi wadah untuk mengawal anak-anak berisiko stunting dengan pendekatan lebih intensif, mulai dari pendampingan keluarga, penyuluhan gizi, hingga rujukan bila diperlukan,” jelas Shera. Meski berbagai langkah telah ditempuh, tantangan tetap ada. Antara lain, masih ditemui ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), balita yang tidak rutin datang ke posyandu, hingga rendahnya kepatuhan kontrol kesehatan setelah mendapat rujukan. Belum lagi faktor lingkungan, seperti kualitas air minum rumah tangga yang masih memerlukan perhatian. Melalui lokmin ini, seluruh kecamatan di Kota Metro berkomitmen memperkuat koordinasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta menjalankan intervensi secara berkesinambungan. Pemerintah berharap, dengan kerja bersama, angka stunting di Kota Metro dapat terus ditekan, sehingga lahir generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Kontributor Liputan: Promkes_Metro Eci Lindasari SKM
“Puskesmas Banjarsari Bersama YBM BRILiaN: Langkah Nyata Bangun Generasi Sehat Bebas Stunting”
Metro Utara – Puskesmas Banjarsari kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Bekerja sama dengan Yayasan Baitul Maal BRILiaN (YBM BRILiaN), sebuah Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 458 Tahun 2024 yang mengelola zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan, puskesmas ini menggelar Orientasi dan Pelatihan Kader Pencegahan Stunting di Posyandu Nusa Indah, Kelurahan Banjarsari, Jumat (26/09/2025). Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan kapasitas kader, tetapi juga menjadi wujud nyata pendekatan promotif dan preventif yang kini semakin ditekankan dalam sistem pelayanan kesehatan. Stunting sendiri masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Anak yang mengalami stunting tidak hanya terhambat pertumbuhan fisiknya, tetapi juga berisiko menghadapi masalah perkembangan kognitif yang berdampak pada kualitas SDM di masa depan. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas kader posyandu. “Kader adalah ujung tombak dalam pencegahan stunting di masyarakat. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan kader memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mendampingi keluarga, khususnya ibu hamil dan balita, dalam memenuhi kebutuhan gizi dan pola asuh yang tepat,” jelasnya. Pelatihan ini memberikan materi seputar deteksi dini risiko stunting, pemantauan tumbuh kembang, hingga strategi komunikasi efektif dalam menyampaikan pesan gizi. Dengan demikian, kader tidak hanya berperan sebagai perpanjangan tangan tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai agen perubahan perilaku di tingkat keluarga. Dalam kesempatan tersebut, Shera Artina, S.Gz, fasilitator dari YBM BRILiaN, memaparkan bahwa program kolaborasi ini juga melibatkan intervensi gizi langsung melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama 90 hari dengan pendekatan Pos Gizi Positif Deviance (PD). “Sasaran balita dalam program ini berasal dari Kelurahan Banjarsari sebanyak 25 anak dan Kelurahan Purwosari sebanyak 15 anak di Kecamatan Metro Utara. Melalui pendekatan PD, keluarga diajak belajar dari praktik positif yang terbukti berhasil mencegah stunting meski dengan keterbatasan. Intervensi dilakukan tidak hanya melalui PMT, tetapi juga edukasi gizi, pola asuh, demo masak, dan pendampingan langsung di rumah,” terang Shera. Kegiatan ini turut dihadiri Lurah Banjarsari, Nila Kusumawati, S.IP., M.Si., yang memberikan apresiasi kepada Puskesmas Banjarsari atas konsistensinya dalam menekan angka stunting di wilayah Metro Utara. “Kehadiran puskesmas dalam mendampingi masyarakat tidak hanya terlihat dari layanan kesehatan formal, tetapi juga dari inovasi lapangan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” ungkapnya. Upaya ini sejalan dengan target nasional penurunan prevalensi stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Provinsi Lampung tercatat sebesar 15,9 persen, menunjukkan tren perbaikan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, angka tersebut masih membutuhkan kerja keras bersama agar bisa mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030. Selain fokus pada pencegahan stunting, Puskesmas Banjarsari juga terus mengembangkan layanan promotif dan preventif lain, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin, program gizi seimbang, hingga kampanye pola hidup bersih dan sehat. Sinergi dengan YBM BRILiaN semakin memperkuat daya jangkau program, terutama melalui dukungan pendanaan sosial keagamaan yang dapat diarahkan untuk intervensi gizi dan kesehatan masyarakat. Kegiatan orientasi dan pelatihan kader di Posyandu Nusa Indah menjadi bukti nyata bahwa Puskesmas Banjarsari hadir tidak sekadar sebagai fasilitas kesehatan, melainkan mitra strategis masyarakat dalam membangun generasi yang sehat, kuat, dan berkualitas. Dengan langkah konsisten, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan penuh dari masyarakat, Puskesmas Banjarsari optimistis dapat menjadi teladan dalam upaya pencegahan stunting di Kota Metro. Kontributor Liputan: Promkes Metro /Eci Lindasari SKM

