Dinas Kesehatan Kota Metro melalui Subtansi Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat terus berupaya dengan melakukan pembinaan untuk meningkatkan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia melalui penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP).

Program ini menjadi sorotan utama dalam transformasi kesehatan dengan tiga pilar utama, yaitu penerapan siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan kesehatan, pendekatan layanan hingga ke tingkat desa/kelurahan dan dusun, serta penguatan pemantauan wilayah melalui digitalisasi dan dashboard situasi kesehatan per desa/kelurahan.

Posyandu Mawar, Kelurahan Ganjar Asri , Wilayah kerja Puskesmas Ganjar Agung, salah satu lokus yang terpilih sebagai tempat pelaksanaan program ILP, menjadi contoh sukses dalam menerapkan konsep integrasi layanan primer.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro Dr. Eko Hendro Saputra,ST.,MKes di wakili Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Diah Meirawati,SKM.,MKes mengungkapkan bahwa kesehatan merupakan aset dan modal utama dalam hidup.
“Kerja akan produktif bila kita sehat. Belajar akan bisa berkonsentrasi bila kita sehat. Untuk itu kita harus selalu menjaga kesehatan tubuh, selain itu juga selalu bersemangat dan berpikir positif dalam mengisi hari,” kata Diah Meira.
Sebagai leanding sektor, lanjut Diah Meira, Dinkes tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan Posyandu ILP, namun membutuhkan bantuan dan peran serta dari berbagai unsur masyarakat demi terciptanya masyarakat Kota Metro yang semakin sehat dan sejahtera.
Sementara Kepala Puskesmas Ganjar Agung Rochayani, SST. M Kes, mengungkapkan bahwa program ini telah membawa perubahan signifikan, terutama dalam jenis pelayanan yang disediakan. Sebelumnya, layanan kesehatan terpisah-pisah, namun dengan ILP, layanan disesuaikan dengan siklus hidup masyarakat, saat ini posyandu telah bertransformasi menjadi Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Artinya posyandu yang dahulu hanya melayani balita dan ibu hamil saja, sekarang posyandu juga melayani satu siklus kehidupan, dari usia 0 tahun hingga lansia.

Bukan hanya yang ‘diantar saja’ (balita atau ibu hamil) yang diperiksa namun juga yang mengantarkan. Dengan demikian akan mempermudah pengambilan kebijakan agar kualitas bidang kesehatan menjadi lebih baik lagi, “ungkap Rochayani”

