Pada Jumat, 12 September 2025, Puskesmas Banjarsari kembali memperlihatkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan menggelar kegiatan Posyandu SriKandi di Kelurahan Banjarsari. Kegiatan ini bukan hanya sebuah rutinitas, namun juga wujud nyata pengabdian dan dedikasi para tenaga kesehatan yang selalu siap melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan Puskesmas Banjarsari, di antaranya yang bertugas pada hari ini :yang secara rutin berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. • Putri Aisyah, Amd.Kes• Kristinawati, Amd.Kep• Shera Artina, S.Gz• Santi Prastianingrum, Amd PKIP• Eci Lindasari, SKM• Fiqih Kartika Murti, Amd.Keb• Pradita Nugraheni, Str.Keb• Ajeng Hayyushabilla, Amd.Keb Para tenaga kesehatan ini berkolaborasi dengan kader Posyandu SriKandi, yang memiliki peran penting dalam memastikan terlaksananya program kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kader Posyandu dan petugas kesehatan bekerja bahu-membahu dalam memantau kesehatan ibu hamil, bayi, balita, serta memberikan penyuluhan mengenai gizi yang tepat dan pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit yang dapat dicegah. Dalam kegiatan ini, petugas kesehatan dari Puskesmas Banjarsari tidak hanya melakukan pemeriksaan fisik, tetapi juga memberikan edukasi yang sangat penting mengenai pola makan sehat, pentingnya aktivitas fisik, serta pencegahan penyakit umum yang terjadi pada anak-anak usia sekolah, ibu hamil, dan balita. Penyuluhan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif, MPASI kaya protein, serta vaksinasi lengkap untuk mencegah penyakit menular menjadi bagian dari informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Melalui program Posyandu ini, Puskesmas Banjarsari menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang sehat dan cerdas. Dengan mencegah masalah kesehatan sejak dini, program ini berfokus pada tumbuh kembang anak-anak, memastikan mereka mendapatkan pemantauan kesehatan yang optimal untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Di bawah kepemimpinan dr. Balkis, Kepala Puskesmas Banjarsari, Puskesmas Banjarsari telah berhasil mewujudkan sebuah sistem pelayanan kesehatan yang tidak hanya peduli dengan aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan emosional dan sosial masyarakat. Kegiatan Posyandu SriKandi adalah salah satu contoh dari pelayanan kesehatan yang holistik dan menyeluruh, dengan tujuan untuk menurunkan angka kecacatan dan kematian yang bisa dicegah di masa depan. Dengan adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan Puskesmas Banjarsari dan kader Posyandu, Kota Metro semakin dekat untuk mewujudkan visi kesehatan yang lebih baik, serta membangun masyarakat yang sadar akan pentingnya hidup sehat. Kegiatan ini menunjukkan komitmen Puskesmas Banjarsari untuk menciptakan Kota Metro yang lebih sehat dan cerdas. Selain itu, melalui upaya-upaya proaktif seperti ini, diharapkan akan tercipta generasi muda yang tidak hanya sehat, tetapi juga cerdas, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Puskesmas Banjarsari Tunjukkan Langkah Nyata dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Kota Metro dengan Penilaian 25 Kompetensi Kader Posyandu, Dibawah Kepemimpinan Kepala Puskesmas dr. Balkis”
Rabu, 10 September 2025, Puskesmas Banjarsari mengadakan kegiatan penilaian keterampilan kader posyandu di Posyandu Dewi Sri, Kelurahan Banjarsari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana kader posyandu memahami dan menguasai 25 keterampilan dasar yang berkaitan dengan kesehatan ibu, bayi, balita, usia sekolah, remaja, hingga lansia. Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, yang membuka acara tersebut dan menyampaikan pentingnya keterampilan kader posyandu dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam sambutannya, dr. Balkis menekankan bahwa penilaian keterampilan ini sangat vital untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat berkualitas dan sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku. “Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam memberikan layanan kepada masyarakat, khususnya dalam melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan kesehatan ibu, bayi, balita, remaja, serta lansia. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi evaluasi tetapi juga dapat mendorong kader untuk meningkatkan kinerjanya dalam pelayanan posyandu,” ujar dr. Balkis. Santi Prastianingrum,Amd PKIP yang juga merupakan petugas promosi kesehatan (Promkes) dari Puskesmas Banjarsari, sebagai tim penilai yang memberikan penjelasan tentang pentingnya pengelolaan posyandu yang efektif, menjelaskan bahwa keterampilan kader dalam melakukan pencatatan, pelaporan, serta komunikasi efektif adalah aspek yang sangat penting. “Sebagai kader posyandu, ibu kader harus tahu betul tentang cara mengelola posyandu dengan baik. Ini termasuk mengerti tentang paket layanan posyandu, bagaimana melakukan pencatatan dan pelaporan yang benar, serta bagaimana cara melakukan komunikasi yang efektif dengan masyarakat,” kata Santi. Santi juga menjelaskan tentang pentingnya keterampilan kader dalam melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan ibu dan anak. “Kader posyandu harus mampu memberikan penyuluhan yang efektif tentang ASI Eksklusif, imunisasi, serta pengukuran berat dan tinggi badan bayi dan balita,” lanjutnya. Eci Lindasari, SKM, memberikan penjelasan terkait Sebagai bagian dari penilaian, kader posyandu dibagi dalam kategori berdasarkan jumlah tanda kecakapan yang dicapai. Kader Purwa, yang memiliki kecakapan dasar dalam pengelolaan posyandu, bayi dan balita, serta ibu hamil, adalah mereka yang memiliki 17 hingga 16 tanda kecakapan. Sedangkan Kader Madya adalah kader Purwa yang sudah melengkapi kecakapan dalam empat kelompok keterampilan dasar, sementara Kader Utama adalah kader Madya yang sudah melengkapi semua keterampilan dasar posyandu dan kesehatan masyarakat kemudian Eci Linda juga mengungkapkan pentingnya penyuluhan gizi, terutama bagi ibu hamil, balita, serta remaja. “Selain tugas utama kader posyandu dalam memantau perkembangan kesehatan ibu dan anak, penyuluhan tentang gizi yang tepat juga sangat penting. Salah satu contoh adalah pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi ibu hamil, serta pentingnya ASI eksklusif dan MPASI kaya protein bagi balita,” ujar Eci. Shera Artina, SGz, sebagai petugas gizi dari Puskesmas Banjarsari, turut menjelaskan tentang pentingnya imunisasi lengkap dan pencegahan penyakit melalui gizi seimbang. “Kader posyandu juga berperan penting dalam memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang cukup dan melakukan imunisasi rutin sesuai jadwal. Penyuluhan mengenai tanda bahaya selama kehamilan juga merupakan bagian yang tak kalah penting dalam mendukung kesehatan ibu hamil,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Puskesmas Banjarsari berharap dapat memastikan bahwa seluruh kader posyandu memiliki pemahaman yang cukup dan keterampilan yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kader yang terampil dan kompeten diharapkan dapat membantu mengurangi angka kematian ibu dan anak, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Dengan penilaian dan pelatihan yang berkelanjutan, Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk menciptakan Kota Metro yang lebih sehat, di mana pelayanan kesehatan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dengan kualitas yang baik.
Wujud Nyata Program Gizi, Dinkes Metro Gelar Pelatihan Keamanan Pangan Bagi Penjamah Pangan Program MBG
Metro – Upaya menjaga kualitas pangan terus digencarkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Metro, Melalui Pelatihan Keamanan Pangan bagi Penjamah Pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dinkes Metro memastikan bahwa pangan yang disajikan bagi masyarakat, khususnya anak sekolah, ibu hamil, dan balita, benar-benar aman dan layak konsumsi. Kegiatan yang digelar Senin (8/9/2025) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarsari, Metro Utara ini merupakan batch ke-14 dan diikuti 47 peserta. Mereka terdiri dari penjamah pangan program MBG serta pelaku usaha makanan seperti katering dan restoran yang ditunjuk untuk menyediakan menu gizi seimbang bagi warga. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, menekankan bahwa keamanan pangan adalah fondasi penting untuk membangun generasi sehat. Ia menegaskan bahwa penyedia makanan bukan sekadar memasak dan menyajikan, melainkan juga bertanggung jawab memastikan proses pengolahan sesuai standar higiene dan sanitasi.“Pangan yang aman akan menjadi benteng pertama bagi kesehatan masyarakat. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan semua penjamah pangan memiliki keterampilan dan kesadaran penuh untuk menjaga mutu makanan,” ujarnya. Senada dengan itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Bdn. Diah Meirawati, S.Tr.Keb, SKM, M.Kes, menyebut pelatihan ini bagian dari komitmen Kota Metro untuk mempertahankan predikat Kota Pangan Aman. Dalam paparannya, ia memperkenalkan konsep 5 kunci keamanan pangan keluarga mulai dari menjaga kebersihan, memisahkan makanan mentah dan matang, mengolah dengan suhu tepat, menjaga penyimpanan, hingga menggunakan bahan dan air yang aman. “Kunci sederhana ini bila diterapkan konsisten akan berdampak besar, tidak hanya di dapur keluarga, tetapi juga di layanan pangan skala kota,” jelasnya. Suasana pelatihan berjalan interaktif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar praktik pengolahan makanan sehari-hari. Beberapa bahkan menceritakan tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga kualitas pangan di sekolah maupun di usaha katering. Salah satu peserta, Rohani, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru dari pelatihan ini.“Selama ini saya sudah berusaha menjaga kebersihan makanan, tapi dari pelatihan ini saya jadi lebih paham cara memisahkan bahan mentah dan matang, juga pentingnya suhu penyimpanan. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk kami yang setiap hari berhadapan langsung dengan makanan anak-anak,” ungkapnya. Pelatihan keamanan pangan ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari penghargaan yang pernah diraih Metro sebagai Kota Pangan Aman. Bagi pemerintah daerah, menjaga standar tersebut bukan sekadar prestasi, tetapi bentuk perlindungan nyata terhadap masyarakat. Apalagi program MBG menyasar kelompok rentan seperti anak sekolah dan balita yang pertumbuhan serta imunitas tubuhnya sangat dipengaruhi asupan gizi. Dengan pelatihan ini, para penjamah pangan diharapkan mampu bekerja lebih profesional, higienis, dan aman dalam setiap proses pengolahan. Ke depan, Dinkes Metro berkomitmen melanjutkan pendampingan dan pengawasan agar setiap makanan yang tersaji benar-benar mendukung tumbuh kembang generasi sehat di Kota Metro. Kontributor liputan: Promkes_Eci Lindasari,SKM
“Semangat Petugas Puskesmas Banjarsari: Rutinitas Kegiatan Posyandu Mawar Merah dan Mawar Putih Sebagai Langkah Preventif Menghadapi Ancaman Penyakit Musim Peralihan”
Senin, 08 September 2025 – Dalam upaya mendukung kesehatan masyarakat, Posyandu Mawar Putih dan Posyandu Mawar Merah yang berada di Kelurahan Banjarsari Kota Metro wilayah kerja Puskesmas Banjarsari melaksanakan kegiatan rutin sebagai bagian dari upaya preventif dan promotif untuk mengatasi ancaman penyakit yang berpotensi meningkat selama peralihan musim. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan di tengah perubahan musim yang terjadi, terutama pada musim peralihan dari kemarau ke penghujan. “Kegiatan ini sangat penting sebagai langkah preventif dalam menghadapi ancaman penyakit yang bisa meningkat selama musim hujan,” ujar dr. Balkis. “Musim peralihan ini sering kali membawa tantangan tersendiri bagi kesehatan, di mana imunitas tubuh kita cenderung menurun akibat perubahan suhu yang drastis.” Tiga ancaman penyakit yang harus diwaspadai selama musim peralihan tersebut adalah diare, influenza, dan demam berdarah dengue (DBD). Ketiganya sering kali terjadi dalam jumlah yang lebih besar saat musim hujan, mengingat potensi penyebaran yang lebih tinggi di lingkungan yang lembap dan padat penduduk. Menurut dr. Balkis, influenza dapat meningkat saat suhu udara mengalami perubahan drastis. “Suhu yang berubah-ubah dapat membuat sistem kekebalan tubuh kita menurun, sehingga memudahkan virus influenza untuk menyebar dengan cepat,” jelasnya. Penyakit ini sangat mudah menular di kalangan masyarakat yang cenderung menghabiskan waktu di tempat-tempat yang lebih tertutup selama musim hujan. Penyakit DBD juga menjadi perhatian utama dalam periode ini, mengingat faktor lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, penyebar virus dengue. “Faktor pencemaran air menjadi penyumbang utama pembawa virus dan jentik nyamuk. Hal ini harus diwaspadai, terutama di musim hujan, karena potensi berkembang biaknya nyamuk lebih besar,” ujar dr. Balkis. Selain itu, diare juga dapat meningkat karena pencemaran air yang sering terjadi selama musim hujan. Sanitasi yang buruk dapat memperburuk kondisi ini. “Kami mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan memastikan ketersediaan air bersih yang dapat mencegah penyebaran penyakit melalui air,” tambahnya. Kegiatan posyandu ini juga berfungsi sebagai tempat untuk memberikan edukasi kepada orang tua, khususnya mengenai cara menjaga kebersihan lingkungan dan memperkuat daya tahan tubuh anak-anak mereka. Posyandu Mawar Putih dan Mawar Merah secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, memberikan imunisasi, serta edukasi terkait pentingnya menjaga pola makan dan pola hidup sehat. “Posyandu tidak hanya sebagai tempat untuk memeriksa kesehatan anak, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyakit, termasuk bagaimana cara mencegah diare, influenza, dan DBD,” kata dr. Balkis. Kegiatan di Posyandu ini akan terus dilakukan sebagai upaya berkelanjutan dalam menjaga kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas Banjarsari. Dengan langkah-langkah preventif dan promotif yang tepat, diharapkan angka kejadian penyakit dapat diminimalisir, terutama selama musim peralihan ini. Kegiatan Posyandu Mawar Putih dan Mawar Merah yang dilaksanakan di Puskesmas Banjarsari pada Senin, 08 September 2025 ini merupakan bagian dari upaya besar untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, terutama di tengah perubahan musim. Ancaman penyakit seperti diare, influenza, dan DBD harus diwaspadai, dan langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat membantu mengurangi dampak dari penyakit-penyakit tersebut. Ke depannya, diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk mendukung kesehatan masyarakat yang lebih baik. Liputan Kontributor : Promkes_Eci Lindasari,SKM
Bunda Posyandu Hj. Eni Bambang Berikan Pembinaan dan Dukungan kepada Kader Posyandu Sejahtera VIII dalam Persiapan Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2025
Kota Metro, Senin, 16 Juni 2025, Kelurahan Iringmulyo, Kecamatan Metro Timur, kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dengan menggelar pembinaan intensif bagi kader Posyandu Sejahtera VIII. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menghadapi penilaian Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2025. Dalam kunjungannya, Hj. Eni Bambang, S.IP, selaku Bunda Posyandu Tim Pembina Posyandu dan Sekaligus menjadi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Metro tingkat Kota Metro, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para kader Posyandu Sejahtera VIII. Beliau menekankan pentingnya peran aktif kader dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas gizi ibu dan anak. “Kader Posyandu adalah ujung tombak dalam mewujudkan masyarakat sehat. Melalui pembinaan ini, diharapkan semangat dan komitmen para kader semakin meningkat dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Hj. Eni Bambang. Kegiatan pembinaan ini juga di dihadiri , Ketua GOW Kota Metro, Nidia Irene Rafieq , Asisten I Setda Kota Metro, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Metro, Camat Metro Timur Ferry Handono, S.IP., serta Lurah Iringmulyo Yulina Sari, S.Mn. Selain itu, turut hadir pula Tim Pembina Posyandu dari UPTD Puskesmas Iringmulyo dan Dinas Kesehatan Kota Metro. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari upaya pemerintah Kota Metro dalam mempersiapkan Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2025. Selain aspek posyandu, lomba ini juga menilai berbagai aspek lain seperti Smart Village, e-Government, SIPOLI, sekretariat bersama LKK, perpustakaan, posko bencana, satkamling, omah peluk, TTG biogas, TTG budidaya cacing dan jangkrik, Kampung Inggris, PKBM Permata, bank sampah, dasawisma, dan posyandu. Dengan dukungan penuh dari Bunda Posyandu Kota Metro, diharapkan Posyandu Sejahtera VIII dapat meraih prestasi terbaik dan menjadi inspirasi bagi posyandu lainnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Kontributor Liputan Promkes_Dinkes Metro: Eci Lindasari,SKM
Upaya Dinas Kesehatan Kota Metro Tingkatkan Pelayanan Bayi Baru Lahir: “Eko Hendro Gelar Peningkatan Kapasitas Nakes Secara Hybrid”
Metro, 28 April 2025 – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bayi dan balita, Dinas Kesehatan Kota Metro mengadakan pertemuan dengan tema “Peningkatan Kapasitas Nakes tentang Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita.” Acara ini berlangsung dalam metode hybrid, menggabungkan pertemuan online dan offline, guna memastikan akses yang lebih luas bagi para peserta di berbagai tempat. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Senin, 28 April 2025 ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, S.T., M.Kes. Dalam sambutannya, Dr. Eko Hendro Saputra menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para tenaga kesehatan (nakes) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan bayi dan balita di Kota Metro. “Melalui pertemuan ini, kami berharap dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan nakes dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal bagi bayi dan balita, sebagai upaya untuk Menuju Generasi Emas 2045 “ ujar Eko Hendro” Diah Meirawati, SKM., M.Kes, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro, juga memberikan pemaparan terkait pentingnya peran nakes dalam menjaga kesehatan bayi dan balita. “Kegiatan ini adalah salah satu langkah nyata kami dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesehatan anak, khususnya bayi dan balita. Dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, diharapkan dapat mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan,” ujar Diah. Sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendukung kesehatan bayi baru lahir, kegiatan ini juga berfungsi untuk menunjang pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) yang akan dilaksanakan pada 1 Mei 2025. Program ini bertujuan untuk melaksanakan skrining kesehatan pada bayi baru lahir, yang melibatkan pemeriksaan yang komprehensif untuk mendeteksi berbagai kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Pemeriksaan skrining ini meliputi deteksi dini terhadap beberapa masalah kesehatan serius, termasuk gangguan pada kelenjar tiroid yang dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, penyakit jantung bawaan yang bisa berpotensi fatal jika tidak segera ditangani, serta gangguan pada kelenjar adrenal yang dapat mempengaruhi produksi hormon. Selain itu, skrining juga mencakup pengujian untuk mendeteksi defisiensi enzim yang dapat menyebabkan anemia, pemeriksaan pendengaran untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi yang dapat menghambat perkembangan bahasa, serta pemeriksaan mata pada bayi prematur untuk mendeteksi kemungkinan kerusakan mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat melaksanakan skrining dengan tepat dan efektif, sehingga dapat mendeteksi kelainan pada bayi sedini mungkin dan memberikan intervensi yang diperlukan untuk mencegah atau mengurangi dampak jangka panjang. Pertemuan ini melibatkan berbagai peserta dari sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Kota Metro, termasuk RSUD Ahmad Yani Metro dan puskesmas lainnya. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh berbagai praktisi kesehatan, termasuk tenaga medis dan paramedis yang terlibat langsung dalam penanganan kesehatan anak-anak. Dengan tema yang sangat relevan di tengah upaya besar dalam meningkatkan kualitas hidup anak di Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat lokal. Acara ini juga menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait implementasi praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan anak, yang diharapkan dapat diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan di Kota Metro. Dinas Kesehatan Kota Metro terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bayi dan balita, guna mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik di masa depan. Kontributor Liputan : Eci Lindasari_Promkes Dinkes Metro
AKHI dan Dinkes Kota Metro Gelar ‘AKHI Fun Walk’ untuk Skrining Kesehatan dan Pengukuran Kebugaran Calon Jamaah Haji 2025
Metro, 8 Februari 2025 – Sebagai bagian dari persiapan ibadah haji yang optimal, Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia (AKHI) Cabang Kota Metro bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Metro menggelar kegiatan skrining kesehatan dan pengukuran kebugaran bagi calon jamaah haji (CJH) Kota Metro 2025. Acara yang berlangsung di Taman Merdeka Kota Metro ini diikuti oleh 322 calon jamaah haji yang akan berangkat pada tahun 2025. Sebelum melakukan pengukuran kebugaran fisik, para calon jamaah haji terlebih dahulu mengikuti tahap skrining kesehatan. Skrining dimulai dengan pengisian formulir Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q). Formulir ini bertujuan untuk mengetahui apakah seorang calon jamaah haji layak untuk mengikuti pengukuran kebugaran. PAR-Q membantu dalam menilai apakah calon jamaah haji memiliki kondisi medis atau gangguan kesehatan tertentu yang dapat mempengaruhi kemampuan fisik mereka. Budi Kurniawati, Amd Kep, Ketua Tim Kerja Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Kota Metro, mengungkapkan bahwa pengisian formulir PAR-Q ini sangat penting untuk memastikan keselamatan para calon jamaah haji selama tes kebugaran. “Formulir ini bertujuan untuk memastikan bahwa peserta yang mengikuti pengukuran kebugaran dalam kondisi fisik yang aman, tanpa risiko kesehatan yang dapat membahayakan,” ujar Budi. Setelah mengikuti skrining kesehatan, para calon jamaah haji melanjutkan kegiatan pengukuran kebugaran dengan menggunakan metode Rockport. Metode ini digunakan untuk mengukur kebugaran jantung dan paru-paru dengan cara jalan cepat atau lari secara konstan sejauh 1600 meter. Desy Eva Rohmawati, SKM, Katim Substansi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga pada Dinas Kesehatan Kota Metro, menjelaskan, “Semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak 1600 meter, semakin baik status kebugarannya. Untuk peserta berusia 18 hingga 59 tahun, kami menggunakan metode Rockport, sementara untuk usia 60 tahun ke atas, kami menggunakan metode jalan 6 menit.” Setelah tes kebugaran selesai, hasilnya akan menunjukkan kadar volume oksigen yang digunakan peserta selama tes, serta memberikan rekomendasi kebugaran sesuai dengan kondisi fisik mereka. “Yang diukur dalam tes ini bukan jarak, melainkan waktu tempuhnya. Peserta harus berjalan cepat, bukan berjalan santai,” kata Desy. Ini menunjukkan bahwa kecepatan dan ketahanan fisik calon jamaah haji adalah faktor penting dalam pengukuran kebugaran. Rekomendasi olahraga yang diberikan kepada peserta didasarkan pada hasil tes kebugaran mereka. Jika kebugaran mereka kurang optimal, mereka disarankan untuk melakukan olahraga secara rutin yang sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing. Kesiapan fisik menjadi salah satu aspek penting dalam persiapan ibadah haji. Selain kesiapan mental dan spiritual, kondisi tubuh yang bugar sangat dibutuhkan untuk menjalani aktivitas fisik yang intens, seperti berjalan jauh, tawaf, dan sa’i. Dengan adanya kegiatan skrining dan pengukuran kebugaran ini, calon jamaah haji diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih matang untuk menjalani ibadah haji. “Kami ingin memastikan para jamaah haji Kota Metro tidak hanya siap secara spiritual, tetapi juga secara fisik. Melalui kegiatan ini, mereka bisa lebih siap menghadapi tantangan fisik yang ada di Tanah Suci,” tutup Desy Eva Rohmawati. Selain pengukuran kebugaran, para peserta juga mendapatkan edukasi tentang istita’ah, yang merupakan kesanggupan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Edukasi dengan tema ‘Istita’ah Bugar dan Sehat Menuju Haji’ disampaikan oleh dr. Agung Budi Prasetyo, Sp. PD, yang mengingatkan para calon jamaah haji tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik sebelum berangkat haji serta selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Akbar Nafi, SKM, Ketua Tim Kerja Substansi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Metro, juga menyampaikan pentingnya kegiatan edukasi yang telah berlangsung. “Edukasi ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai pentingnya menjaga kesehatan tubuh, tidak hanya sebelum berangkat haji, tetapi juga selama menjalani ibadah di Tanah Suci,” ujar Akbar Nafi. dr. Primalia Sulistiowati, M.Sc., Sp. PK, Ketua Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia (AKHI) Cabang Kota Metro, menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk membantu calon jamaah haji mempersiapkan diri secara fisik. “Kami mengadakan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebugaran fisik bagi calon jamaah haji, sehingga mereka dapat menjalani ibadah haji dengan lebih sehat dan lancar,” ungkap dr. Primalia. Dengan rangkaian kegiatan yang meliputi skrining kesehatan, pengukuran kebugaran, dan edukasi kesehatan, calon jamaah haji Kota Metro diharapkan dapat mempersiapkan diri secara menyeluruh dan melaksanakan ibadah haji dengan lebih lancar dan khusyuk. Laporan Kontributor; Promkes_Dinkes Metro
Kota Metro Bersiap Hadapi Penilaian Kabupaten/Kota Sehat 2025, Tim Pembina KKS Lampung Lakukan Monev”
Metro, 5 Februari 2025 – Dalam upaya meningkatkan kesiapan Kota Metro menghadapi Penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) 2025, Tim Pembina KKS Provinsi Lampung melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di Aula Bappeda Kota Metro. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan indikator di 9 tatanan Kota Sehat serta memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mendukung program Kota Sehat. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro Dr.Eko Hendro Saputra,ST.,MKes yang hal ini diwakili, Diah Meirawati, SKM., M.Kes., selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro, Diah Meira mengungkapkan bahwa pembinaan ini menjadi momen penting bagi Kota Metro untuk mengevaluasi progres yang telah dicapai dan melengkapi indikator yang masih perlu ditingkatkan. “Kami terus berkomitmen dalam mewujudkan Kota Metro sebagai daerah yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan. Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, kami dapat mengidentifikasi tantangan serta solusi yang diperlukan untuk meningkatkan capaian dalam program Kabupaten/Kota Sehat,” ujar Diah Meirawati. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Yulianto, SKM., M.Kes Ia didampingi oleh Yuliana, ST, Ketua Tim Kesling & Kesjaor Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, yang turut memberikan arahan terkait persiapan kabupaten/kota dalam penilaiaan program KKS tahun 2025. Dari Dinas Kesehatan Kota Metro, hadir pula Desy Eva Rohmahwati, SKM., selaku Ketua Tim Kerja Kesling & Kesjaor Dinas Kesehatan Kota Metro, yang memberikan laporan mengenai kondisi terkini persiapan yang telah dan akan dilaksanakan di Kota Metro dalam rangka persiapan penilaian Kota Sehat tahun 2025 “Kami ingin memastikan bahwa semua kabupaten/kota di Lampung siap menghadapi penilaian dengan data yang valid dan program yang berjalan optimal. Sinergi antar sektor, termasuk dengan Bappeda, sangat diperlukan untuk mencapai target Kota Sehat,” ujar Yulianto dalam sambutannya. Beberapa aspek utama yang menjadi fokus dalam kegiatan ini meliputi:Evaluasi Indikator KKS – Meninjau pencapaian indikator yang telah ditetapkan dan melakukan perbaikan terhadap aspek yang masih belum optimal.Pendampingan Lintas Sektor – Melibatkan Dinas Kesehatan, Bappeda, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi.Pengawalan Data dan Verifikasi Lapangan – Memastikan bahwa data yang dikumpulkan sesuai dengan realitas di lapangan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam penilaian. Dengan adanya kegiatan ini, Kota Metro berharap dapat semakin siap dalam menghadapi Penilaian KKS 2025 dan mempertahankan prestasi sebagai kota yang sehat dan berdaya saing, Dinas Kesehatan bersama Bappeda dan lintas sektor akan terus melakukan evaluasi dan pembinaan secara berkelanjutan guna mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan berkualitas bagi masyarakat. Penilaian KKS yang dilakukan setiap tahun ganjil menjadi tantangan bagi setiap daerah untuk terus berinovasi dalam menciptakan kawasan yang mendukung kesehatan masyarakat, Kota Metro berkomitmen menjadikan program ini sebagai bagian dari pembangunan jangka panjang demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan warganya. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/Eci Lindasari,SKM
“Promkes Keliling Sekolah: Upaya Nyata Dinkes Kota Metro dalam Kewaspadaan DBD”
Metro, Januari 2024 – Menghadapi potensi meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) selama musim penghujan, Dinas Kesehatan Kota Metro telah mengambil langkah proaktif melalui serangkaian program yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Langkah ini tertuang dalam surat edaran resmi yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, yang menekankan pentingnya kewaspadaan dini terhadap penyakit ini. Kegiatan ini akan dilaksanakan di seluruh Kota Metro, bertempat jadwal hari ini di sekolah SMANO wilayah kerja UPTD Puskesmas Tejo Agung kegiatan ini di hadiri Plt. Kepala Puskesmas Tejo Agung Opsi Okta Handayani,S.ST.,M.Kes ,Selasa,14 Januari 2025. Dalam upaya pemberantasan DBD, beberapa program unggulan diluncurkan, di antaranya adalah Gerakan Lingkungan Bersih dan Sehat (GELIAT), Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J), dan pelibatan aktif sekolah-sekolah untuk pengawasan rutin. Program ini bertujuan memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama penyebaran DBD, dengan mengurangi genangan air dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan Dr. Eko Hendro Saputra yang hal ini diwakili Bdn. Diah Meirawati, SKM., M.Kes, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat , menyampaikan dalam wawancara eksklusif bahwa langkah ini merupakan solusi yang tepat sasaran, namun memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak. Menurut Diah Meirawati, “Program seperti GELIAT dan G1R1J adalah pendekatan yang inovatif, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi masyarakat dalam menjalankan langkah-langkah preventif.” Ia juga menyoroti pentingnya edukasi berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang bahaya genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, pemberdayaan Juru Pantau Jentik (Jumantik) di setiap rumah dinilai sebagai langkah strategis untuk memonitor langsung keberadaan jentik nyamuk. “Ketika setiap keluarga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah, potensi wabah DBD dapat ditekan secara signifikan,” tambahnya. Menyikapi ancaman meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di musim penghujan, Dinas Kesehatan Kota Metro melalui Promosi Kesehatan (Promkes) telah mengambil langkah proaktif. Salah satu upaya nyata adalah edukasi langsung ke sekolah-sekolah, di mana siswa diajak untuk memahami pentingnya pencegahan DBD dengan pendekatan 3M Plus. Bdn. Diah Meirawati, SKM., M.Kes, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, menjelaskan, “Nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus DBD, memiliki kebiasaan menggigit di waktu pagi dan sore hari. Oleh karena itu, sangat penting bagi anak-anak sekolah untuk melindungi diri mereka dengan cara yang sederhana namun efektif, yaitu 3M Plus.” Apa Itu 3M Plus? • Menguras: Membersihkan dan menyikat tempat penampungan air, seperti bak mandi atau ember, secara rutin untuk mencegah jentik nyamuk berkembang biak. • Menutup: Menutup rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur. • Mendaur ulang: Memanfaatkan kembali barang bekas seperti botol atau kaleng yang berpotensi menjadi tempat genangan air. Plus-nya, siswa juga diajak untuk menggunakan lotion anti nyamuk sebagai perlindungan tambahan selama berada di sekolah, terutama pada pagi hari saat jam belajar dimulai dan sore hari saat aktivitas sekolah berakhir. Bdn. Diah Meirawati menambahkan, “Dengan langkah sederhana seperti 3M Plus, kita dapat menekan risiko DBD secara signifikan. Anak-anak sekolah memiliki peran penting sebagai agen perubahan yang dapat mengajak keluarga mereka untuk melakukan hal yang sama di rumah.” Dalam kegiatan ini, petugas Promkes tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik langsung tentang cara melakukan 3M di lingkungan sekolah. Siswa diajak untuk: • Membersihkan genangan air di sekitar sekolah, • Mengenali tempat-tempat yang sering menjadi sarang nyamuk. • Mempelajari cara aman dan efektif menggunakan lotion anti nyamuk. Sejalan dengan perkembangan teknologi, Dinas Kesehatan juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dan YouTube sebagai alat edukasi. Pesan-pesan preventif dan informasi tentang penanganan DBD disampaikan secara kreatif agar dapat menjangkau generasi muda dan masyarakat umum. Bdn. Diah Meirawati menekankan pentingnya pendekatan ini, “Media sosial adalah alat yang sangat efektif dalam membangun kesadaran publik. Namun, pesan yang disampaikan harus mudah dipahami dan relevan agar masyarakat benar-benar tergerak untuk bertindak.” Kolaborasi menjadi kunci sukses program ini. Kepala keluarga, institusi pendidikan, dan kelompok kerja di tingkat kecamatan dan kelurahan diharapkan aktif menjalankan tugas mereka. Dalam wawancara, Bdn. Diah Meirawati juga mengapresiasi pengaktifan kembali Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Kecamatan sebagai bentuk sinergi yang melibatkan pemerintah dan masyarakat. Dengan program yang terstruktur dan didukung oleh kolaborasi berbagai pihak, upaya Dinas Kesehatan Kota Metro diharapkan mampu mengurangi kasus DBD selama musim penghujan. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Bdn. Diah Meirawati, “Perubahan nyata hanya dapat terjadi jika setiap individu berperan aktif, karena tanggung jawab kesehatan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama.” Kontributor Liputan : Promkes Dinkes Metro_Eci Lindasari
Upaya Dinkes Kota Metro dalam Menanggulangi Penyakit DBD: Gerakan Bersama PSN & PJB
Metro, [Selasa, 31 Desember 2024] – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi perhatian serius di berbagai daerah, tak terkecuali Kota Metro. Untuk mengatasi hal ini, Dinas Kesehatan Kota Metro (Dinkes) mengimplementasikan dua strategi utama: Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemberantasan Jentik Berkala (PJB). Kedua langkah ini bertujuan untuk mengurangi jumlah vektor penyakit dan meminimalkan risiko penyebaran DBD. PSN merupakan langkah preventif yang difokuskan pada pemberantasan sarang nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DBD. Kepala Dinkes Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., MKes, menekankan pentingnya gerakan bersama dalam menangani masalah ini. “PSN adalah gerakan kolektif yang melibatkan masyarakat, Puskesmas, dan berbagai pihak lainnya untuk membersihkan lingkungan dari potensi perindukan nyamuk. Kebersihan lingkungan adalah kunci utama dalam mencegah penyebaran DBD,” ujar Dr. Eko. PSN dilakukan dengan mengedukasi masyarakat agar secara rutin memeriksa dan membersihkan genangan air di sekitar rumah mereka, tempat yang sering menjadi sarang nyamuk. Kegiatan ini meliputi pembersihan bak mandi, selokan, dan tempat-tempat lain yang berpotensi menampung air hujan. Selain PSN, Dinkes Kota Metro juga menjalankan program Pemberantasan Jentik Berkala (PJB), yang bertujuan untuk secara rutin membasmi jentik-jentik nyamuk sebelum berkembang menjadi nyamuk dewasa. Program ini dilakukan secara berkala di wilayah-wilayah yang berisiko tinggi, dengan melibatkan tenaga medis dan masyarakat. “Langkah PJB ini sangat penting untuk memastikan bahwa jentik nyamuk yang berkembang di lingkungan kita dapat dibasmi sejak dini. Dengan melakukan PJB secara berkala, kita dapat menurunkan jumlah nyamuk yang berpotensi menularkan virus DBD,” jelas Dr. Eko. Sebagai bagian dari upaya terstruktur, Dinkes Kota Metro telah menjadwalkan kegiatan Gerakan Bersama PSN dan PJB yang akan dilaksanakan mulai 30 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025. Tim yang terdiri dari petugas Dinkes, Puskesmas, dan Masyarakat akan turun ke lapangan untuk melaksanakan pembersihan sarang nyamuk dan pembasmian jentik secara langsung di wilayah-wilayah yang menjadi prioritas. Kedua program ini juga dilengkapi dengan penyuluhan dan edukasi yang intensif kepada masyarakat. Dinkes Kota Metro bekerja sama dengan Puskesmas dan berbagai organisasi kemasyarakatan untuk memberikan pemahaman tentang cara-cara mencegah DBD, termasuk pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah dengan baik, dan melakukan pemeriksaan rutin terhadap tempat-tempat yang berisiko. Salah satu perwakilan Kepala Puskesmas di Kota Metro, Ibu Rochayani Kepala Puskesmas Ganjar Agung, mengungkapkan bahwa gerakan bersama ini sangat penting dalam menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif. “Gerakan PSN dan PJB yang diinisiasi Dinkes Kota Metro adalah upaya yang sangat penting. Masyarakat harus tahu bahwa mereka memiliki peran besar dalam pencegahan DBD. Tanpa partisipasi aktif dari warga, kita tidak bisa berharap untuk menekan angka kasus DBD secara signifikan,” ujar Rochayani. Dinkes Kota Metro dan Puskesmas tidak hanya mengandalkan pendekatan pencegahan melalui PSN dan PJB, tetapi juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan program ini berjalan dengan baik. “Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan berkoordinasi dengan Puskesmas dan pihak terkait untuk memastikan bahwa semua langkah pencegahan berjalan dengan maksimal,” tambah Dr. Eko. Dinkes Kota Metro juga rutin melakukan penyemprotan fogging di area-area yang rentan terhadap penyebaran DBD. Namun, Dr. Eko menegaskan bahwa fogging hanya merupakan langkah tambahan, dan yang terpenting adalah pencegahan melalui PSN dan PJB yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Melalui gerakan bersama PSN dan PJB, Dinkes Kota Metro berharap dapat menurunkan angka kejadian DBD di wilayah ini. Dr. Eko menambahkan, “Kami berharap dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, kita dapat membentuk kesadaran kolektif yang kuat untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. DBD adalah penyakit yang dapat dicegah, dan kita memiliki kekuatan untuk melakukannya bersama-sama.” Dengan upaya yang terstruktur dan kolaborasi yang solid antara Dinkes, Puskesmas, dan masyarakat, Dinkes Kota Metro berkomitmen untuk menciptakan Kota Metro yang lebih sehat, bebas dari ancaman penyakit DBD. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro_Eci Lindasari,SKM

