Kamis, 23 Mei 2025, Dinas Kesehatan Kota Metro berkomitmennya untuk mendukung program residensi bagi mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat dari Universitas Mitra Indonesia (UMITRA). Program residensi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam praktik pelayanan kesehatan dan meningkatkan kompetensi mereka, khususnya dalam sektor kesehatan masyarakat yang sangat penting untuk mendukung pembangunan kesehatan di Kota Metro. Dalam program ini, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UMITRA tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam praktik langsung, Mereka akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika sistem kesehatan dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung program-program kesehatan masyarakat. Selain residensi di Dinas Kesehatan Kota Metro, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk melaksanakan residensi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro. Ini memberikan mereka pengalaman yang lebih luas dalam memahami tantangan medis yang dihadapi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mahasiswa akan terlibat dalam kegiatan yang mencakup pengelolaan kesehatan, promosi kesehatan, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., MKes, menyatakan, “Program residensi ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di Kota Metro. Melalui kerjasama dengan UMITRA, kami berharap mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat yang mengikuti residensi ini akan memperoleh keterampilan praktis yang diperlukan untuk berkontribusi langsung dalam pelayanan kesehatan di wilayah ini.” Diharapakan program residensi yang dilaksanakan oleh Universitas Mitra Indonesia dengan Dinas Kesehatan Kota Metro akan memberikan dampak besar terhadap pengembangan tenaga kesehatan di Kota Metro, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Semoga Program ini akan terus berlanjut dan diharapkan dapat menjadi model keberhasilan yang dapat direplikasi di wilayah lainnya. “Ungkap” Dr Eko Hendro Dr. Dian Utama Pratiwi Putri, S.Kep., M.Kes, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UMITRA, mengungkapkan , “bahwa Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menerapkan ilmu kesehatan masyarakat dalam konteks nyata. Kami berharap para mahasiswa ini dapat mengisi kebutuhan tenaga kesehatan yang berkualitas di Kota Metro, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat.” Program residensi ini juga bertujuan untuk mempersiapkan lulusan UMITRA agar memiliki keahlian yang lebih komprehensif, tidak hanya dalam bidang teori, tetapi juga dalam keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Lulusan yang mengikuti program ini diharapkan bisa langsung terjun dan berkontribusi di fasilitas kesehatan, baik di Dinas Kesehatan Kota Metro, RSUD Ahmad Yani, maupun fasilitas kesehatan lainnya di Kota Metro. Dengan adanya kerjasama antara Dinas Kesehatan Kota Metro dan Universitas Mitra Indonesia, diharapkan dapat mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya kesehatan masyarakat. Program residensi ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan Magister Kesehatan Masyarakat dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih baik. Ke depannya, diharapkan bahwa program residensi ini akan terus berkembang, memberi kesempatan bagi lebih banyak mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di lapangan, dan pada akhirnya memperkuat sistem kesehatan. Kontributor Liputan :Promkes Dinkes Metro/ Eci Linda
Dinas Kesehatan Kota Metro Tanggap Dugaan Keracunan Pangan di SDN 7 Metro Pusat: Belum Mengarah pada KLB
Metro, 9 Mei 2025 — Dinas Kesehatan Kota Metro menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menanggapi laporan dugaan keracunan pangan yang terjadi di SDN 7 Metro Pusat pada Jumat pagi. Sebanyak 12 siswa kelas 3B mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan jajanan dari kantin sekolah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, mengatakan bahwa begitu menerima laporan, pihaknya langsung menggerakkan tim tanggap yang terdiri dari Puskesmas Yosomulyo, Subtansi Surveilans, dan Subtansi Kesehatan Lingkungan. “Kami mengedepankan deteksi cepat dan lintas koordinasi. Tim surveilans bergerak untuk penyelidikan epidemiologi, tim kesehatan lingkungan melakukan pengawasan makanan, dan Puskesmas Yosomulyo langsung terjun memberikan layanan medis kepada siswa yang bergejala,” ujar Dr. Eko. Peristiwa bermula sekitar pukul 09.00 WIB, ketika siswa kelas 3B mulai mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi goreng, telur orak-arik, acar timun, buah semangka, dan susu kotak. Tidak lama kemudian, satu siswa mengeluhkan mual dan muntah, diikuti oleh 11 siswa lainnya. Beberapa dari mereka juga diketahui sebelumnya membeli jajanan dari kantin sekolah seperti sosis tusuk, cilung, permen jeli, cimol, dan es teh. Meski demikian, dari total 316 siswa penerima MBG, hanya 12 siswa dari satu kelas yang menunjukkan gejala. Mayoritas siswa mengaku merasa mual setelah mencium bau muntahan temannya, yang diduga memicu reaksi psikologis berantai. Puskesmas Yosomulyo menjadi unit pertama yang melakukan tindakan cepat di lokasi. Tim medis langsung memeriksa kondisi anak-anak dan memberikan penanganan awal berupa obat anti mual (domperidon). Seluruh anak dalam kondisi umum yang baik dan tidak ditemukan gejala berat. Sementara itu, Tim Subtansi Surveilans melakukan penyelidikan epidemiologi guna menelusuri pola gejala dan potensi penyebab. Subtansi Kesehatan Lingkungan yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan keamanan pangan, termasuk memeriksa jajanan sekolah dan sistem penyajian MBG langsung memberikan edukasi kepada pihak sekolah. “Kami pastikan seluruh mekanisme respon berjalan sesuai protokol. Sampel makanan MBG juga sudah disimpan di bank sampel pangan di SPPG MBG Metro Pusat 1 untuk pemantauan lanjutan,” tambah Dr. Eko. Hingga saat ini, kejadian ini belum mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan. Tim Dinas Kesehatan masih terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada pihak sekolah agar pengawasan makanan lebih ketat, baik dari MBG maupun kantin. “Kami bersyukur respons cepat tim kami dapat meredam kekhawatiran. Ini bukti sinergi antara layanan kesehatan primer dan Dinas Kesehatan berjalan efektif,” tutup Dr. Eko. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro / E.Linda
Dinas Kesehatan Kota Metro Tindak Cepat Dugaan KLB Keracunan Pangan di SDN 10: Surveilans dan Kesehatan Lingkungan Bergerak Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
Metro, 8 Mei 2025 — Sebanyak 14 siswa SDN 10 Metro Timur dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan pangan usai mengonsumsi susu kedelai yang dijual di lingkungan sekolah. Kejadian yang menggemparkan ini terjadi pada Kamis pagi (8/5), dan langsung mendapatkan respons cepat dari Dinas Kesehatan Kota Metro. Dalam hitungan jam setelah laporan diterima, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, langsung menginstruksikan tim gabungan dari Subtansi Surveilans dan Subtansi Kesehatan Lingkungan untuk turun ke lokasi guna melakukan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh. Langkah cepat ini merupakan bentuk komitmen Dinas Kesehatan dalam perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dasar yang menjadi kelompok rentan. Dalam proses penanganan awal, Dinas Kesehatan juga langsung berkoordinasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Lampung. Setelah dihubungi oleh tim Dinas Kesehatan, BPOM bergerak cepat dan langsung turun ke SDN 10 pada hari kejadian. Mereka secara langsung melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman yang diduga menjadi sumber keracunan. Sampel yang diambil antara lain susu kedelai, es teh, cilor, bakso tusuk sambal, gorengan, hingga saus sambal. Sampel-sampel tersebut kini tengah melalui proses uji laboratorium di BPOM untuk mengetahui kandungan bahan, kemungkinan kontaminasi, serta faktor lain yang bisa menyebabkan keracunan. Subtansi Surveilans bertanggung jawab dalam mengidentifikasi pola dan potensi sumber penyebab kejadian luar biasa (KLB), dengan melakukan wawancara terstruktur kepada siswa, guru, penjaga kantin, dan pihak terkait. Tim ini juga memverifikasi kronologi serta jumlah kasus untuk memastikan bahwa insiden tersebut memenuhi kriteria KLB. Sementara itu, tim dari Subtansi Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengambilan sampel makanan dan minuman yang beredar di lingkungan sekolah. Dalam kasus ini, sampel susu kedelai, es teh, cilor, bakso sambal, gorengan, dan saus sambal diambil untuk uji laboratorium. Semua sampel telah dikirim ke BPOM Provinsi Lampung untuk dianalisis lebih lanjut, guna memastikan apakah terjadi kontaminasi bakteri, cemaran kimia, atau penyimpangan dalam proses produksi dan penyajian. Dr. Eko Hendro Saputra menegaskan bahwa penyelidikan epidemiologi ini tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab pasti keracunan, tetapi juga sebagai dasar penguatan pengawasan makanan jajanan di sekolah. “Kami mendorong seluruh sekolah agar hanya menyediakan makanan dan minuman yang telah melalui proses verifikasi dan aman dikonsumsi. Dinas Kesehatan tidak akan tinggal diam bila ada risiko yang mengancam keselamatan anak-anak kita,” tegasnya. Beliau juga menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik penitipan makanan oleh wali murid yang tidak melalui pengawasan ketat. Kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan sekolah dalam memastikan keamanan pangan di lingkungan pendidikan. Dinas Kesehatan juga memastikan bahwa seluruh siswa yang terdampak telah mendapatkan perawatan yang diperlukan, baik di Puskesmas maupun di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro. Pemantauan kesehatan pasca-kejadian terus dilakukan oleh petugas surveilans lapangan. Selain itu, tim kesehatan lingkungan akan melakukan pembinaan terhadap pihak sekolah dan kantin, serta mendorong penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan yang lebih ketat. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pengawasan makanan di sekolah tidak bisa dianggap sepele. Peran aktif dinas kesehatan, seperti yang ditunjukkan oleh Dinkes Kota Metro, sangat vital dalam memastikan lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi generasi penerus bangsa. Penyelidikan epidemiologi yang cepat dan terkoordinasi menunjukkan bahwa tata kelola respons KLB di Kota Metro berjalan efektif, dan harus terus diperkuat ke depannya. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/E.Linda
Upaya Dinas Kesehatan Kota Metro Tingkatkan Pelayanan Bayi Baru Lahir: “Eko Hendro Gelar Peningkatan Kapasitas Nakes Secara Hybrid”
Metro, 28 April 2025 – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bayi dan balita, Dinas Kesehatan Kota Metro mengadakan pertemuan dengan tema “Peningkatan Kapasitas Nakes tentang Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita.” Acara ini berlangsung dalam metode hybrid, menggabungkan pertemuan online dan offline, guna memastikan akses yang lebih luas bagi para peserta di berbagai tempat. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Senin, 28 April 2025 ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, S.T., M.Kes. Dalam sambutannya, Dr. Eko Hendro Saputra menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para tenaga kesehatan (nakes) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan bayi dan balita di Kota Metro. “Melalui pertemuan ini, kami berharap dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan nakes dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal bagi bayi dan balita, sebagai upaya untuk Menuju Generasi Emas 2045 “ ujar Eko Hendro” Diah Meirawati, SKM., M.Kes, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro, juga memberikan pemaparan terkait pentingnya peran nakes dalam menjaga kesehatan bayi dan balita. “Kegiatan ini adalah salah satu langkah nyata kami dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesehatan anak, khususnya bayi dan balita. Dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, diharapkan dapat mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan,” ujar Diah. Sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendukung kesehatan bayi baru lahir, kegiatan ini juga berfungsi untuk menunjang pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) yang akan dilaksanakan pada 1 Mei 2025. Program ini bertujuan untuk melaksanakan skrining kesehatan pada bayi baru lahir, yang melibatkan pemeriksaan yang komprehensif untuk mendeteksi berbagai kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Pemeriksaan skrining ini meliputi deteksi dini terhadap beberapa masalah kesehatan serius, termasuk gangguan pada kelenjar tiroid yang dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, penyakit jantung bawaan yang bisa berpotensi fatal jika tidak segera ditangani, serta gangguan pada kelenjar adrenal yang dapat mempengaruhi produksi hormon. Selain itu, skrining juga mencakup pengujian untuk mendeteksi defisiensi enzim yang dapat menyebabkan anemia, pemeriksaan pendengaran untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi yang dapat menghambat perkembangan bahasa, serta pemeriksaan mata pada bayi prematur untuk mendeteksi kemungkinan kerusakan mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat melaksanakan skrining dengan tepat dan efektif, sehingga dapat mendeteksi kelainan pada bayi sedini mungkin dan memberikan intervensi yang diperlukan untuk mencegah atau mengurangi dampak jangka panjang. Pertemuan ini melibatkan berbagai peserta dari sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Kota Metro, termasuk RSUD Ahmad Yani Metro dan puskesmas lainnya. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh berbagai praktisi kesehatan, termasuk tenaga medis dan paramedis yang terlibat langsung dalam penanganan kesehatan anak-anak. Dengan tema yang sangat relevan di tengah upaya besar dalam meningkatkan kualitas hidup anak di Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat lokal. Acara ini juga menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait implementasi praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan anak, yang diharapkan dapat diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan di Kota Metro. Dinas Kesehatan Kota Metro terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bayi dan balita, guna mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik di masa depan. Kontributor Liputan : Eci Lindasari_Promkes Dinkes Metro

