Kamis, 23 Mei 2025, Dinas Kesehatan Kota Metro berkomitmennya untuk mendukung program residensi bagi mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat dari Universitas Mitra Indonesia (UMITRA). Program residensi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam praktik pelayanan kesehatan dan meningkatkan kompetensi mereka, khususnya dalam sektor kesehatan masyarakat yang sangat penting untuk mendukung pembangunan kesehatan di Kota Metro. Dalam program ini, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UMITRA tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam praktik langsung, Mereka akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika sistem kesehatan dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung program-program kesehatan masyarakat. Selain residensi di Dinas Kesehatan Kota Metro, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk melaksanakan residensi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro. Ini memberikan mereka pengalaman yang lebih luas dalam memahami tantangan medis yang dihadapi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mahasiswa akan terlibat dalam kegiatan yang mencakup pengelolaan kesehatan, promosi kesehatan, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., MKes, menyatakan, “Program residensi ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di Kota Metro. Melalui kerjasama dengan UMITRA, kami berharap mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat yang mengikuti residensi ini akan memperoleh keterampilan praktis yang diperlukan untuk berkontribusi langsung dalam pelayanan kesehatan di wilayah ini.” Diharapakan program residensi yang dilaksanakan oleh Universitas Mitra Indonesia dengan Dinas Kesehatan Kota Metro akan memberikan dampak besar terhadap pengembangan tenaga kesehatan di Kota Metro, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Semoga Program ini akan terus berlanjut dan diharapkan dapat menjadi model keberhasilan yang dapat direplikasi di wilayah lainnya. “Ungkap” Dr Eko Hendro Dr. Dian Utama Pratiwi Putri, S.Kep., M.Kes, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UMITRA, mengungkapkan , “bahwa Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menerapkan ilmu kesehatan masyarakat dalam konteks nyata. Kami berharap para mahasiswa ini dapat mengisi kebutuhan tenaga kesehatan yang berkualitas di Kota Metro, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat.” Program residensi ini juga bertujuan untuk mempersiapkan lulusan UMITRA agar memiliki keahlian yang lebih komprehensif, tidak hanya dalam bidang teori, tetapi juga dalam keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Lulusan yang mengikuti program ini diharapkan bisa langsung terjun dan berkontribusi di fasilitas kesehatan, baik di Dinas Kesehatan Kota Metro, RSUD Ahmad Yani, maupun fasilitas kesehatan lainnya di Kota Metro. Dengan adanya kerjasama antara Dinas Kesehatan Kota Metro dan Universitas Mitra Indonesia, diharapkan dapat mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya kesehatan masyarakat. Program residensi ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan Magister Kesehatan Masyarakat dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih baik. Ke depannya, diharapkan bahwa program residensi ini akan terus berkembang, memberi kesempatan bagi lebih banyak mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di lapangan, dan pada akhirnya memperkuat sistem kesehatan. Kontributor Liputan :Promkes Dinkes Metro/ Eci Linda
Dinas Kesehatan Kota Metro Tanggap Dugaan Keracunan Pangan di SDN 7 Metro Pusat: Belum Mengarah pada KLB
Metro, 9 Mei 2025 — Dinas Kesehatan Kota Metro menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menanggapi laporan dugaan keracunan pangan yang terjadi di SDN 7 Metro Pusat pada Jumat pagi. Sebanyak 12 siswa kelas 3B mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan jajanan dari kantin sekolah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, mengatakan bahwa begitu menerima laporan, pihaknya langsung menggerakkan tim tanggap yang terdiri dari Puskesmas Yosomulyo, Subtansi Surveilans, dan Subtansi Kesehatan Lingkungan. “Kami mengedepankan deteksi cepat dan lintas koordinasi. Tim surveilans bergerak untuk penyelidikan epidemiologi, tim kesehatan lingkungan melakukan pengawasan makanan, dan Puskesmas Yosomulyo langsung terjun memberikan layanan medis kepada siswa yang bergejala,” ujar Dr. Eko. Peristiwa bermula sekitar pukul 09.00 WIB, ketika siswa kelas 3B mulai mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi goreng, telur orak-arik, acar timun, buah semangka, dan susu kotak. Tidak lama kemudian, satu siswa mengeluhkan mual dan muntah, diikuti oleh 11 siswa lainnya. Beberapa dari mereka juga diketahui sebelumnya membeli jajanan dari kantin sekolah seperti sosis tusuk, cilung, permen jeli, cimol, dan es teh. Meski demikian, dari total 316 siswa penerima MBG, hanya 12 siswa dari satu kelas yang menunjukkan gejala. Mayoritas siswa mengaku merasa mual setelah mencium bau muntahan temannya, yang diduga memicu reaksi psikologis berantai. Puskesmas Yosomulyo menjadi unit pertama yang melakukan tindakan cepat di lokasi. Tim medis langsung memeriksa kondisi anak-anak dan memberikan penanganan awal berupa obat anti mual (domperidon). Seluruh anak dalam kondisi umum yang baik dan tidak ditemukan gejala berat. Sementara itu, Tim Subtansi Surveilans melakukan penyelidikan epidemiologi guna menelusuri pola gejala dan potensi penyebab. Subtansi Kesehatan Lingkungan yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan keamanan pangan, termasuk memeriksa jajanan sekolah dan sistem penyajian MBG langsung memberikan edukasi kepada pihak sekolah. “Kami pastikan seluruh mekanisme respon berjalan sesuai protokol. Sampel makanan MBG juga sudah disimpan di bank sampel pangan di SPPG MBG Metro Pusat 1 untuk pemantauan lanjutan,” tambah Dr. Eko. Hingga saat ini, kejadian ini belum mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan. Tim Dinas Kesehatan masih terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada pihak sekolah agar pengawasan makanan lebih ketat, baik dari MBG maupun kantin. “Kami bersyukur respons cepat tim kami dapat meredam kekhawatiran. Ini bukti sinergi antara layanan kesehatan primer dan Dinas Kesehatan berjalan efektif,” tutup Dr. Eko. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro / E.Linda
Dinas Kesehatan Kota Metro Tindak Cepat Dugaan KLB Keracunan Pangan di SDN 10: Surveilans dan Kesehatan Lingkungan Bergerak Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
Metro, 8 Mei 2025 — Sebanyak 14 siswa SDN 10 Metro Timur dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan pangan usai mengonsumsi susu kedelai yang dijual di lingkungan sekolah. Kejadian yang menggemparkan ini terjadi pada Kamis pagi (8/5), dan langsung mendapatkan respons cepat dari Dinas Kesehatan Kota Metro. Dalam hitungan jam setelah laporan diterima, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, langsung menginstruksikan tim gabungan dari Subtansi Surveilans dan Subtansi Kesehatan Lingkungan untuk turun ke lokasi guna melakukan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh. Langkah cepat ini merupakan bentuk komitmen Dinas Kesehatan dalam perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dasar yang menjadi kelompok rentan. Dalam proses penanganan awal, Dinas Kesehatan juga langsung berkoordinasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Lampung. Setelah dihubungi oleh tim Dinas Kesehatan, BPOM bergerak cepat dan langsung turun ke SDN 10 pada hari kejadian. Mereka secara langsung melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman yang diduga menjadi sumber keracunan. Sampel yang diambil antara lain susu kedelai, es teh, cilor, bakso tusuk sambal, gorengan, hingga saus sambal. Sampel-sampel tersebut kini tengah melalui proses uji laboratorium di BPOM untuk mengetahui kandungan bahan, kemungkinan kontaminasi, serta faktor lain yang bisa menyebabkan keracunan. Subtansi Surveilans bertanggung jawab dalam mengidentifikasi pola dan potensi sumber penyebab kejadian luar biasa (KLB), dengan melakukan wawancara terstruktur kepada siswa, guru, penjaga kantin, dan pihak terkait. Tim ini juga memverifikasi kronologi serta jumlah kasus untuk memastikan bahwa insiden tersebut memenuhi kriteria KLB. Sementara itu, tim dari Subtansi Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengambilan sampel makanan dan minuman yang beredar di lingkungan sekolah. Dalam kasus ini, sampel susu kedelai, es teh, cilor, bakso sambal, gorengan, dan saus sambal diambil untuk uji laboratorium. Semua sampel telah dikirim ke BPOM Provinsi Lampung untuk dianalisis lebih lanjut, guna memastikan apakah terjadi kontaminasi bakteri, cemaran kimia, atau penyimpangan dalam proses produksi dan penyajian. Dr. Eko Hendro Saputra menegaskan bahwa penyelidikan epidemiologi ini tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab pasti keracunan, tetapi juga sebagai dasar penguatan pengawasan makanan jajanan di sekolah. “Kami mendorong seluruh sekolah agar hanya menyediakan makanan dan minuman yang telah melalui proses verifikasi dan aman dikonsumsi. Dinas Kesehatan tidak akan tinggal diam bila ada risiko yang mengancam keselamatan anak-anak kita,” tegasnya. Beliau juga menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik penitipan makanan oleh wali murid yang tidak melalui pengawasan ketat. Kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan sekolah dalam memastikan keamanan pangan di lingkungan pendidikan. Dinas Kesehatan juga memastikan bahwa seluruh siswa yang terdampak telah mendapatkan perawatan yang diperlukan, baik di Puskesmas maupun di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro. Pemantauan kesehatan pasca-kejadian terus dilakukan oleh petugas surveilans lapangan. Selain itu, tim kesehatan lingkungan akan melakukan pembinaan terhadap pihak sekolah dan kantin, serta mendorong penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan yang lebih ketat. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pengawasan makanan di sekolah tidak bisa dianggap sepele. Peran aktif dinas kesehatan, seperti yang ditunjukkan oleh Dinkes Kota Metro, sangat vital dalam memastikan lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi generasi penerus bangsa. Penyelidikan epidemiologi yang cepat dan terkoordinasi menunjukkan bahwa tata kelola respons KLB di Kota Metro berjalan efektif, dan harus terus diperkuat ke depannya. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/E.Linda
Upaya Dinas Kesehatan Kota Metro Tingkatkan Pelayanan Bayi Baru Lahir: “Eko Hendro Gelar Peningkatan Kapasitas Nakes Secara Hybrid”
Metro, 28 April 2025 – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bayi dan balita, Dinas Kesehatan Kota Metro mengadakan pertemuan dengan tema “Peningkatan Kapasitas Nakes tentang Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita.” Acara ini berlangsung dalam metode hybrid, menggabungkan pertemuan online dan offline, guna memastikan akses yang lebih luas bagi para peserta di berbagai tempat. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Senin, 28 April 2025 ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, S.T., M.Kes. Dalam sambutannya, Dr. Eko Hendro Saputra menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para tenaga kesehatan (nakes) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan bayi dan balita di Kota Metro. “Melalui pertemuan ini, kami berharap dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan nakes dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal bagi bayi dan balita, sebagai upaya untuk Menuju Generasi Emas 2045 “ ujar Eko Hendro” Diah Meirawati, SKM., M.Kes, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro, juga memberikan pemaparan terkait pentingnya peran nakes dalam menjaga kesehatan bayi dan balita. “Kegiatan ini adalah salah satu langkah nyata kami dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesehatan anak, khususnya bayi dan balita. Dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, diharapkan dapat mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan,” ujar Diah. Sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendukung kesehatan bayi baru lahir, kegiatan ini juga berfungsi untuk menunjang pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) yang akan dilaksanakan pada 1 Mei 2025. Program ini bertujuan untuk melaksanakan skrining kesehatan pada bayi baru lahir, yang melibatkan pemeriksaan yang komprehensif untuk mendeteksi berbagai kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Pemeriksaan skrining ini meliputi deteksi dini terhadap beberapa masalah kesehatan serius, termasuk gangguan pada kelenjar tiroid yang dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, penyakit jantung bawaan yang bisa berpotensi fatal jika tidak segera ditangani, serta gangguan pada kelenjar adrenal yang dapat mempengaruhi produksi hormon. Selain itu, skrining juga mencakup pengujian untuk mendeteksi defisiensi enzim yang dapat menyebabkan anemia, pemeriksaan pendengaran untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi yang dapat menghambat perkembangan bahasa, serta pemeriksaan mata pada bayi prematur untuk mendeteksi kemungkinan kerusakan mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat melaksanakan skrining dengan tepat dan efektif, sehingga dapat mendeteksi kelainan pada bayi sedini mungkin dan memberikan intervensi yang diperlukan untuk mencegah atau mengurangi dampak jangka panjang. Pertemuan ini melibatkan berbagai peserta dari sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Kota Metro, termasuk RSUD Ahmad Yani Metro dan puskesmas lainnya. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh berbagai praktisi kesehatan, termasuk tenaga medis dan paramedis yang terlibat langsung dalam penanganan kesehatan anak-anak. Dengan tema yang sangat relevan di tengah upaya besar dalam meningkatkan kualitas hidup anak di Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat lokal. Acara ini juga menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait implementasi praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan anak, yang diharapkan dapat diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan di Kota Metro. Dinas Kesehatan Kota Metro terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bayi dan balita, guna mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik di masa depan. Kontributor Liputan : Eci Lindasari_Promkes Dinkes Metro
Monev Dinkes Provinsi Lampung Substansi P2PM: Harapkan Dinkes Metro Pertahankan Capaian SPM TB dan HIV di Tahun 2025”
Metro – Pada 23 April 2025, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) terkait Program P2PM (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Terintegrasi) di Dinas Kesehatan Kota Metro. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian serta efektivitas pelaksanaan program yang telah berjalan di Kota Metro, khususnya dalam upaya pengendalian penyakit menular, bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kota Metro. Dalam acara tersebut, Otta Nur Kirana, SKM., MKM, yang merupakan salah satu perwakilan tim P2PM dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, mengungkapkan bahwa pencapaian Dinas Kesehatan Kota Metro dalam program TB dan HIV sangat menggembirakan. Dinkes Kota Metro berhasil mencapai target untuk dua program utama yang masuk dalam SPM,( Standar Pelayanan Minimal) di subtansi P2PM, yaitu Tuberkulosis (TB) dan HIV. “Pencapaian Dinas Kesehatan Kota Metro dalam penanggulangan TB dan HIV menunjukkan hasil yang sangat baik. Kami mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh Dinkes Metro, dan pencapaian ini menjadi contoh bagi kabupaten/kota lainnya di Provinsi Lampung,” ujar Otta. Irawesi Afif, Ketua Tim Subtansi P2PM (Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular) Dinas Kesehatan Kota Metro, mengungkapkan bahwa meskipun Dinkes Kota Metro Subtansi P2PM telah menunjukkan hasil yang baik, namun tantangan tetap ada. “Dinas Kesehatan Kota Metro terus berusaha untuk meningkatkan program-program yang ada di subtansi P2PM, dan meskipun hasilnya cukup baik dibandingkan dengan kabupaten lainnya, kami sadar masih ada ruang untuk perbaikan. Oleh karena itu, kami akan terus berupaya mempertahankan pencapaian ini dan berfokus pada peningkatan kinerja di tahun 2025,” jelas Irawesi. Verawati Nasution, SKM., MKes, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Metro, mengungkapkan bahwa tantangan dalam pelaksanaan program P2PM masih ada, terutama dalam hal pengendalian penyakit menular. “Kami menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan pengendalian penyakit menular yang masih menjadi masalah di beberapa kelurahan di Kota Metro. Namun, kami tetap optimis bahwa dengan kerjasama yang kuat antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, kita dapat mengatasi berbagai tantangan dalam pengendalian penyakit ini,” jelas Verawati. Sebagai bagian dari evaluasi, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung meminta Dinas Kesehatan Kota Metro dan kabupaten lainnya untuk mempertahankan kinerja dan capaian yang telah diperoleh. “Kami berharap semua program yang telah berjalan dengan baik dapat terus dipertahankan, terutama dalam hal pencegahan dan pengendalian penyakit menular, karena ini adalah bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat di Lampung,” ujar Otta menutup sesi Monev. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/ Eci Lindasari,SKM
Bidang Kesmas Kota Metro Maksimalkan Teknologi untuk Evaluasi Capaian Kesehatan Masyarakat”
Metro, April 2025 — Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Metro, Dinas Kesehatan Kota Metro mengadakan kegiatan Verifikasi dan Evaluasi Data Triwulan I (TW I) Capaian Indikator Program Bidang Kesehatan Masyarakat yang akan dilaksanakan melalui platform digital Zoom. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh data yang tercatat dan dilaporkan terkait program-program kesehatan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Acara ini akan dilaksanakan pada Senin, 21 April 2025, dan dijadwalkan untuk berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, guna mempermudah koordinasi dan komunikasi antar instansi terkait di tengah keterbatasan jarak. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, SKM., MKes, yang diwakili oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Diah Meirawati, SKM., MKes, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk memantau dan mengevaluasi data terkait dengan beberapa program kesehatan masyarakat yang sedang berjalan, seperti Program Kesehatan Lingkungan (Kesling) dan Kesejahteraan (Kesjor), Program Promosi Kesehatan, Program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), serta Program Gizi dan Usia Produktif dan Lanjut Usia (Lansia). “Melalui kegiatan ini, kami memanfaatkan teknologi digital Zoom untuk mempermudah komunikasi dan integrasi seluruh indikator data yang dimiliki oleh berbagai program kesehatan. Hal ini sangat penting, karena dalam dunia digital saat ini, semua data harus terhubung dengan baik agar dapat digunakan untuk perencanaan dan evaluasi yang akurat dan tepat,” kata Diah Meira Pentingnya kegiatan ini tidak hanya terbatas pada evaluasi data, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan kesehatan di Kota Metro, terutama dalam hal memastikan bahwa seluruh program kesehatan di lapangan berjalan efektif dan efisien. Data yang telah diverifikasi ini akan menjadi acuan untuk perbaikan dan peningkatan kebijakan kesehatan di masa mendatang. Untuk mempermudah proses verifikasi dan evaluasi, kegiatan ini akan dibagi ke dalam beberapa breakout room yang masing-masing akan menangani fokus program-program kesehatan tertentu. Setiap tim akan bekerja secara terpisah, sesuai dengan sektor masing-masing, untuk melakukan desk data bersama Puskesmas yang relevan:1. Tim Kesehatan Lingkungan (Kesling): Fokus pada verifikasi data program Kesehatan Lingkungan.2. Tim Promosi Kesehatan (Promkes): Memeriksa dan mengevaluasi data terkait program promosi kesehatan masyarakat.3. Tim Gizi: Evaluasi terkait program gizi masyarakat, termasuk data mengenai penyuluhan dan pemberian suplemen gizi.4. Tim Usia Produktif dan Lansia: Berfokus pada program kesehatan usia produktif dan layanan kesehatan untuk lansia.5. Tim Kesehatan Ibu dan Anak (KIA): Verifikasi data terkait kesehatan ibu dan anak, termasuk pemantauan program KIA. Setiap tim akan melakukan diskusi dan evaluasi data dengan Puskesmas terkait di breakout room mereka masing-masing, untuk memastikan kualitas data yang akurat dan sesuai dengan standar yang berlaku. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan partisipasi semua pihak terkait, agar lebih proaktif dalam penyampaian informasi dan feedback dalam setiap program kesehatan masyarakat yang ada di Kota Metro. Diharapkan bahwa melalui evaluasi dan verifikasi data yang cermat, Dinas Kesehatan Kota Metro dapat terus memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih terkoordinasi untuk seluruh masyarakat. Kontributor Liputan : Promkes Dinkes Metro / E.L
Kunjungan Pembinaan Posyandu di Metro: Dinkes Pantau Langsung Implementasi 25 Kompetensi Kader
Metro, 9 April 2025 — Dinas Kesehatan Kota Metro melalui Bidang Kesehatan Masyarakat, Substansi Promosi Kesehatan, melaksanakan kunjungan lapangan ke Posyandu Kenanga yang berlokasi di Kelurahan Hadimulyo Barat, wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari agenda serius untuk memastikan kualitas layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan sesuai standar. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan pembinaan terhadap capaian pelayanan Posyandu sekaligus memantau secara langsung implementasi 25 kompetensi kader Posyandu, sebuah instrumen penting dalam menjamin mutu pelayanan dasar bagi ibu dan anak di tingkat komunitas. Diah Meirawati, SKM., M.Kes., selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan preventif-promotif, dan peran kader tidak bisa dianggap remeh. “Kami tidak sedang mencari yang terbaik untuk diberi penghargaan. Ini adalah bentuk pembinaan menyeluruh. Kami ingin tahu secara langsung, apakah kader memahami tugas-tugasnya, bagaimana mereka menjalankan 25 kompetensi yang ditetapkan, dan apa kendala yang mereka hadapi di lapangan,” ujar Diah. Sebagaimana diketahui, 25 kompetensi kader mencakup aspek penimbangan balita, pencatatan, pengukuran status gizi, pemberian KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi), hingga pelaporan kegiatan. Semua itu adalah bagian integral dari siklus pelayanan Posyandu. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menggugah kembali pentingnya peran kader sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Melalui pembinaan langsung ini, Dinas Kesehatan berharap kualitas layanan Posyandu tidak hanya berjalan, tetapi terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. “Kami juga akan merumuskan tindak lanjut dari hasil monitoring ini dalam bentuk pelatihan atau pembekalan tambahan bagi kader, agar kompetensi mereka terus terasah,” tambah Diah. Di tengah tantangan perubahan perilaku masyarakat, digitalisasi data, dan tuntutan pelayanan yang semakin kompleks, kehadiran kader Posyandu yang kompeten menjadi semakin krusial. Kota Metro, melalui pembinaan semacam ini, menunjukkan komitmen bahwa investasi terbaik untuk kesehatan masyarakat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten—oleh para kader yang bekerja dengan hati.
Kota Metro Bersiap Hadapi Penilaian Kota Sehat 2025: Dinas Kesehatan Matangkan Persiapan
Kota Metro – Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Kesehatan menggelar pertemuan koordinasi dalam rangka persiapan menghadapi Penilaian Kota Sehat 2025. Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 11 Maret 2025, di Aula Dinas Kesehatan Kota Metro ini dihadiri oleh berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Sekretaris Daerah Kota Metro, Bangkit Haryo Utomo, dalam surat undangan resmi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Petunjuk Teknis Penilaian Kabupaten/Kota Sehat yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, menegaskan bahwa persiapan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Kota Sehat bukan sekadar program, tetapi merupakan komitmen berkelanjutan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari lingkungan, pelayanan kesehatan, hingga kesejahteraan sosial,” ujarnya. Dr. Eko juga menyoroti bahwa dalam penilaian tahun ini, Kota Metro menargetkan peningkatan skor dari tahun sebelumnya dengan mengoptimalkan peran lintas sektor dan partisipasi masyarakat. “Kami ingin memastikan bahwa seluruh indikator dalam 9 tatanan Kota Sehat dapat terpenuhi dengan baik, termasuk aspek sanitasi, perumahan layak, serta pola hidup sehat masyarakat,” tambahnya. Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Diah Meirawati, SKM., M.Kes, menjelaskan bahwa keberhasilan Kota Metro dalam penilaian Kota Sehat sangat bergantung pada sinergi antara OPD dan elemen masyarakat. “Kami sudah mengidentifikasi indikator-indikator yang masih perlu diperbaiki dan akan mengintensifkan koordinasi lintas sektor agar persiapan ini lebih optimal,” paparnya. Diah juga menekankan pentingnya dokumen dan bukti pendukung dalam proses penilaian. “Setiap OPD yang bertanggung jawab atas indikator tertentu harus memastikan kelengkapan dokumen sebagai bahan evaluasi. Kita ingin membuktikan bahwa Kota Metro memang layak mendapatkan predikat Kota Sehat dengan kerja nyata, bukan hanya sekadar administrasi,” tambahnya. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan seluruh perangkat daerah yang terlibat dapat memahami perannya dalam mendukung suksesnya penilaian Kota Sehat 2025. Pemerintah Kota Metro optimistis dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan peringkatnya dalam skala nasional. “Kami berharap masyarakat juga ikut berpartisipasi dalam mewujudkan Kota Sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan pola hidup sehat, dan memanfaatkan layanan kesehatan yang telah disediakan,” tutup Dr. Eko. Dengan kesiapan yang matang dan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat, Kota Metro bertekad untuk terus menjadi daerah yang sehat, nyaman, dan berkualitas bagi warganya.
Dinkes Metro Gencar Turun Langsung Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat SDIDTK
Metro, 18 Februari 2025 – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Metro terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya dalam mempersiapkan generasi penerus yang sehat dan cerdas. Melalui Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Metro melaksanakan kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) secara rutin setiap hari sesuai jadwal di berbagai wilayah. Hari ini, kegiatan SDIDTK dilaksanakan oleh Puskesmas Tejo Agung di TK Negeri Pembina, Metro Timur. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro, Diah Meirawati, SKM., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memantau status pertumbuhan dan perkembangan balita serta anak pra-sekolah. “Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan terpantaunya status pertumbuhan anak, seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, serta mendeteksi secara dini potensi penyimpangan tumbuh kembang,” ujar Diah Meira Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan SDIDTK dilakukan bergiliran oleh puskesmas sesuai jadwal. “Hari ini giliran Puskesmas Tejo Agung yang melaksanakan kegiatan ini. Setiap puskesmas memiliki jadwal untuk menjalankan program SDIDTK di wilayah kerja masing-masing,” tambahnya. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala TK Negeri Pembina Metro Timur, Miswati, S.Pd. Ia menyatakan bahwa program SDIDTK yang rutin dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Metro bersama Puskesmas Tejo Agung sangat bermanfaat bagi pemantauan tumbuh kembang anak didiknya. “Kami merasa senang dengan adanya kegiatan ini. Pendampingan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas Tejo Agung sangat membantu kami dalam memantau kesehatan dan perkembangan anak-anak di sekolah,” ungkapnya. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, tes daya lihat dan daya dengar, serta deteksi tumbuh kembang menggunakan metode kuisioner SDIDTK. Orang tua dan guru juga diberikan edukasi terkait pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala. “Kami ingin memastikan bahwa jika ada penyimpangan tumbuh kembang, dapat segera terdeteksi dan dilakukan intervensi dini,” jelas Diah Meira Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis Dinas Kesehatan Kota Metro dalam memastikan tumbuh kembang anak-anak berada dalam kondisi optimal, mendukung terwujudnya generasi penerus yang sehat dan cerdas. Diah Meirawati juga menegaskan bahwa program SDIDTK akan terus dilaksanakan secara berkala di seluruh wilayah Kota Metro. “Kami berkomitmen untuk menjangkau semua anak di Kota Metro, memastikan mereka mendapatkan hak atas kesehatan dan tumbuh kembang yang optimal,” pungkasnya. Kegiatan ini menjadi bukti nyata keseriusan Dinas Kesehatan Kota Metro dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung pencapaian target nasional di bidang kesehatan masyarakat. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/ Eci Lindasari, SKM
AKHI dan Dinkes Kota Metro Gelar ‘AKHI Fun Walk’ untuk Skrining Kesehatan dan Pengukuran Kebugaran Calon Jamaah Haji 2025
Metro, 8 Februari 2025 – Sebagai bagian dari persiapan ibadah haji yang optimal, Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia (AKHI) Cabang Kota Metro bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Metro menggelar kegiatan skrining kesehatan dan pengukuran kebugaran bagi calon jamaah haji (CJH) Kota Metro 2025. Acara yang berlangsung di Taman Merdeka Kota Metro ini diikuti oleh 322 calon jamaah haji yang akan berangkat pada tahun 2025. Sebelum melakukan pengukuran kebugaran fisik, para calon jamaah haji terlebih dahulu mengikuti tahap skrining kesehatan. Skrining dimulai dengan pengisian formulir Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q). Formulir ini bertujuan untuk mengetahui apakah seorang calon jamaah haji layak untuk mengikuti pengukuran kebugaran. PAR-Q membantu dalam menilai apakah calon jamaah haji memiliki kondisi medis atau gangguan kesehatan tertentu yang dapat mempengaruhi kemampuan fisik mereka. Budi Kurniawati, Amd Kep, Ketua Tim Kerja Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Kota Metro, mengungkapkan bahwa pengisian formulir PAR-Q ini sangat penting untuk memastikan keselamatan para calon jamaah haji selama tes kebugaran. “Formulir ini bertujuan untuk memastikan bahwa peserta yang mengikuti pengukuran kebugaran dalam kondisi fisik yang aman, tanpa risiko kesehatan yang dapat membahayakan,” ujar Budi. Setelah mengikuti skrining kesehatan, para calon jamaah haji melanjutkan kegiatan pengukuran kebugaran dengan menggunakan metode Rockport. Metode ini digunakan untuk mengukur kebugaran jantung dan paru-paru dengan cara jalan cepat atau lari secara konstan sejauh 1600 meter. Desy Eva Rohmawati, SKM, Katim Substansi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga pada Dinas Kesehatan Kota Metro, menjelaskan, “Semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak 1600 meter, semakin baik status kebugarannya. Untuk peserta berusia 18 hingga 59 tahun, kami menggunakan metode Rockport, sementara untuk usia 60 tahun ke atas, kami menggunakan metode jalan 6 menit.” Setelah tes kebugaran selesai, hasilnya akan menunjukkan kadar volume oksigen yang digunakan peserta selama tes, serta memberikan rekomendasi kebugaran sesuai dengan kondisi fisik mereka. “Yang diukur dalam tes ini bukan jarak, melainkan waktu tempuhnya. Peserta harus berjalan cepat, bukan berjalan santai,” kata Desy. Ini menunjukkan bahwa kecepatan dan ketahanan fisik calon jamaah haji adalah faktor penting dalam pengukuran kebugaran. Rekomendasi olahraga yang diberikan kepada peserta didasarkan pada hasil tes kebugaran mereka. Jika kebugaran mereka kurang optimal, mereka disarankan untuk melakukan olahraga secara rutin yang sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing. Kesiapan fisik menjadi salah satu aspek penting dalam persiapan ibadah haji. Selain kesiapan mental dan spiritual, kondisi tubuh yang bugar sangat dibutuhkan untuk menjalani aktivitas fisik yang intens, seperti berjalan jauh, tawaf, dan sa’i. Dengan adanya kegiatan skrining dan pengukuran kebugaran ini, calon jamaah haji diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih matang untuk menjalani ibadah haji. “Kami ingin memastikan para jamaah haji Kota Metro tidak hanya siap secara spiritual, tetapi juga secara fisik. Melalui kegiatan ini, mereka bisa lebih siap menghadapi tantangan fisik yang ada di Tanah Suci,” tutup Desy Eva Rohmawati. Selain pengukuran kebugaran, para peserta juga mendapatkan edukasi tentang istita’ah, yang merupakan kesanggupan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Edukasi dengan tema ‘Istita’ah Bugar dan Sehat Menuju Haji’ disampaikan oleh dr. Agung Budi Prasetyo, Sp. PD, yang mengingatkan para calon jamaah haji tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik sebelum berangkat haji serta selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Akbar Nafi, SKM, Ketua Tim Kerja Substansi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Metro, juga menyampaikan pentingnya kegiatan edukasi yang telah berlangsung. “Edukasi ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai pentingnya menjaga kesehatan tubuh, tidak hanya sebelum berangkat haji, tetapi juga selama menjalani ibadah di Tanah Suci,” ujar Akbar Nafi. dr. Primalia Sulistiowati, M.Sc., Sp. PK, Ketua Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia (AKHI) Cabang Kota Metro, menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk membantu calon jamaah haji mempersiapkan diri secara fisik. “Kami mengadakan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebugaran fisik bagi calon jamaah haji, sehingga mereka dapat menjalani ibadah haji dengan lebih sehat dan lancar,” ungkap dr. Primalia. Dengan rangkaian kegiatan yang meliputi skrining kesehatan, pengukuran kebugaran, dan edukasi kesehatan, calon jamaah haji Kota Metro diharapkan dapat mempersiapkan diri secara menyeluruh dan melaksanakan ibadah haji dengan lebih lancar dan khusyuk. Laporan Kontributor; Promkes_Dinkes Metro

