METRO – Yayasan Baitul Maal BRILiaN Regional Office Bandar Lampung melaksanakan Exit Program Cegah Stunting Tahun 2025 di Gedung Aula Kelurahan Banjarasari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Rabu, 24 Desember 2025. Program ini mencatat penurunan kasus stunting dan perbaikan status gizi balita secara terukur. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST, M.Kes, berhalangan hadir dan diwakili Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kota Metro, Desy Eva Rohmawati, SKM, MM. Ia menegaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan intervensi berkelanjutan. Desy menyampaikan bahwa berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kota Metro tercatat 14,8 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan. Namun, percepatan tetap memerlukan penguatan deteksi dini, edukasi, dan intervensi gizi di tingkat masyarakat. “Upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu melalui posyandu, pendampingan ibu hamil dan balita, serta intervensi yang tepat sasaran,” ujarnya. Pemerintah Kecamatan Metro Utara menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Camat Metro Utara yang diwakili Sekretaris Camat Basuki Rahmat menegaskan bahwa stunting merupakan masalah nasional yang tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja. Menurut Basuki Rahmat, keberhasilan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Ia menilai keterlibatan YBM BRILiaN menjadi contoh nyata peran sektor non-pemerintah dalam mendukung program kesehatan. “Kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan agar target penurunan stunting dapat tercapai secara berkelanjutan,” katanya. Kegiatan ini juga dihadiri Pemimpin Cabang BRI BO Metro, Jamali, serta perwakilan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung, Amir. Pemimpin Cabang BRI BO Metro, Jamali, menegaskan bahwa BRI berkomitmen menyalurkan dana zakat dan infak pegawai melalui program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Melalui YBM BRILiaN, BRI menyalurkan bantuan pendidikan, sembako, serta apresiasi kepada kader. Kami ingin kehadiran BRI benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Jamali. Dalam kegiatan tersebut, YBM BRILiaN menyalurkan bantuan paket pendidikan kepada 20 anak SD Negeri 1 Metro Utara. Bantuan ini diharapkan dapat membantu kebutuhan sekolah anak sekaligus mendorong semangat belajar. Selain bantuan pendidikan, BRI melalui YBM BRILiaN juga memberikan bantuan sembako kepada masyarakat penerima manfaat serta apresiasi kepada para kader yang aktif mendampingi program di tingkat kelurahan. Lurah Banjarasari Nila Kusumawati, S.IP, M.Si, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kontribusi BRI serta YBM BRILiaN terhadap warganya. “Kami sangat berterima kasih kepada BRI dan YBM BRILiaN. Bantuan pendidikan, sembako, dan perhatian kepada kader sangat membantu masyarakat Banjarasari,” kata Nila Kusumawati. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Banjarasari, dr. Balkis, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada YBM BRILiaN atas dukungan yang diberikan melalui Program Cegah Stunting. “Program ini sangat membantu upaya puskesmas dalam meningkatkan status gizi balita. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya. Ia berharap kolaborasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan YBM BRILiaN dapat terus berlanjut agar upaya pencegahan stunting berjalan konsisten dan berkesinambungan. Perwakilan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung, Amir, menjelaskan bahwa seluruh bantuan tersebut bersumber dari zakat dan infak pegawai BRI yang dikelola secara amanah. “Program ini merupakan bagian dari lima pilar YBM BRILiaN. Total dana yang disalurkan mencapai Rp100 juta untuk wilayah Metro dan Bandar Lampung,” jelas Amir. Melalui kegiatan ini, BRI BO Metro dan YBM BRILiaN menegaskan peran sektor perbankan sebagai mitra pembangunan sosial yang hadir langsung dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kontributor Liputan:Eci Lindasari, SKM
Program Cegah Stunting YBM BRILiaN Berhasil, Puluhan Balita Metro Alami Perbaikan Gizi
METRO – Yayasan Baitul Maal BRILiaN Regional Office Bandar Lampung melaksanakan Exit Program Cegah Stunting Tahun 2025 di Gedung Aula Kelurahan Banjarasari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Rabu, 24 Desember 2025. Program ini mencatat penurunan kasus stunting dan perbaikan status gizi balita secara terukur. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST, M.Kes, berhalangan hadir dan diwakili Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kota Metro, Desy Eva Rohmawati, SKM, MM. Ia menegaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan intervensi berkelanjutan. Desy menyampaikan bahwa berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kota Metro tercatat 14,8 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan. Namun percepatan tetap memerlukan penguatan deteksi dini, edukasi, dan intervensi gizi di tingkat masyarakat. “Upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu melalui posyandu, pendampingan ibu hamil dan balita, serta intervensi yang tepat sasaran,” ujarnya. Pemerintah Kecamatan Metro Utara menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Camat Metro Utara yang diwakili Sekretaris Camat Basuki Rahmat menegaskan bahwa stunting merupakan masalah nasional yang tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja. Menurut Basuki Rahmat, keberhasilan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Ia menilai keterlibatan YBM BRILiaN menjadi contoh nyata peran sektor non-pemerintah dalam mendukung program kesehatan. “Kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan agar target penurunan stunting dapat tercapai secara berkelanjutan,” katanya. Fasilitator Kesehatan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung, Shera Artina, S.Gz, menjelaskan bahwa program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) menyasar 40 balita usia 6 hingga 59 bulan. Rinciannya, 25 balita berasal dari Kelurahan Banjarasari dan 15 balita dari Kelurahan Purwosari. Hasil pemantauan menunjukkan 34 balita mengalami kenaikan berat badan sesuai target, sementara 6 balita belum mencapai target. Data awal mencatat 29 balita dengan status gizi berat badan kurang. Setelah intervensi PMT selama 90 hari, jumlah tersebut turun menjadi 21 balita. Kasus stunting juga menurun dari 27 balita menjadi 20 balita. Sementara itu, jumlah balita dengan kondisi gizi kurang atau wasting berkurang dari 17 balita menjadi 12 balita. Shera menyebutkan bahwa intervensi gizi yang disertai pendampingan dan edukasi memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi balita. Selain intervensi kesehatan, YBM BRILiaN juga menyalurkan bantuan paket pendidikan kepada 20 siswa SD Negeri 1 Metro Utara sebagai bagian dari pendekatan holistik terhadap tumbuh kembang anak. Kegiatan ini turut dihadiri Lurah Banjarasari Nila Kusumawati, S.IP, M.Si, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Pimpinan Cabang BRI BO Metro Jamali menyampaikan komitmen BRI dalam mendukung program sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sementara perwakilan YBM BRILiaN Regional Office Bandar Lampung Amir menjelaskan bahwa program ini dibiayai dari pengelolaan zakat dan infak pegawai BRI melalui lima pilar program, yaitu pendidikan, ekonomi, kesehatan, dakwah, dan sosial kemanusiaan. Program Cegah Stunting YBM BRILiaN berfokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan melalui intervensi gizi, pemberian PMT, edukasi, serta pendampingan fasilitator kesehatan. Total penyaluran dana dalam program ini mencapai Rp100 juta, bersumber dari zakat dan infak pegawai BRI di wilayah Metro dan Bandar Lampung. Kepala UPTD Puskesmas Banjarasari, dr. Balkis, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada YBM BRILiaN atas dukungan yang diberikan melalui Program Cegah Stunting. “Program ini sangat membantu upaya puskesmas dalam meningkatkan status gizi balita. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya. Ia berharap kolaborasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan YBM BRILiaN dapat terus berlanjut agar upaya pencegahan stunting berjalan konsisten dan berkesinambungan. Kontributor Liputan : Eci Lindasari,SKM
Akhir 2025 Bukan Seremonial, Asesmen Kader Posyandu Menjadi Tolok Ukur Kesiapan 2026
Banjarsari, Rabu 17 Desember 2025Asesmen kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dilaksanakan Puskesmas Banjarsari pada Rabu (17/12/2025) menjadi penanda akhir rangkaian panjang pembinaan kader kesehatan sepanjang tahun 2025. Kegiatan ini menutup proses peningkatan kapasitas kader yang selama setahun terakhir difokuskan pada penguatan peran Posyandu sebagai simpul utama layanan kesehatan primer di tingkat komunitas. Berbeda dari asesmen yang bersifat awal, penilaian ini berfungsi sebagai evaluasi akhir untuk mengukur sejauh mana pembinaan, pelatihan, dan pendampingan yang telah dilakukan benar-benar membentuk kecakapan kader di lapangan. Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan 25 kompetensi dasar yang menjadi fondasi pelaksanaan Integrasi Layanan Primer. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr Balkis, menyampaikan bahwa asesmen ini menjadi cermin kinerja pembinaan kader selama satu tahun penuh.“Ini bukan sekadar menilai kader hari ini, tetapi membaca hasil proses panjang pembinaan sepanjang 2025. Dari sini kami bisa melihat apakah Posyandu sudah siap menjalankan peran layanan primer secara utuh,” ujar dr Balkis. Dalam asesmen tersebut, kader diuji melalui praktik langsung dan simulasi pelayanan yang mencerminkan situasi nyata di Posyandu. Penilaian dilakukan secara rinci menggunakan daftar tilik, mulai dari ketepatan pencatatan dan pelaporan, kemampuan komunikasi edukatif, hingga keterampilan teknis seperti pengukuran antropometri dan skrining awal faktor risiko penyakit tidak menular. Hasil asesmen selanjutnya digunakan untuk menetapkan strata kecakapan kader, yakni Purwa, Madya, dan Utama. Stratifikasi ini menjadi dasar penataan peran kader pada tahun berikutnya, sekaligus bahan perencanaan pembinaan lanjutan agar penguatan kapasitas lebih terarah dan berbasis kebutuhan nyata. Menurut dr Balkis, asesmen penutup tahun ini juga menjadi momentum konsolidasi peran kader dan tenaga kesehatan.“Integrasi layanan primer hanya bisa berjalan jika kader dan tenaga kesehatan bergerak dalam satu ritme. Asesmen ini memastikan standar pelayanan yang sama sebelum memasuki tahun berikutnya,” katanya. Dengan berakhirnya asesmen kader Posyandu ILP ini, Puskesmas Banjarsari menegaskan komitmennya untuk menjadikan Posyandu sebagai layanan kesehatan masyarakat yang aktif, responsif, dan berkesinambungan. Evaluasi akhir tahun ini diharapkan menjadi pijakan kuat untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat pada 2026 Kontributor Liputan : Eci Lindasari
Mengapa Banyak Warga Merasa Rezekinya Seret? Ini Temuan dari Pendampingan Emosional di Puskesmas
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat – Puskesmas Banjarsari, Rabu 26 November 2025 Puskesmas Banjarsari menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dihadiri puluhan ibu-ibu, kader kesehatan, dan warga lanjut usia. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Pada kesempatan ini, tim Puskesmas memberikan sosialisasi mengenai manajemen stres dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan hidup, termasuk keluhan warga tentang rezeki yang terasa “seret”, bertempat di salah satu rumah kader posyandu. Kegiatan ini menjadi bagian dari inovasi Puskesmas Banjarsari yaitu Konseling Curhat Sehat, sebuah program pendampingan emosional yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Pernyataan Kepala Puskesmas Banjarsari Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menyampaikan perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam pelayanan kesehatan primer. Menurut beliau: “Banyak warga yang datang dengan keluhan fisik, namun ketika digali, ternyata akarnya adalah kelelahan emosional. Pendampingan seperti ini penting agar masyarakat memiliki ruang aman untuk bercerita, memahami stresnya, dan belajar mengelola tekanan hidup secara lebih sehat. Pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya menyentuh tubuh, tetapi juga hati dan pikiran.” dr. Balkis menegaskan bahwa Puskesmas Banjarsari akan terus menghadirkan edukasi dan dukungan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan Emosional sebagai Pendekatan Baru Pendampingan emosional yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat untuk membantu individu mengenali emosi, memahami sumber stres, dan mengembangkan strategi sederhana dalam mengelola tekanan psikososial. Pendekatan ini bersifat non-terapeutik, edukatif, dan dilakukan dalam batas kompetensi tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas. Melalui pendekatan ini, warga memperoleh pemahaman dasar mengenai tekanan emosional yang sering kali tidak disadari, tetapi berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari. Temuan dari Lapangan: Stres dan Rezeki yang Terasa Terhambat Dalam dialog bersama peserta, terlihat pola serupa: banyak warga yang merasakan rezekinya “seret” bukan semata karena faktor ekonomi, tetapi dipengaruhi oleh beban mental yang tidak tertangani. Keluhan yang muncul meliputi: Sebagian besar warga mengaku memendam stres sendirian tanpa memiliki tempat aman untuk bercerita. Beban ini membuat pikiran mudah keruh, tubuh cepat lelah, dan semangat kerja menurun. Mengapa Stres Mempengaruhi Kelancaran Rezeki Dalam sesi Curhat Sehat dijelaskan bahwa stres dapat memengaruhi: Program Curhat Sehat menjadi sarana yang membantu warga memahami dirinya. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan empatik dan tidak menghakimi. Banyak peserta yang mengaku merasakan kelegaan setelah bercerita dan mendapatkan perspektif baru mengenai situasi hidup mereka. Ketika emosi tidak stabil, kualitas hidup ikut menurun. Hal ini memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, serta pola keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan ekonomi keluarga. Ruang Aman untuk Mengurai Beban Batin Beberapa warga bahkan menyampaikan bahwa setelah memahami emosinya, mereka mulai lebih tenang, lebih teratur, dan lebih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan pikiran jernih. Ketika Emosi Pulih, Hidup Ikut Lebih Terbuka Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kebutuhan aktual warga dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pendampingan emosional di Puskesmas Banjarsari menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada kondisi fisik, tetapi juga pada ketenangan batin dan keseimbangan emosi. Dengan menyediakan ruang aman melalui program Konseling Curhat Sehat, Puskesmas berupaya membantu masyarakat mengelola stres, memperbaiki kualitas hidup, dan mendukung kesejahteraan keluarga secara menyeluruh. Puskesmas Banjarsari berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kebutuhan aktual warga dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Konseling Curhat Sehat Jadi Ruang Baru Warga Kota Metro Mengelola Kecemasan dan Isu Sosial
Warga Semakin Rentan Terpengaruh Isu, Layanan Konseling Puskesmas Banjarsari Jadi Rujukan Metro, Lampung — Fenomena warga yang mudah terpengaruh isu, rumor, dan komentar sosial menjadi perhatian layanan Konseling Curhat Sehat di Puskesmas Banjarsari. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah warga yang datang dengan keluhan terkait kecemasan akibat “isu sosial” meningkat cukup signifikan. Konselor Curhat Sehat menyebut bahwa masalah yang muncul bukan hanya berkaitan dengan kurangnya informasi, tetapi berkaitan erat dengan pola psikologis masyarakat yang semakin sensitif terhadap tekanan sosial. “Kami mendapati banyak warga yang datang bukan karena masalah fisik, tetapi karena gelisah terhadap kabar atau perkataan orang. Mereka merasa takut, cemas, dan sering kali tidak punya tempat aman untuk memeriksa kebenaran informasi itu,” kata Konselor Curhat Sehat, Selasa, 25 November 2025 Menurutnya, kerentanan warga terhadap isu dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu lemahnya penyaringan informasi, ketidakstabilan emosi, dan minimnya kebiasaan berpikir kritis. Ketiganya muncul sebagai kombinasi yang membuat masyarakat mudah terseret arus rumor, terutama yang bernada negatif. “Sebagian warga memiliki filter sosial yang tipis sehingga apa pun yang didengar langsung diterima tanpa disaring. Sementara kemampuan regulasi emosinya juga belum stabil, sehingga informasi kecil bisa memicu kecemasan besar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus, warga yang mudah terseret isu bukanlah orang yang lemah atau tidak cerdas. Sebaliknya, mereka memiliki kepribadian sensitif, peduli, dan sangat memperhatikan lingkungan sosialnya. Namun tanpa pengelolaan emosi yang baik, kondisi itu membuat mereka semakin mudah terpengaruh. Fenomena mental ini juga dipengaruhi oleh tekanan sosial dari media digital yang terus berkembang. Arus informasi yang cepat membuat masyarakat tidak memiliki waktu cukup untuk memverifikasi kabar yang diterimanya. “Ketahanan psikologis perlu dibangun. Yang diperlukan bukan menutup telinga, tetapi menguatkan pikiran agar mampu memeriksa informasi dengan tenang,” tambahnya. Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, Puskesmas Banjarsari menghadirkan layanan Konseling Curhat Sehat sebagai ruang aman bagi warga untuk bercerita, memperoleh edukasi psikososial, dan mendapatkan pendampingan emosional. Layanan ini menggabungkan pendekatan psikologi spiritual, konseling emosional, dan teknik grounding yang membantu warga meredakan kecemasan. Keluhan yang paling sering muncul antara lain kecemasan akibat gosip lingkungan, rasa takut dinilai orang lain, tekanan keluarga, hingga dampak rumor yang tidak memiliki bukti jelas. “Satu per satu warga mulai memahami bahwa tidak semua informasi harus dipercaya, dan tidak semua bisikan harus ditanggapi. Kami membantu mereka menemukan kembali ketenangan serta kemampuan memilah informasi,” katanya. Puskesmas Banjarsari berharap layanan ini dapat memperkuat ketahanan mental masyarakat, mengurangi konflik sosial berbasis isu, serta membantu warga menjalani kehidupan yang lebih sehat baik secara fisik maupun emosional.
Puskesmas Banjarsari Gelar Penjaringan Kesehatan di SMK Ma’arif 1 Metro: Cegah Dini, Wujudkan Generasi Sehat dan Produktif
Kota Metro — Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan remaja sekolah dan mendorong perilaku hidup sehat, Puskesmas Banjarsari melaksanakan kegiatan Penjaringan Kesehatan Siswa di SMK Ma’arif 1 Metro, pada Senin, 10 November 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Puskesmas Banjarsari dalam mendeteksi dini masalah kesehatan pada remaja serta memperkuat program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) di lingkungan sekolah. Serangkaian pemeriksaan dilakukan oleh tim kesehatan, meliputi deteksi dini penyakit tidak menular, pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan ketajaman penglihatan (tes visus), serta pemeriksaan menggunakan alat Smokerlyzer alat non-invasif untuk mengukur kadar racun karbon monoksida (CO) akibat paparan asap rokok dalam tubuh seseorang. Pemeriksaan ini sekaligus menjadi sarana edukasi dalam kampanye Promosi Kesehatan “Berhenti Merokok” di kalangan pelajar. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, mengatakan bahwa kegiatan penjaringan kesehatan ini sangat penting untuk membentuk kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak usia sekolah. “Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi lebih awal potensi masalah kesehatan pada remaja. Dengan pemeriksaan seperti tekanan darah, gigi, mata, dan smokerlyzer, kami bisa mengidentifikasi risiko yang mungkin dialami siswa, sekaligus memberikan edukasi agar mereka mulai peduli terhadap gaya hidup sehat,” ujar dr. Balkis. Ia menambahkan, usia remaja merupakan fase penting untuk membangun kebiasaan sehat, karena pada masa inilah gaya hidup seseorang mulai terbentuk. “Kami berharap melalui kegiatan seperti ini, para siswa tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga termotivasi untuk menjaga diri, menjauhi rokok, serta memperhatikan pola makan dan kebersihan gigi,” lanjutnya. Kegiatan penjaringan kesehatan di SMK Ma’arif 1 Metro berlangsung lancar dan disambut antusias oleh para siswa serta pihak sekolah. Para peserta terlihat aktif mengikuti pemeriksaan sambil mendapatkan penjelasan langsung dari petugas medis mengenai hasil dan tindak lanjut kesehatannya. Melalui kegiatan ini, Puskesmas Banjarsari menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai tempat pengobatan, tetapi juga sebagai mitra edukasi kesehatan bagi generasi muda. Cegah Dini, Hidup Sehat, dan Wujudkan Sekolah Sehat Bersama Puskesmas Banjarsari.” Liputan Kontributor : PromkesMetro_Eci Lindasari,SKM
Menjadi Kader Posyandu Bukan Sekadar Tugas, Tapi Cahaya di Lingkungan
Menjadi Kader Bukan Sekadar Tugas, Tapi Cahaya di Lingkungan Kadang, menjadi kader itu terasa sederhana datang ke posyandu, menimbang balita, mencatat buku KIA, mengingatkan ibu hamil agar periksa.Namun, di balik kesederhanaan itu, ada cahaya yang tak semua orang bisa lihat. Cahaya itu lahir dari hati yang tulus, dari langkah yang selalu hadir di tengah warga.Bukan karena disuruh, tapi karena peduli.Bukan karena ingin pujian, tapi karena ingin lingkungan sehat dan bahagia. Menjadi kader bukan soal seragam atau jadwal kegiatan.Ini tentang menjadi penjaga kehidupan kecil bayi yang tumbuh sehat, ibu yang kuat, keluarga yang sadar akan pentingnya kesehatan.Tentang menjadi sahabat di tengah masyarakat, yang selalu siap mendengar, menenangkan, dan menuntun. Kadang, kerja kader tak terdengar.Tak ada sorotan kamera, tak banyak ucapan terima kasih.Tapi percayalah setiap senyum balita, setiap warga yang sembuh, setiap ibu yang merasa didampingi…Semua itu adalah pahala yang abadi, tanda bahwa cahaya kecilmu menerangi banyak hati. Karena menjadi kader bukan sekadar tugas.Itu panggilan jiwa.Dan setiap panggilan yang dijawab dengan cinta akan selalu membawa terang bagi sekelilingnya. Karya: Eci Lindasari — “Menjadi Kader Bukan Sekadar Tugas, Tapi Cahaya di Lingkungan”
Kapus Puskesmas Banjarsari dr. Balkis Sebut Kader Posyandu Garda Terdepan Jaga Kesehatan Warga Metro Utara
METRO — Kepala UPTD Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menegaskan bahwa kader pos pelayanan terpadu (posyandu) merupakan garda terdepan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Provinsi Lampung. Hal itu disampaikannya saat kegiatan pembinaan kader posyandu di Posyandu Mawar Merah pada Rabu (8/10/2025) dan Posyandu Lestari pada Sabtu (11/10/2025) di Kelurahan Banjarsari. “Saya sangat mengapresiasi semangat dan dedikasi para kader posyandu yang selalu hadir membantu masyarakat dalam setiap kegiatan pelayanan kesehatan. Mereka adalah ujung tombak keberhasilan program kesehatan di tingkat kelurahan,” ujar dr. Balkis. Menurutnya, kader posyandu memiliki peran penting dalam mendukung berbagai program pemerintah, terutama di bidang kesehatan ibu dan anak, pemantauan tumbuh kembang balita, pencegahan stunting, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). “Melalui kegiatan posyandu, masyarakat mendapatkan layanan kesehatan dasar dengan cepat, mudah, dan terjangkau. Semua ini tidak lepas dari kerja keras dan kepedulian para kader yang bekerja dengan tulus di tengah masyarakat,” jelasnya. Lebih lanjut, dr. Balkis menambahkan bahwa Puskesmas Banjarsari secara berkelanjutan memberikan pembinaan keterampilan kepada kader melalui pelatihan 25 kompetensi dasar kader posyandu. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan kader dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar secara mandiri dan profesional. “Kami senantiasa melakukan pembinaan untuk meningkatkan kecakapan kader melalui jenjang kategori Purwa, Madya, dan Utama. Dengan sistem ini, kader dapat berkembang sesuai tingkat kemampuan dan pengalaman mereka dalam melaksanakan tugas di lapangan,” terangnya. Saat ini, di wilayah Kelurahan Banjarsari terdapat 82 kader posyandu aktif yang tersebar di sejumlah posyandu binaan Puskesmas Banjarsari. Para kader secara rutin melaksanakan kegiatan penimbangan balita, pemeriksaan ibu hamil, penyuluhan gizi, serta kegiatan promotif dan preventif lainnya. Sebagai bentuk komitmen, Puskesmas Banjarsari terus memperkuat kapasitas kader agar semakin berdaya dan tangguh dalam mendukung upaya pemerintah mewujudkan masyarakat sehat. “Dengan dukungan para kader, tenaga kesehatan, dan masyarakat, kami optimistis Metro Utara dapat menjadi wilayah yang lebih sehat, tangguh, serta bebas stunting,” tutup dr. Balkis. Kontributor Liputan : Eci Lindasari
Dua Hari Gebrakan Puskesmas Banjarsari: Dari Musyawarah Warga hingga Launching PMT Cegah Stunting
“Puskesmas Banjarsari: Sahabat Sehat Keluarga, Pelopor Cegah Stunting di Metro Utara” Metro – Puskesmas Banjarsari kembali berkomitmen selalu memberikan layanan terbaik untuk masyarakat dan juga sebagai pelopor inovasi layanan kesehatan di Metro Utara. Dalam dua hari berturut-turut, puskesmas ini menggelar kegiatan besar yang menegaskan komitmennya melawan stunting. Rangkaian kegiatan dimulai dengan Musyawarah Masyarakat Kelurahan (MMK) pada Rabu, 1 Oktober 2025, di Posyandu Lestari RW 08 Kelurahan Banjarsari. Keesokan harinya, dilanjutkan dengan Launching Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Cegah Stunting pada Kamis, 2 Oktober 2025, di Kota Metro. Hari Pertama: Musyawarah Masyarakat Kelurahan Kegiatan MMK membahas kondisi gizi balita di Kelurahan Banjarsari sekaligus menyusun langkah bersama untuk mencegah stunting yang juga di hadiri Lurah Banjarsari Nila Kusumawati, S.IP., M.Si. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya forum diskusi, tetapi gerakan bersama masyarakat,“Melalui forum ini, kami ingin mengidentifikasi masalah kesehatan di tingkat kelurahan, khususnya kasus gizi pada balita, sekaligus menyusun solusi yang tepat agar angka stunting bisa ditekan. Puskesmas Banjarsari siap menjadi mitra keluarga dalam mewujudkan generasi sehat,” ungkap dr. Balkis. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan SIGIZIKESGA 2025 menunjukkan adanya 25 balita di Banjarsari yang mengalami masalah gizi. Mereka menjadi sasaran utama program PMT cegah stunting yang didukung oleh YBM Brilian. Ahli gizi Puskesmas, Shera Artina, S.Gz, turut memberikan pemaparan mengenai program PMT 90 hari berbasis Pos Gizi. “Menu olahan sederhana seperti ubi, pisang, ayam, dan ikan bisa menjadi sumber gizi seimbang bagi anak, tanpa harus mahal,” jelas Shera. Hari Kedua: Launching Program PMT Sehari setelah musyawarah, Puskesmas Banjarsari melaksanakan Launching Program PMT Cegah Stunting di Kota Metro. Kegiatan ini didukung penuh oleh YBM Brilian Bandar Lampung, yang diwakili oleh Pak Amir. Acara berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan edukasi gizi, demo masak makanan sehat, pengukuran berat badan dan tinggi badan anak, serta makan bersama. Dalam sambutannya, dr. Balkis menegaskan pentingnya program ini. “Kami ingin memastikan balita mendapatkan makanan tambahan bergizi yang sesuai kebutuhan mereka. Program ini adalah langkah nyata Puskesmas Banjarsari bersama YBM Brilian dalam melahirkan generasi sehat,” tegasnya. Sementara itu, Pak Amir dari YBM Brilian menyampaikan apresiasinya. “Perbaikan gizi anak adalah investasi masa depan bangsa. Kami mendukung penuh langkah Puskesmas Banjarsari yang inovatif ini,” ujarnya. Suasana kegiatan semakin hidup dengan partisipasi warga. Anak-anak tampak gembira mengikuti pengukuran berat badan dan tinggi badan, sementara para ibu antusias menyaksikan demo masak dan menikmati hasil olahan sehat bersama. Dua hari berturut-turut dengan agenda dan komitmen dari semua pihak hal ini menegaskan bahwa Puskesmas Banjarsari bukan hanya fasilitas kesehatan biasa, melainkan pusat inovasi dan penggerak perubahan sosial di Metro Utara, Dengan strategi berbasis masyarakat, pendekatan edukasi gizi yang sederhana namun efektif, serta kemitraan strategis bersama YBM Brilian, Puskesmas Banjarsari tampil sebagai contoh nyata puskesmas modern yang menginspirasi wilayah lain. “Visi kami jelas: menjadikan Banjarsari sebagai kelurahan sehat, dengan anak-anak yang tumbuh optimal, cerdas, dan bebas stunting. Puskesmas Banjarsari akan selalu hadir dengan inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas dr. Balkis. 🖊️ Liputan Kontributor Promkes :Eci Lindasari 📸 Dokumentasi: Puskesmas Banjarsari
Mini Lokakarya Stunting Digelar Serentak se-Kota Metro 2025, Metro Utara Dorong Inovasi “Kumbang Lestari”
Metro – Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (PPPAPPKB) menggelar Mini Lokakarya (Lokmin) Stunting tingkat kecamatan secara serentak di seluruh wilayah Kota Metro, Senin,30 September 2025 bertempat di Aula Kecamatan Metro Utara Kepala Dinas PPPAPPKB Kota Metro, Subehi, S.STP., M.M., menegaskan bahwa lokmin stunting menjadi forum penting bagi camat, puskesmas, dan lintas sektor untuk melakukan koordinasi, evaluasi, sekaligus merumuskan strategi percepatan penurunan stunting.“Masalah stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Faktor penyebabnya kompleks, mulai dari kondisi gizi ibu hamil, pola asuh, hingga lingkungan dan akses sanitasi. Karena itu, diperlukan sinergi semua unsur agar upaya penurunan stunting dapat lebih optimal,” ungkap Subehi. Salah satu perwakilan Kecamatan Metro Utara, Kepala Puskesmas Banjarsari dr. Balkis, menambahkan bahwa selain faktor gizi, terdapat pula penyerta lain yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak. “Kami menemukan kasus-kasus yang berhubungan dengan penyakit penyerta seperti infeksi berulang, anemia, hingga bayi lahir dengan berat rendah. Hal-hal ini menjadi tantangan di lapangan, sehingga pendampingan keluarga menjadi kunci penting,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Shera Artina, S.Gz., Penanggung Jawab Gizi Puskesmas Banjarsari, memaparkan inovasi yang tengah dijalankan di Metro Utara, yakni “Kumbang Lestari” (Kelompok Tumbuh Kembang Kelurahan Banjarsari). Program ini dibentuk untuk memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak melalui tim pelaksana yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. “Kumbang Lestari menjadi wadah untuk mengawal anak-anak berisiko stunting dengan pendekatan lebih intensif, mulai dari pendampingan keluarga, penyuluhan gizi, hingga rujukan bila diperlukan,” jelas Shera. Meski berbagai langkah telah ditempuh, tantangan tetap ada. Antara lain, masih ditemui ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), balita yang tidak rutin datang ke posyandu, hingga rendahnya kepatuhan kontrol kesehatan setelah mendapat rujukan. Belum lagi faktor lingkungan, seperti kualitas air minum rumah tangga yang masih memerlukan perhatian. Melalui lokmin ini, seluruh kecamatan di Kota Metro berkomitmen memperkuat koordinasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta menjalankan intervensi secara berkesinambungan. Pemerintah berharap, dengan kerja bersama, angka stunting di Kota Metro dapat terus ditekan, sehingga lahir generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Kontributor Liputan: Promkes_Metro Eci Lindasari SKM

