Metro – Upaya menjaga kualitas pangan terus digencarkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Metro, Melalui Pelatihan Keamanan Pangan bagi Penjamah Pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dinkes Metro memastikan bahwa pangan yang disajikan bagi masyarakat, khususnya anak sekolah, ibu hamil, dan balita, benar-benar aman dan layak konsumsi. Kegiatan yang digelar Senin (8/9/2025) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarsari, Metro Utara ini merupakan batch ke-14 dan diikuti 47 peserta. Mereka terdiri dari penjamah pangan program MBG serta pelaku usaha makanan seperti katering dan restoran yang ditunjuk untuk menyediakan menu gizi seimbang bagi warga. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, menekankan bahwa keamanan pangan adalah fondasi penting untuk membangun generasi sehat. Ia menegaskan bahwa penyedia makanan bukan sekadar memasak dan menyajikan, melainkan juga bertanggung jawab memastikan proses pengolahan sesuai standar higiene dan sanitasi.“Pangan yang aman akan menjadi benteng pertama bagi kesehatan masyarakat. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan semua penjamah pangan memiliki keterampilan dan kesadaran penuh untuk menjaga mutu makanan,” ujarnya. Senada dengan itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Bdn. Diah Meirawati, S.Tr.Keb, SKM, M.Kes, menyebut pelatihan ini bagian dari komitmen Kota Metro untuk mempertahankan predikat Kota Pangan Aman. Dalam paparannya, ia memperkenalkan konsep 5 kunci keamanan pangan keluarga mulai dari menjaga kebersihan, memisahkan makanan mentah dan matang, mengolah dengan suhu tepat, menjaga penyimpanan, hingga menggunakan bahan dan air yang aman. “Kunci sederhana ini bila diterapkan konsisten akan berdampak besar, tidak hanya di dapur keluarga, tetapi juga di layanan pangan skala kota,” jelasnya. Suasana pelatihan berjalan interaktif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar praktik pengolahan makanan sehari-hari. Beberapa bahkan menceritakan tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga kualitas pangan di sekolah maupun di usaha katering. Salah satu peserta, Rohani, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru dari pelatihan ini.“Selama ini saya sudah berusaha menjaga kebersihan makanan, tapi dari pelatihan ini saya jadi lebih paham cara memisahkan bahan mentah dan matang, juga pentingnya suhu penyimpanan. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk kami yang setiap hari berhadapan langsung dengan makanan anak-anak,” ungkapnya. Pelatihan keamanan pangan ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari penghargaan yang pernah diraih Metro sebagai Kota Pangan Aman. Bagi pemerintah daerah, menjaga standar tersebut bukan sekadar prestasi, tetapi bentuk perlindungan nyata terhadap masyarakat. Apalagi program MBG menyasar kelompok rentan seperti anak sekolah dan balita yang pertumbuhan serta imunitas tubuhnya sangat dipengaruhi asupan gizi. Dengan pelatihan ini, para penjamah pangan diharapkan mampu bekerja lebih profesional, higienis, dan aman dalam setiap proses pengolahan. Ke depan, Dinkes Metro berkomitmen melanjutkan pendampingan dan pengawasan agar setiap makanan yang tersaji benar-benar mendukung tumbuh kembang generasi sehat di Kota Metro. Kontributor liputan: Promkes_Eci Lindasari,SKM
“Semangat Petugas Puskesmas Banjarsari: Rutinitas Kegiatan Posyandu Mawar Merah dan Mawar Putih Sebagai Langkah Preventif Menghadapi Ancaman Penyakit Musim Peralihan”
Senin, 08 September 2025 – Dalam upaya mendukung kesehatan masyarakat, Posyandu Mawar Putih dan Posyandu Mawar Merah yang berada di Kelurahan Banjarsari Kota Metro wilayah kerja Puskesmas Banjarsari melaksanakan kegiatan rutin sebagai bagian dari upaya preventif dan promotif untuk mengatasi ancaman penyakit yang berpotensi meningkat selama peralihan musim. Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan di tengah perubahan musim yang terjadi, terutama pada musim peralihan dari kemarau ke penghujan. “Kegiatan ini sangat penting sebagai langkah preventif dalam menghadapi ancaman penyakit yang bisa meningkat selama musim hujan,” ujar dr. Balkis. “Musim peralihan ini sering kali membawa tantangan tersendiri bagi kesehatan, di mana imunitas tubuh kita cenderung menurun akibat perubahan suhu yang drastis.” Tiga ancaman penyakit yang harus diwaspadai selama musim peralihan tersebut adalah diare, influenza, dan demam berdarah dengue (DBD). Ketiganya sering kali terjadi dalam jumlah yang lebih besar saat musim hujan, mengingat potensi penyebaran yang lebih tinggi di lingkungan yang lembap dan padat penduduk. Menurut dr. Balkis, influenza dapat meningkat saat suhu udara mengalami perubahan drastis. “Suhu yang berubah-ubah dapat membuat sistem kekebalan tubuh kita menurun, sehingga memudahkan virus influenza untuk menyebar dengan cepat,” jelasnya. Penyakit ini sangat mudah menular di kalangan masyarakat yang cenderung menghabiskan waktu di tempat-tempat yang lebih tertutup selama musim hujan. Penyakit DBD juga menjadi perhatian utama dalam periode ini, mengingat faktor lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, penyebar virus dengue. “Faktor pencemaran air menjadi penyumbang utama pembawa virus dan jentik nyamuk. Hal ini harus diwaspadai, terutama di musim hujan, karena potensi berkembang biaknya nyamuk lebih besar,” ujar dr. Balkis. Selain itu, diare juga dapat meningkat karena pencemaran air yang sering terjadi selama musim hujan. Sanitasi yang buruk dapat memperburuk kondisi ini. “Kami mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan memastikan ketersediaan air bersih yang dapat mencegah penyebaran penyakit melalui air,” tambahnya. Kegiatan posyandu ini juga berfungsi sebagai tempat untuk memberikan edukasi kepada orang tua, khususnya mengenai cara menjaga kebersihan lingkungan dan memperkuat daya tahan tubuh anak-anak mereka. Posyandu Mawar Putih dan Mawar Merah secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, memberikan imunisasi, serta edukasi terkait pentingnya menjaga pola makan dan pola hidup sehat. “Posyandu tidak hanya sebagai tempat untuk memeriksa kesehatan anak, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyakit, termasuk bagaimana cara mencegah diare, influenza, dan DBD,” kata dr. Balkis. Kegiatan di Posyandu ini akan terus dilakukan sebagai upaya berkelanjutan dalam menjaga kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas Banjarsari. Dengan langkah-langkah preventif dan promotif yang tepat, diharapkan angka kejadian penyakit dapat diminimalisir, terutama selama musim peralihan ini. Kegiatan Posyandu Mawar Putih dan Mawar Merah yang dilaksanakan di Puskesmas Banjarsari pada Senin, 08 September 2025 ini merupakan bagian dari upaya besar untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, terutama di tengah perubahan musim. Ancaman penyakit seperti diare, influenza, dan DBD harus diwaspadai, dan langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat membantu mengurangi dampak dari penyakit-penyakit tersebut. Ke depannya, diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk mendukung kesehatan masyarakat yang lebih baik. Liputan Kontributor : Promkes_Eci Lindasari,SKM
Cek Kesehatan Gratis & Edukasi MSD: Aksi Nyata Pengabdian Masyarakat Unila bersama Puskesmas Banjarsari & Karangrejo di Metro”
Metro Utara, 04 September 2025 – Dalam upaya mendukung kesehatan petani dan ketahanan pangan, Universitas Lampung Fakultas Kedokteran , Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kota Metro, Dinas kesehatan, dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat bersama Puskesmas Banjarsari dan Karang Rejo Metro, menggelar kegiatan Cek Kesehatan Gratis bagi kelompok tani di Kecamatan Metro Utara, Kota Metro. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan di kalangan petani serta memberikan edukasi terkait Pencegahan Musculoskeletal Disorders (MSD) yang sering dialami petani akibat aktivitas fisik yang berat, bertempat di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Metro Utara. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Metro adalah Hery Wiratno, S.P. di dampingi Ibu Fitri Yanti, S.E., M.M., Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian & Perikanan Kota Metro dan dihadiri oleh Kepala Puskesmas Banjarsari, dr. Balkis, serta Kepala Puskesmas Karang Rejo, Ibu Amrina, S.Tr. Keb. Kegiatan ini merupakan kolaborasi pengabdian masyarakat antara Universitas Lampung dan kedua puskesmas tersebut untuk memberikan layanan kesehatan langsung kepada para petani dan menyampaikan informasi penting mengenai cara pencegahan MSD. Petani adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap Musculoskeletal Disorders (MSD), yang mencakup gangguan pada tulang, sendi, dan otot akibat beban fisik yang berat, posisi tubuh yang tidak ergonomis, serta kegiatan yang dilakukan secara berulang. Gangguan tersebut dapat mengganggu produktivitas mereka dan menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. dr. Balkis, Kepala Puskesmas Banjarsari, menjelaskan, “Petani yang bekerja di lapangan sering kali mengalami kelelahan fisik, cedera otot, atau masalah sendi yang dapat mengurangi kemampuan mereka dalam bekerja. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada mereka tentang cara mencegah masalah kesehatan tersebut, serta pentingnya menjaga postur tubuh yang baik.” Universitas Lampung (Unila) melalui Fakultas Kedokteran berperan aktif dalam kegiatan ini dengan menyelenggarakan penyuluhan kesehatan yang sangat relevan bagi petani. Dr.dr. Fitria Saftarina, M.Sc., Sp.KKLP menyampaikan materi mengenai pencegahan cedera musculoskeletal pada petani. Sementara itu, dr. Jhon Sfatriyadi Suwandi, M.Kes., Sp.ParK dari Fakultas Kesehatan memberikan edukasi terkait kecacingan, masalah kesehatan yang sering dihadapi petani akibat kondisi lingkungan kerja mereka. Para petani yang hadir dalam kegiatan ini mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis yang mencakup pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta pemeriksaan kesehatan secara umum. Program ini memberikan kesempatan kepada para petani untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka secara lebih detail, serta melakukan pencegahan dini terhadap masalah kesehatan. “Saya merasa sangat terbantu dengan adanya cek kesehatan gratis ini, Sekarang kami bisa tahu kondisi tubuh kami dan bagaimana cara mencegah masalah kesehatan,” ujar Pak Joko, salah satu petani yang turut serta dalam kegiatan ini. Ibu Fitri Yanti, Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, mengungkapkan, “Kami sangat mendukung program ini, karena selain membantu meningkatkan ketahanan pangan, kesehatan para petani juga harus menjadi perhatian utama. Petani adalah pahlawan yang bekerja keras untuk memastikan ketahanan pangan negara. Kegiatan seperti ini membantu mereka untuk menjaga kesehatan agar tetap produktif.” Kolaborasi antara Universitas Lampung, Puskesmas Banjarsari, dan Puskesmas Karang Rejo menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara sektor pendidikan dan pelayanan kesehatan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Ibu Amrina, Kepala Puskesmas Karang Rejo, menambahkan, “Program ini sangat bermanfaat bagi petani yang terkadang tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksakan kesehatan mereka. Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.” Kegiatan Cek Kesehatan Gratis ini mendapat sambutan positif dari petani dan diharapkan dapat dilanjutkan secara berkala. Puskesmas Banjarsari dan Karang Rejo Metro, bersama Universitas Lampung, berkomitmen untuk terus memberikan layanan kesehatan kepada petani dan masyarakat di daerah tersebut. Kegiatan Cek Kesehatan Gratis dan penyuluhan tentang Pencegahan Musculoskeletal Disorders (MSD) yang diselenggarakan oleh Universitas Lampung, bersama Puskesmas Banjarsari dan Karang Rejo Metro, adalah langkah nyata dalam meningkatkan kesehatan petani, sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kota Metro. Dengan semakin banyaknya program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, diharapkan akan tercipta masyarakat yang lebih sehat dan produktivitas pertanian yang lebih optimal. Liputan ; Promkes Eci Lindasari
Begini Cara dr. Balkis Pastikan Balita Sehat di Posyandu Banjarsari, Upaya Promotif-Preventif Wujudkan Generasi Sehat” Metro Bahagia
Metro, Jumat (15/08/2025) – Kepedulian terhadap kesehatan generasi penerus ditunjukkan langsung oleh dr. Balkis, Kepala Puskesmas Banjarsari, saat turun ke Posyandu Mekarsari,Kelurahan Banjarsari Kota Metro. Dalam kegiatan ini, ia membagikan vitamin dan obat cacing kepada balita, sebagai bagian dari program perlindungan nutrisi sejak dini. Langkah tersebut bertujuan mencegah kekurangan gizi dan infeksi cacing yang kerap menghambat pertumbuhan fisik serta perkembangan anak. Tidak hanya membagikan, dr. Balkis memastikan setiap balita mendapatkan perhatian sesuai kebutuhan, sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya menjaga asupan gizi dan kebersihan. “Ini bukan sekadar bagi-bagi vitamin atau obat cacing. Ini adalah investasi untuk masa depan anak-anak kita, agar mereka tumbuh sehat, cerdas, dan kuat,” ujar dr. Balkis di sela kegiatan. Tak berhenti di situ, dr. Balkis juga memanfaatkan momentum posyandu untuk mengedukasi masyarakat mengenai Keluarga Berencana (KB), menekankan pentingnya perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi. Edukasi ini dilakukan langsung oleh dr. Mega, yang menyampaikan materi seputar jarak kelahiran ideal, kesehatan ibu, serta manfaat KB bagi kualitas hidup keluarga. Dengan pendekatan ini, orang tua diharapkan tidak hanya peduli pada kesehatan anak hari ini, tetapi juga memiliki perencanaan yang matang untuk kesejahteraan keluarga di masa depan. Aksi di Posyandu Mekarsari ini menjadi cerminan komitmen Puskesmas Banjarsari di bawah kepemimpinan dr. Balkis: hadir di tengah masyarakat, memberikan solusi nyata, dan membangun fondasi kesehatan generasi sejak dini.Produksi Konten / Content Production_Promkes_Eci Lindasari,SKM
Bunda Posyandu Hj. Eni Bambang Berikan Pembinaan dan Dukungan kepada Kader Posyandu Sejahtera VIII dalam Persiapan Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2025
Kota Metro, Senin, 16 Juni 2025, Kelurahan Iringmulyo, Kecamatan Metro Timur, kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dengan menggelar pembinaan intensif bagi kader Posyandu Sejahtera VIII. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menghadapi penilaian Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2025. Dalam kunjungannya, Hj. Eni Bambang, S.IP, selaku Bunda Posyandu Tim Pembina Posyandu dan Sekaligus menjadi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Metro tingkat Kota Metro, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para kader Posyandu Sejahtera VIII. Beliau menekankan pentingnya peran aktif kader dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas gizi ibu dan anak. “Kader Posyandu adalah ujung tombak dalam mewujudkan masyarakat sehat. Melalui pembinaan ini, diharapkan semangat dan komitmen para kader semakin meningkat dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Hj. Eni Bambang. Kegiatan pembinaan ini juga di dihadiri , Ketua GOW Kota Metro, Nidia Irene Rafieq , Asisten I Setda Kota Metro, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Metro, Camat Metro Timur Ferry Handono, S.IP., serta Lurah Iringmulyo Yulina Sari, S.Mn. Selain itu, turut hadir pula Tim Pembina Posyandu dari UPTD Puskesmas Iringmulyo dan Dinas Kesehatan Kota Metro. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari upaya pemerintah Kota Metro dalam mempersiapkan Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2025. Selain aspek posyandu, lomba ini juga menilai berbagai aspek lain seperti Smart Village, e-Government, SIPOLI, sekretariat bersama LKK, perpustakaan, posko bencana, satkamling, omah peluk, TTG biogas, TTG budidaya cacing dan jangkrik, Kampung Inggris, PKBM Permata, bank sampah, dasawisma, dan posyandu. Dengan dukungan penuh dari Bunda Posyandu Kota Metro, diharapkan Posyandu Sejahtera VIII dapat meraih prestasi terbaik dan menjadi inspirasi bagi posyandu lainnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Kontributor Liputan Promkes_Dinkes Metro: Eci Lindasari,SKM
Dinas Kesehatan Kota Metro Dukung Program Residensi Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Mitra Indonesia”
Kamis, 23 Mei 2025, Dinas Kesehatan Kota Metro berkomitmennya untuk mendukung program residensi bagi mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat dari Universitas Mitra Indonesia (UMITRA). Program residensi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam praktik pelayanan kesehatan dan meningkatkan kompetensi mereka, khususnya dalam sektor kesehatan masyarakat yang sangat penting untuk mendukung pembangunan kesehatan di Kota Metro. Dalam program ini, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UMITRA tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam praktik langsung, Mereka akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika sistem kesehatan dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung program-program kesehatan masyarakat. Selain residensi di Dinas Kesehatan Kota Metro, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk melaksanakan residensi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro. Ini memberikan mereka pengalaman yang lebih luas dalam memahami tantangan medis yang dihadapi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mahasiswa akan terlibat dalam kegiatan yang mencakup pengelolaan kesehatan, promosi kesehatan, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., MKes, menyatakan, “Program residensi ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di Kota Metro. Melalui kerjasama dengan UMITRA, kami berharap mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat yang mengikuti residensi ini akan memperoleh keterampilan praktis yang diperlukan untuk berkontribusi langsung dalam pelayanan kesehatan di wilayah ini.” Diharapakan program residensi yang dilaksanakan oleh Universitas Mitra Indonesia dengan Dinas Kesehatan Kota Metro akan memberikan dampak besar terhadap pengembangan tenaga kesehatan di Kota Metro, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Semoga Program ini akan terus berlanjut dan diharapkan dapat menjadi model keberhasilan yang dapat direplikasi di wilayah lainnya. “Ungkap” Dr Eko Hendro Dr. Dian Utama Pratiwi Putri, S.Kep., M.Kes, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UMITRA, mengungkapkan , “bahwa Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menerapkan ilmu kesehatan masyarakat dalam konteks nyata. Kami berharap para mahasiswa ini dapat mengisi kebutuhan tenaga kesehatan yang berkualitas di Kota Metro, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat.” Program residensi ini juga bertujuan untuk mempersiapkan lulusan UMITRA agar memiliki keahlian yang lebih komprehensif, tidak hanya dalam bidang teori, tetapi juga dalam keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Lulusan yang mengikuti program ini diharapkan bisa langsung terjun dan berkontribusi di fasilitas kesehatan, baik di Dinas Kesehatan Kota Metro, RSUD Ahmad Yani, maupun fasilitas kesehatan lainnya di Kota Metro. Dengan adanya kerjasama antara Dinas Kesehatan Kota Metro dan Universitas Mitra Indonesia, diharapkan dapat mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya kesehatan masyarakat. Program residensi ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan Magister Kesehatan Masyarakat dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih baik. Ke depannya, diharapkan bahwa program residensi ini akan terus berkembang, memberi kesempatan bagi lebih banyak mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di lapangan, dan pada akhirnya memperkuat sistem kesehatan. Kontributor Liputan :Promkes Dinkes Metro/ Eci Linda
Dinas Kesehatan Kota Metro Tanggap Dugaan Keracunan Pangan di SDN 7 Metro Pusat: Belum Mengarah pada KLB
Metro, 9 Mei 2025 — Dinas Kesehatan Kota Metro menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menanggapi laporan dugaan keracunan pangan yang terjadi di SDN 7 Metro Pusat pada Jumat pagi. Sebanyak 12 siswa kelas 3B mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan jajanan dari kantin sekolah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, mengatakan bahwa begitu menerima laporan, pihaknya langsung menggerakkan tim tanggap yang terdiri dari Puskesmas Yosomulyo, Subtansi Surveilans, dan Subtansi Kesehatan Lingkungan. “Kami mengedepankan deteksi cepat dan lintas koordinasi. Tim surveilans bergerak untuk penyelidikan epidemiologi, tim kesehatan lingkungan melakukan pengawasan makanan, dan Puskesmas Yosomulyo langsung terjun memberikan layanan medis kepada siswa yang bergejala,” ujar Dr. Eko. Peristiwa bermula sekitar pukul 09.00 WIB, ketika siswa kelas 3B mulai mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi goreng, telur orak-arik, acar timun, buah semangka, dan susu kotak. Tidak lama kemudian, satu siswa mengeluhkan mual dan muntah, diikuti oleh 11 siswa lainnya. Beberapa dari mereka juga diketahui sebelumnya membeli jajanan dari kantin sekolah seperti sosis tusuk, cilung, permen jeli, cimol, dan es teh. Meski demikian, dari total 316 siswa penerima MBG, hanya 12 siswa dari satu kelas yang menunjukkan gejala. Mayoritas siswa mengaku merasa mual setelah mencium bau muntahan temannya, yang diduga memicu reaksi psikologis berantai. Puskesmas Yosomulyo menjadi unit pertama yang melakukan tindakan cepat di lokasi. Tim medis langsung memeriksa kondisi anak-anak dan memberikan penanganan awal berupa obat anti mual (domperidon). Seluruh anak dalam kondisi umum yang baik dan tidak ditemukan gejala berat. Sementara itu, Tim Subtansi Surveilans melakukan penyelidikan epidemiologi guna menelusuri pola gejala dan potensi penyebab. Subtansi Kesehatan Lingkungan yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan keamanan pangan, termasuk memeriksa jajanan sekolah dan sistem penyajian MBG langsung memberikan edukasi kepada pihak sekolah. “Kami pastikan seluruh mekanisme respon berjalan sesuai protokol. Sampel makanan MBG juga sudah disimpan di bank sampel pangan di SPPG MBG Metro Pusat 1 untuk pemantauan lanjutan,” tambah Dr. Eko. Hingga saat ini, kejadian ini belum mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan. Tim Dinas Kesehatan masih terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada pihak sekolah agar pengawasan makanan lebih ketat, baik dari MBG maupun kantin. “Kami bersyukur respons cepat tim kami dapat meredam kekhawatiran. Ini bukti sinergi antara layanan kesehatan primer dan Dinas Kesehatan berjalan efektif,” tutup Dr. Eko. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro / E.Linda
Dinas Kesehatan Kota Metro Tindak Cepat Dugaan KLB Keracunan Pangan di SDN 10: Surveilans dan Kesehatan Lingkungan Bergerak Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
Metro, 8 Mei 2025 — Sebanyak 14 siswa SDN 10 Metro Timur dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan pangan usai mengonsumsi susu kedelai yang dijual di lingkungan sekolah. Kejadian yang menggemparkan ini terjadi pada Kamis pagi (8/5), dan langsung mendapatkan respons cepat dari Dinas Kesehatan Kota Metro. Dalam hitungan jam setelah laporan diterima, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, langsung menginstruksikan tim gabungan dari Subtansi Surveilans dan Subtansi Kesehatan Lingkungan untuk turun ke lokasi guna melakukan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh. Langkah cepat ini merupakan bentuk komitmen Dinas Kesehatan dalam perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dasar yang menjadi kelompok rentan. Dalam proses penanganan awal, Dinas Kesehatan juga langsung berkoordinasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Lampung. Setelah dihubungi oleh tim Dinas Kesehatan, BPOM bergerak cepat dan langsung turun ke SDN 10 pada hari kejadian. Mereka secara langsung melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman yang diduga menjadi sumber keracunan. Sampel yang diambil antara lain susu kedelai, es teh, cilor, bakso tusuk sambal, gorengan, hingga saus sambal. Sampel-sampel tersebut kini tengah melalui proses uji laboratorium di BPOM untuk mengetahui kandungan bahan, kemungkinan kontaminasi, serta faktor lain yang bisa menyebabkan keracunan. Subtansi Surveilans bertanggung jawab dalam mengidentifikasi pola dan potensi sumber penyebab kejadian luar biasa (KLB), dengan melakukan wawancara terstruktur kepada siswa, guru, penjaga kantin, dan pihak terkait. Tim ini juga memverifikasi kronologi serta jumlah kasus untuk memastikan bahwa insiden tersebut memenuhi kriteria KLB. Sementara itu, tim dari Subtansi Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengambilan sampel makanan dan minuman yang beredar di lingkungan sekolah. Dalam kasus ini, sampel susu kedelai, es teh, cilor, bakso sambal, gorengan, dan saus sambal diambil untuk uji laboratorium. Semua sampel telah dikirim ke BPOM Provinsi Lampung untuk dianalisis lebih lanjut, guna memastikan apakah terjadi kontaminasi bakteri, cemaran kimia, atau penyimpangan dalam proses produksi dan penyajian. Dr. Eko Hendro Saputra menegaskan bahwa penyelidikan epidemiologi ini tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab pasti keracunan, tetapi juga sebagai dasar penguatan pengawasan makanan jajanan di sekolah. “Kami mendorong seluruh sekolah agar hanya menyediakan makanan dan minuman yang telah melalui proses verifikasi dan aman dikonsumsi. Dinas Kesehatan tidak akan tinggal diam bila ada risiko yang mengancam keselamatan anak-anak kita,” tegasnya. Beliau juga menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik penitipan makanan oleh wali murid yang tidak melalui pengawasan ketat. Kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan sekolah dalam memastikan keamanan pangan di lingkungan pendidikan. Dinas Kesehatan juga memastikan bahwa seluruh siswa yang terdampak telah mendapatkan perawatan yang diperlukan, baik di Puskesmas maupun di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro. Pemantauan kesehatan pasca-kejadian terus dilakukan oleh petugas surveilans lapangan. Selain itu, tim kesehatan lingkungan akan melakukan pembinaan terhadap pihak sekolah dan kantin, serta mendorong penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan yang lebih ketat. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pengawasan makanan di sekolah tidak bisa dianggap sepele. Peran aktif dinas kesehatan, seperti yang ditunjukkan oleh Dinkes Kota Metro, sangat vital dalam memastikan lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi generasi penerus bangsa. Penyelidikan epidemiologi yang cepat dan terkoordinasi menunjukkan bahwa tata kelola respons KLB di Kota Metro berjalan efektif, dan harus terus diperkuat ke depannya. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/E.Linda
Upaya Dinas Kesehatan Kota Metro Tingkatkan Pelayanan Bayi Baru Lahir: “Eko Hendro Gelar Peningkatan Kapasitas Nakes Secara Hybrid”
Metro, 28 April 2025 – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bayi dan balita, Dinas Kesehatan Kota Metro mengadakan pertemuan dengan tema “Peningkatan Kapasitas Nakes tentang Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita.” Acara ini berlangsung dalam metode hybrid, menggabungkan pertemuan online dan offline, guna memastikan akses yang lebih luas bagi para peserta di berbagai tempat. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Senin, 28 April 2025 ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, S.T., M.Kes. Dalam sambutannya, Dr. Eko Hendro Saputra menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para tenaga kesehatan (nakes) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan bayi dan balita di Kota Metro. “Melalui pertemuan ini, kami berharap dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan nakes dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal bagi bayi dan balita, sebagai upaya untuk Menuju Generasi Emas 2045 “ ujar Eko Hendro” Diah Meirawati, SKM., M.Kes, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Metro, juga memberikan pemaparan terkait pentingnya peran nakes dalam menjaga kesehatan bayi dan balita. “Kegiatan ini adalah salah satu langkah nyata kami dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesehatan anak, khususnya bayi dan balita. Dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, diharapkan dapat mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan,” ujar Diah. Sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendukung kesehatan bayi baru lahir, kegiatan ini juga berfungsi untuk menunjang pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) yang akan dilaksanakan pada 1 Mei 2025. Program ini bertujuan untuk melaksanakan skrining kesehatan pada bayi baru lahir, yang melibatkan pemeriksaan yang komprehensif untuk mendeteksi berbagai kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Pemeriksaan skrining ini meliputi deteksi dini terhadap beberapa masalah kesehatan serius, termasuk gangguan pada kelenjar tiroid yang dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, penyakit jantung bawaan yang bisa berpotensi fatal jika tidak segera ditangani, serta gangguan pada kelenjar adrenal yang dapat mempengaruhi produksi hormon. Selain itu, skrining juga mencakup pengujian untuk mendeteksi defisiensi enzim yang dapat menyebabkan anemia, pemeriksaan pendengaran untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi yang dapat menghambat perkembangan bahasa, serta pemeriksaan mata pada bayi prematur untuk mendeteksi kemungkinan kerusakan mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat melaksanakan skrining dengan tepat dan efektif, sehingga dapat mendeteksi kelainan pada bayi sedini mungkin dan memberikan intervensi yang diperlukan untuk mencegah atau mengurangi dampak jangka panjang. Pertemuan ini melibatkan berbagai peserta dari sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Kota Metro, termasuk RSUD Ahmad Yani Metro dan puskesmas lainnya. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh berbagai praktisi kesehatan, termasuk tenaga medis dan paramedis yang terlibat langsung dalam penanganan kesehatan anak-anak. Dengan tema yang sangat relevan di tengah upaya besar dalam meningkatkan kualitas hidup anak di Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat lokal. Acara ini juga menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait implementasi praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan anak, yang diharapkan dapat diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan di Kota Metro. Dinas Kesehatan Kota Metro terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bayi dan balita, guna mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik di masa depan. Kontributor Liputan : Eci Lindasari_Promkes Dinkes Metro
Monev Dinkes Provinsi Lampung Substansi P2PM: Harapkan Dinkes Metro Pertahankan Capaian SPM TB dan HIV di Tahun 2025”
Metro – Pada 23 April 2025, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) terkait Program P2PM (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Terintegrasi) di Dinas Kesehatan Kota Metro. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian serta efektivitas pelaksanaan program yang telah berjalan di Kota Metro, khususnya dalam upaya pengendalian penyakit menular, bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kota Metro. Dalam acara tersebut, Otta Nur Kirana, SKM., MKM, yang merupakan salah satu perwakilan tim P2PM dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, mengungkapkan bahwa pencapaian Dinas Kesehatan Kota Metro dalam program TB dan HIV sangat menggembirakan. Dinkes Kota Metro berhasil mencapai target untuk dua program utama yang masuk dalam SPM,( Standar Pelayanan Minimal) di subtansi P2PM, yaitu Tuberkulosis (TB) dan HIV. “Pencapaian Dinas Kesehatan Kota Metro dalam penanggulangan TB dan HIV menunjukkan hasil yang sangat baik. Kami mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh Dinkes Metro, dan pencapaian ini menjadi contoh bagi kabupaten/kota lainnya di Provinsi Lampung,” ujar Otta. Irawesi Afif, Ketua Tim Subtansi P2PM (Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular) Dinas Kesehatan Kota Metro, mengungkapkan bahwa meskipun Dinkes Kota Metro Subtansi P2PM telah menunjukkan hasil yang baik, namun tantangan tetap ada. “Dinas Kesehatan Kota Metro terus berusaha untuk meningkatkan program-program yang ada di subtansi P2PM, dan meskipun hasilnya cukup baik dibandingkan dengan kabupaten lainnya, kami sadar masih ada ruang untuk perbaikan. Oleh karena itu, kami akan terus berupaya mempertahankan pencapaian ini dan berfokus pada peningkatan kinerja di tahun 2025,” jelas Irawesi. Verawati Nasution, SKM., MKes, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Metro, mengungkapkan bahwa tantangan dalam pelaksanaan program P2PM masih ada, terutama dalam hal pengendalian penyakit menular. “Kami menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan pengendalian penyakit menular yang masih menjadi masalah di beberapa kelurahan di Kota Metro. Namun, kami tetap optimis bahwa dengan kerjasama yang kuat antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, kita dapat mengatasi berbagai tantangan dalam pengendalian penyakit ini,” jelas Verawati. Sebagai bagian dari evaluasi, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung meminta Dinas Kesehatan Kota Metro dan kabupaten lainnya untuk mempertahankan kinerja dan capaian yang telah diperoleh. “Kami berharap semua program yang telah berjalan dengan baik dapat terus dipertahankan, terutama dalam hal pencegahan dan pengendalian penyakit menular, karena ini adalah bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat di Lampung,” ujar Otta menutup sesi Monev. Kontributor Liputan : Promkes_Dinkes Metro/ Eci Lindasari,SKM

